Bromo – Bani Sun’an in Action

Ketika sebuah keluarga besar wisata alam

Acara ini sebenernya sudah minggu lalu, tapi lagi-lagi baru sempat nulis postingnya. Sudah sejak lama keluarga besar saya, bani Sun’an (nama kakek saya), nggak pernah keluar bareng. Kalau nggak salah, sejak kesehatan nenek saya sudah semakin parah. Waktu kecil dulu, sering banget keluarga besar saya ini jalan-jalan entah kemana, rame-rame. Jadi kangen. Tapi setelah para cucu-cucu udah besar semua, pasti ada aja alasan kenapa nggak bisa keluar bareng.

Acara kali ini pun sebenernya juga dadakan. Hari Sabtu, 6 Maret 2010, waktu rapat tiba-tiba di sms sama nyokap, isinya “nanti malam agenda ke bromo sama mas Didit”. Weks, ndadak amat. Padahal ada rencana kerja tugas 2 hari itu, karena tugas-tugas begitu menumpuknya. Yah, tapi karena sudah lama nggak berlibur, saya iyakan aja. Dengan konsekuensi harus kerja tugas dulu, atau sepulang dari bromo langsung ngelembur.

Nyatanya, sebelum berangkat sama sekali nggak bisa konsen kerja tugas. Akhirnya malah coding nggak jelas, mengalihkan pikiran sejenak daripada kangen seseorang *blush*. Rencananya berangkat tengah malam dari Malang ke tempat sewa jip naek sepeda motor. Kita memang mengincar sunrise sambil berdoa supaya besok pagi langitnya cerah.

Jam 12an malam, saya berangkat ke Wendit, tempat janjian ngumpul sama keluarga yang lain. Saya pikir yang ikutan cuma keluarga inti aja, eh ternyata ada sodara-sodara lain yang ikutan. Wah, enak nih jadi tambah rame. Bayangin aja, 7 sepeda motor. Kalau semua boncengan, berarti ada 15 orang. Loh? Iya, yang satu masih anak-anak, jadi bonceng 3. Tapi waktu baru mau beranjak dari warkop di depat Wendit, ada tanda-tanda nggak baik.

Mas Didit, sepupu cowok paling tua (dan paling gendut) yang bakal bayarin sewa jip, di”telek”i sama kelelawar. Haha, pertama sih ketawa-ketawa aja. Tapi ternyata ada kejadian yang cukup tak terduga.

Di tengah perjalanan menuju tumpang, sepeda motor yang dinaikin Mas Didit bocor. Wah, tengah malam coy, nggak di pedesaan, nggak ada tambal ban buka.

Untung aja ada orang-orang yang lagi ronda lewat. Langsung diantarkan ke rumah warga sekitar yang punya usaha tambal ban. Digedor rumahnya, minta tolong ditambalkan. Fyuh, untung aja bisa teratasi. Tadinya bingung juga mau gimana ini. Padahal waktu berangkat aja udah mepet, masih aja ada masalah. Bocornya di 2 lubang lagi. Dan yang bikin nggak terlalu percaya, metode penambalannya konvensional dan pake pompa tangan (bukan mesin). Ok, setelah itu lanjut berangkat ke tumpang. Tapi musibah yang sama terjadi lagi, dan kali ini lebih parah.

Sepeda motor yang sama, bocor di tempat yang setengah hutan. Waktu itu kita lagi di daerah menuju tumpang, di sekeliling nggak ada rumah sama sekali. Wah-wah, gimana nih. Mau nitipin aja nggak bisa. Untung sekitar beberapa ratus meter di depan ada masjid. Sepeda motornya dinaikin keluarga yang kurus sampai ke masjid. Terus nggedor takmir masjid yang ada di rumah sebelah masjid.

Fyuh, perjalanan kita lanjutkan. Sampe di tempat sewa jip, kaget juga. Yang disewa cuma 1 jip dengan atap belakang terbuka. 15 orang + 2 crew naik jip itu. Supir di depan, 2 budhe di depan, sisanya berdiri di bagian belakang jip. Wuah, seru juga.

Tapi, dinginnya minta ampun. Kesalahan pakai jaket yang hijau. Harusnya pakai jaket angkatan yang ada penutup kepalanya. Perjalanannya sendiri, dari tumpang mungkin berangkat sekitar jam setengah 2 pagi. Oia, kita nggak lewat jalan ke Bromo yang biasanya lewat Probolinggo, kita lewat jalan belakang dari Tumpang. Jalan sempit berliku yang ngelewati coban pelangi. Dan jalan yang kita lewati selalu ada di puncak bukit yang kanan dan kirinya adalah jurang.

Sampai puncak pananjakan tepat sebelum fajar. Wuih, semakin dingin di puncak ini. Kita ada di atas awan. Tapi di pananjakan bener-bener ruame banget, jadi sulit untuk berdiri di pinggir pagar. Setelah sunrise muncul, kenarsisan pun muncul. Kita semua foto-foto untuk dokumentasi sampai puas.

Habis dari pananjakan, kita turun untuk balik ke bromo. Sampai di padang pasir, kita sarapan dulu. Dari tempat parkir, ke bromo nggak ada yang naik kuda. Semua jalan kaki. Wah, jauh juga ternyata. Belum sampai anak tangga pertama udah ngos-ngosan. Tapi perjuangan nggak boleh berakhir. Beberapa sodara yang masih seumuran ikutan naik sampai puncak bromo. Terakhir ke bromo sih, waktu masih kecil dan nggak ngerti apa-apa. Tapi kemarin itu, semuanya terlihat indah. Sayangnya nggak ada ice queen yang menemani, cuma bisa sms-an *blush*.

Habis dari bromo, kita ngelewati padang savana. Masih sempatnya foto-foto full team untuk kenang-kenangan. Indah banget loh, kayak bukitnya di teletubbies. Rencananya, perjalanan kita lanjutkan ke ranau pane, sebuah danau kecil yang ada di dekat semeru. Rencananya juga kita nyari makan siang dan minum di warung sana. Tapi beberapa kejadian sempat membuat tegang kita.

Di tengah perjalanan, waktu medan naik, entah kenapa mobilnya nggak kuat. Katanya sih salah masukin porseneleng, tapi dibetulin dikit udah bisa. Ok, karena di tengah hutan, kita putuskan untuk sambil jalan-jalan. Eh nggak nyangka, waktu jalan, salah satu budhe pingsan. Mungkin karena kecapekan semalam nggak tidur dan jalan terus yah. Jadinya, ngemper di jalan deh sambil nunggu mobilnya selesai dibetulin.

Sampai di ranau pane, ternyata di luar dugaan. Kita pikir bakal rame dan ada banyak warung. Tapi ternyata, sudah seperti tempat wisata mati. Nggak lagi ada pengurusnya. Warung yang ada pun cuma satu dan cuma jual mie instan yang dimasak pake tungku. Sungguh menyiksa sekali. Perbekalan air minum pun sudah habis, dan harus jalan beberapa ratus meter lagi buat nemuin toko air mineral botolan. Haha, meski mengecewakan, tapi cukup mengenang lah.

Habis dari ranau pane, selesailah sudah perjalanan kita. Balik lagi ke tumpang, di tengah perjalanan sampe akhir saya duduk di atas kap jip. Bahayanya, hampir aja saya ketiduran waktu duduk itu. Bisa jatuh donk kalau ketiduran. Gawat.

Sampai di Tumpang, saya nggak nunggu yang lain langsung ijin pulang untuk menyelesaikan seluruh tugas saya yang belum saya selesaikan. Untungnya itu tepat waktu. Sampe rumah, baru hujan turun dueres. Dan sialnya, baru mau kerja tugas, mati lampu. Ya tidur deh, kerja besok paginya.

Untuk foto lengkapnya bisa dilihat di sini

Ini adalah repost dari blog saya yang sebelumnya.

Leave a Comment.