Seleksi Mawapres 2010

Sebuah kewajiban yang mendadak datang pada saya

Ini mungkin sudah cerita basi, tapi karena baru sempat nulis post ini, jadinya ya baru bisa publish. Sebenarnya kemarin-kemarin saya lagi dirundung masalah sih, jadinya nggak mood nulis. Hehe. Sudahlah, yang penting sekarang sudah bisa nulis lagi.

Seleksi Mawapres 2010, atau singkatan dari Seleksi Mahasiswa Berprestasi 2010, adalah seleksi yang diadakan tahunan oleh pemerintah untuk mencari mahasiswa yang berprestasi tidak dari sisi akademik saja, tetapi juga sisi non-akademik. Ini definisi dari pedoman Mawapres resmi.

Mahasiswa Berprestasi adalah mahasiswa yang berhasil mencapai prestasi tinggi, baik akademik maupun non-akademik, mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bersikap positif, serta berjiwa Pancasila.

Setiap Universitas berhak mengirimkan satu saja perwakilan mahasiswa untuk bersaing dengan mahasiswa lainnya. Untuk mencapai seleksi tingkat nasional, bagi mahasiswa dari perguruan tinggi negeri bisa dengan mudah lolos, karena begitu menjadi perwakilan Universitas-nya, langsung bisa mengikuti seleksi tingkat nasional. Tapi bagi mahasiswa dari perguruan tinggi swasta (baca: salah satunya adalah saya), harus melewati satu layer tambahan. Setelah seleksi di level Universitas, masih harus seleksi di level Kopertis (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta), baru bisa masuk ke tahap nasional. Dan sayangnya, yang diambil dari tiap kopertis hanya 2 orang saja.

Ok, saya akan coba ceritakan dari sudut pandang dan pengalaman saya selama mengikuti seleksi ini (meski nggak sampe tahap nasional).

Tahap Awal

Seperti yang saya jelaskan di profil saya, saat ini saya adalah mahasiswa Universitas Ma Chung semester 6. Seleksi di level Universitas saya rasanya sudah cukup ketat. Waktu itu (lupa tanggalnya), setiap program studi diminta untuk mengirimkan 2 wakilnya yang akan diseleksi oleh pihak universitas. Dari prodi Teknik Informatika, adalah saya dan Arlingga.

Di tahap awal ini, kami dibekali dengan Pedoman Seleksi Mawapres 2009. Ingat, 2009. Sekali lagi, DUA RIBU SEMBILAN. Kami nggak diminta untuk membuat karya ilmiah secara penuh, tapi hanya ringkasan dan bahasa inggrisnya. Saya pikir aneh juga, gimana bisa bikin ringkasan kalo tulisan aslinya aja belum bikin. Tapi, jalanin aja deh. Dan topik yang ada di pedoman itu secara garis besar adalah peningkatan daya saing global dengan memanfaatkan keunggulan lokal. Dengan topik seperti itu, saya punya ide untuk membuat karya tulis berjudul “Pemanfaatan Internet untuk Portal Jejaring Sosial Pendidikan Berbasis Web 2.0 sebagai Sarana Komunikasi dan Berbagi Keunggulan Lokal Antar Sekolah”.

Sayangnya, ada satu prodi yang terlambat mendaftarkan anggotanya. Akibatnya proses seleksi tingkat Universitas jadi sedikit molor. Dari sini, saya sudah ngerasa ada tanda-tanda yang nggak baik untuk masa depannya. Dan itu terjadi.

Setelah kami semua mengumpulkan ringkasan dan versi english-nya, sekitar satu minggu kemudian kami semua diminta untuk melakukan presentasi dengan menggunakan bahasa inggris di depan para wakil rektor kampus. Tapi saya baru tahu kalo itu sudah diambil 5 dari 10 pendaftar (ada 5 prodi di kampus saya, masing-masing kirim 2 peserta). Wow, okelah kalo begitu. Presentasi berjalan cukup lancar, meski saya baru bikin slide-nya pada detik-detik menjelang presentasi. Setelah presentasi itu, beberapa hari kemudian kami diminta melengkapi formulir kegiatan dan prestasi yang sebelumnya juga sudah kami kumpulkan. Saya merasakan ada tanda-tanda baik disini.

Sekitar sehari kemudian, saya terima sms untuk ketemu Kepala Direktorat Kemahasiswaan kampus saya. Wah, tanda-tanda baik semakin kerasa (tapi juga tanda-tanda buruk). Yup, akhirnya sesuai dugaan. Saya menjadi mahasiswa yang akan mewakili Universitas saya untuk maju ke tahap selanjutnya dalam seleksi mahasiswa berprestasi 2010. Alhamdulillah. Tapi itu baru rasa senengnya. Segala ujian baru akan dimulai.

Masa-Masa Transisi dan Siksaan – Pengerjaan Karya Tulis

Saya masih ingat saat-saat itu. Hari Rabu, 21 April 2010, sekitar jam 1an, saya dapat sms untuk menghadap ke kemahasiswaan. Tanda-tanda baik. Jam 3 saya kuis besar yang diakhiri dengan cepat. Sekitar jam 4, saya masuk ke ruang kemahasiswaan. Jabatan tangan dan ucapan selamat dilayangkan kepada saya, karena ternyata saya yang akan mewakili universitas. Beberapa menit setelah itu, saya diberitahu pedoman mawapres 2010 (bukan 2009 lagi). Dan apa yang terjadi?

WHAAAAAT!!!!!! TOPIKNYA SAMA SEKALI BEDA!!!!!!

Okelah, nggak terlalu jadi masalah. Rasanya karya tulis saya yang lama masih bisa dihubung-hubungkan sama topik kali ini. Topik kali ini secara garis besar adalah “Menuju Indonesia 2014 yang Sejahtera, Demokrasi, dan Berkeadilan”. Saya ambil saja subtopik “Pendidikan yang sama”. Dan akhirnya, dengan sedikit perubahan, meski sedikit nggak puas, karya tulis saya berubah judul menjadi “Pemanfaatan Internet untuk Portal Jejaring Sosial Pendidikan sebagai Sarana Pemerataan Kemajuan Pendidikan Indonesia”.

Tapi, pengubahan topik ini cukup memberi dampak dan tekanan bagi saya. Setelah menjelaskan perubahan topik ini, saya diberitahu lagi kalau hari Jum’at pagi, 23 April 2010, jam 7, segala kelengkapan seleksi ini termasuk karya ilmiah full paper harus sudah selesai dan siap dikirimkan ke Kopertis 7 wilayah Jawa Timur.

WHAAAAAT!!!!!! DALAM WAKTU NGGAK SAMPE 2 HARI HARUS MENYELESAIKAN KARYA TULIS DARI NYARIS NOL SAMPE JADI MINIMAL 20 HALAMAN??????

Adouw, siksaan nih. Padahal katanya sih kemahasiswaan sudah dapat info itu sekitar seminggu sebelumnya. Tapi gara-gara seleksi baru saja selesai, jadinya telat. Sapa nih yang bikin telat hayo? Saya langsung minta ijin beberapa dosen untuk gak masuk hari Kamis-nya, karena saya mau seharian garap artikel. Dan rabu malam itu, dengan dibantu pihak kemahasiswaan, saya mencoba untuk melengkapi berkas-berkas yang harus dilengkapi. Pulangnya, setelah menyegarkan diri (baca: mandi), saya berangkat ke rumah Mutiara untuk minta wangsit seputar karya tulis, secara dia sudah berpengalaman (doh, kok pake bahasa “secara”). Malamnya, saya berniat gak tidur untuk mulai memikirkan apa yang harus saya kerjakan. Dan apa yang terjadi?

WHAAAAAT!!!!!! KARENA HARI SEBELUMNYA SAYA SUDAH MELEK-AN, JADINYA SAYA KETIDURAN DAN NGGAK NGERJAIN APA-APA

Padahal bagian tersulit dari bikin suatu tulisan adalah menentukan kerangkanya. Untungnya Kamis pagi itu sudah sedikit selesai supaya bisa saya konsultasikan. Yup, secara eksklusif saya dipanggil Ibu Rektor untuk diberi wejangan khusus Mawapres, mengingat beliau pernah menjadi juara Mawapres sekaligus menjadi jurinya. Setelah dari ruang Bu Rektor, saya keliling ke dosen-dosen untuk meminta masukan. Yah, meski hasil yang didapatkan nggak terlalu maksimal, cukup membantulah. Saya bahkan pergi ke perpustakaan kota Malang untuk mencari sumber offline. Sayang sekali si Icy gak bisa nemenin.

Sampai maghrib, nggak ada kemajuan berarti dari karya tulis saya. Cuma pendahuluan saja yang bisa dianggap setengah jalan. Untungnya ringkasan 2 halaman versi bahasa Indonesia dan Inggrisnya selesai. Saya minta bantuan Ibu Maria Lucia, dosen Bahasa Inggris di kampus saya untuk mengkoreksi pekerjaan saya. Mendadak sekali memang, saya sendiri jadi sungkan. Analisis dan Pembahasannya? Sama sekali belum. Bahkan Tinjauan pustaka juga belum bikin. Akhirnya, dengan sangat terpaksa saya minta bantuan. Untungnya Anggi bisa bantu bikinkan tinjauan pustaka. Yah, meski jadi mengurangi kepuasan kerja, mau gimana lagi. Daripada nggak selesai.

Malamnya menjadi malam yang sibuk. Jadi terpaksa gak smsan sama si Icy. Niatnya sih fokus kerja. Pulang dari kampus jam 8an. Sampe rumah langsung masuk kamar, buka laptop, (niat) lanjut kerja. Sertifikat-sertifikat saya kumpulkan, dan dengan terpaksa jadi minta tolong bokap buat fotocopy. Perlu diketahui, jam segitu bab Analisis dan Pembahasan sama sekali belum saya tulis. Lalu apa yang terjadi?

WHAAAAAT!!!!!! KETIDURAN LAGI!!!!! BANGUN-BANGUN SUDAH JAM SETENGAH 3 PAGI!!!!!!

Ya, saya ketiduran lagi. Sisa waktu sekitar 2-3 jam untuk menyelesaikan bab analisis dan pembahasan. Untung kemampuan mengetik saya sudah sampai level tinggi (nggak bermaksud sombong). Dengan memutar otak yang masih baru bangun dari tidurnya, saya ngebut ngerjakan bab Analisis dan Pembahasan itu. Untungnya, sebelum jam 5, bab itu beserta Kesimpulan dan Saran bisa terselesaikan. Meskipun nggak maksimal, ternyata jumlah halaman yang dihasilkan cukup banyak juga. Untuk bagian isi saja (mulai pendahuluan sampai kesimpulan) ada sekitar 25an. Ditotal sama tambahan lain jadi lebih dari 30. Sayangnya karena mendadak, saya sendiri ngerasa kurang puas dengan hasilnya.

Jumat pagi, semuanya selesai dengan sedikit terlambat. Untungnya masih nutut untuk dikirim ke Surabaya bareng mobil kampus, yang direncanakan berangkat jam 7 pagi. Padahal pagi itu juga ada kuliah tambahan, tapi udahlah, sekalian bolos aja, mau tidur. Dan akhirnya saya tertidur pulas sampe gak jumatan.

Seleksi Kopertis 7 di Hotel Pelangi

Karena saya dari Universitas swasta, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, akan ada seleksi tambahan. Kalo dari universitas negeri, begitu jadi wakil universitas, langsung bisa ke jakarta. Nah kalo saya, ya harus seleksi di tingkat kopertis dulu. Dari seleksi ini, akan diambil 2 terbaik yang akan menjadi wakil tiap kopertis. Berarti saya masih harus bersaing dengan wakil dari universitas swasta lain nih.

Jumat pagi, 30 April 2010, saya berangkat ke Hotel Pelangi Malang untuk memperjuangkan nama universitas (lebai). Karena universitas saya baru, dan hanya mahasiswa semester 6-8 saja yang bisa ikutan, jadi saya adalah wakil pertama dari Universitas Ma Chung (sedikit bangga). Sampai di TKP, ternyata masih sepi. Setelah diberi rundown, ternyata acara mulai jam setengah 10. Jiah, percuma donk jam 8 lebih ngebut soalnya saya kira mulai jam setengah sembilan. Hadoh.

Saya merapikan diri dulu di toilet, setelah itu baru naik ke aula. Dan ternyata, di dalam aula ya masih sepi. Ke-jaim-an saya selalu muncul di awal. Jadinya ngelihat peserta lain, awalnya cuma tunduk-tundukan aja. Begitu mau mulai, baru kenalan ke sekitar.

Masuk ke tahap seleksi, saya baca rundown-nya sih tertulis ada 5 alokasi waktu seleksi. Saya pikir awalnya akan ada 5 tahap seleksi yang sangat berat (ingat-ingat wejangan bu rektor). Tapi ternyata, alokasi waktu itu untuk proses menunggu aja. Pada kenyataannya, cuma ada 4 seleksi. Yaitu kepribadian, organisasi, presentasi, dan bahasa inggris. Untuk presentasi dan bahasa inggris dijadikan satu.

Seleksi tahap kepribadian dan organisasi berjalan lancar. Untungnya saya sudah sedikit terlatih untuk masalah ini, dan memang pengalaman organisasi saya cukup banyak. Permasalahan sedikit muncul waktu presentasi. Oia, untuk pembuatan presentasi saya kali ini, saya minta bantuan teman saya Donny. Maksudnya sih biar lebih interaktif pake flash. Tapi yang terjadi nggak seperti yang diharapkan.

Di tempat presentasi, udah tersedia pointer untuk presentasi. Padahal di presentasi flash saya, pake tombol kanan-kiri untuk lanjut. Yah, akhirnya nggak kepake deh. Malah jadinya pake operator. Akhirnya berjalan kurang menarik karena saya jadi sering bilang “NEXT”. Dodol. Karena waktu latihan bahasa inggris dengan bu Maria juga sedikit, alhasil presentasi saya jadi kurang sip. Tapi lumayan lah.

Sesi presentasi terus berjalan sampai hampir tengah malam. Di sela-sela nunggu presentasi, sambil networking juga. Kenalan sama temen-temen baru yang terbaik dari universitasnya. Bagi-bagi alamat email dan HP. Eh, ada peserta yang caem juga ternyata. Bentuk wajahnya mirip mama-nya the Icy waktu pakai kerudung. Hehe.

Malamnya saya pilih nginep di hotel aja. Toh kan dibayarin negara (baca: gratis). Paginya, mestinya ada jadwal olahraga pagi. Dari wejangan bu rektor sih, justru dari hal-hal kecil seperti ini akan dinilai juga. Tapi ternyata? Nggak sama sekali. Beberapa malah nggak olahraga. Dan nggak ada satupun dari panitia dan juri yang ikutan. Akhirnya para peserta yang bangun malah jalan-jalan sendiri ke alun-alun, terus foto-foto.

Setelah itu, tinggal menunggu pengumuman hasil seleksi yang akan diumumkan jam 10. Dari presentasi yang saya tonton, presentasi saya ada di level menengah lah. Lagian waktu cerita-cerita saya juga denger kalo peserta lainnya rata-rata adalah “pemain lama”. Artinya, mereka itu sudah berpengalaman di dunia karya tulis, seperti PIMNAS, LKTI, PKM, dan sebagainya. Lha saya? Nulis karya tulis ilmiah yang beneran aja rasanya baru kali ini. Memang sih saya suka nulis, tapi cuma sekedar tulisan teknis dan blog seperti ini. Jadi minder deh.

Jam 10 telat sedikit, para panitia dan juri masuk ke ruangan aula untuk pengumuman. Ketegangan menyelimuti ruangan itu, sampai bikin ngantuk. Pengumuman disampaikan oleh salah satu juri yang asalnya dari Petra. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

1. Nama : Mardon
PTS : Unika.Widya Mandala Surabaya
Peringkat : Terbaik I
Nilai : 293,47

2. Nama : Benny Setiawan
PTS : Univ. Surabaya
Peringkat : Terbaik II
Nilai : 282,86

3. Nama : Dyah Ayu Shinta Ratnasari
PTS : Univ. Muhammadiyah Malang
Peringkat : Terbaik III
Nilai : 281,90

4. Nama : Muhammad Fauzil Haqqi
PTS : Univ. Ma Chung Malang
Peringkat : Harapan I
Nilai : 280,93

5. Nama : Wachidatul Linda Yuhanna
PTS : IKIP PGRI Madiun
Peringkat : Harapan II
Nilai : 271,55

6. Nama : Wahyuni
PTS : Univ. Islam Lamongan
Peringkat : Harapan III
Nilai : 270,55

Alhamdulillah, ternyata saya masih diberi kesempatan untuk mendapatkan nomor di juara harapan 1. Untuk berita resminya, bisa diakses di sini (semoga bisa diakses selamanya).

Waktu di TKP sih, sertifikat yang dibagikan hanya berlabel “peserta”. Tapi ternyata keenam juara ini diundang untuk ikut upacara 17 Agustus 2010 di kopertis 7 Jawa Timur untuk menerima penghargaan. Wah-wah, sudah berapa tahun nggak upacara nih. Dan kalo upacara di tingkat kopertis seperti ini, perlu ditanyakan berapa lama nih. Adouw.

Yah, sayang sekali. Saya masih belum bisa menyampaikan amanat dari kampus saya. Saya belum bisa lolos di level kopertis ini. Saya jadi mengecewakan banyak pihak deh, termasuk yang sudah membantu saya. Maaf semuanya ya. Memang sih kalo udah begini, pasti semua akan bilang “nggak papa, toh sudah juara 4. untuk universitas baru gini sudah baik lah”. Tapi ya rasanya beda. Kalo lomba atas nama pribadi sih, saya nggak ngurus kalo kalah. Tapi karena mewakili nama universitas kayak gini, jadi ngerasa bersalah. Siapa tahu saingan saya di level universitas (baca: teman sendiri) bisa lebih baik kalo maju ke level kopertis.

Penyesalan ditambah lagi dengan kurang maksimalnya persiapan saya gara-gara cuma dikasih waktu 2 hari untuk ngerjain. Sapa nih yang bikin telat hayo? Padahal kalo dilihat dari nilai akhir, selisih saya dengan peringkat 3 dan 2 nggak terlalu jauh. Seandainya saja saya bisa mempersiapkan dengan lebih mantap, pasti lebih punya kemungkinan untuk lolos. Nggak mimpi deh buat ngejar peringkat 1, katanya emang sip presentasi dan bahasa inggrisnya. Hehe.

Sudahlah, penyesalan memang selalu datang terakhir. Kalau tahun depan saya dapat kesempatan lagi untuk mewakili universitas, saya pasti akan menunjukkan aksi yang lebih maksimal. Apalagi setelah tahu bahwa proses seleksi rasanya tetep sejenis dari tahun ke tahun. Semoga tahun depan bisa kepilih lagi dan maju ke kopertis lagi dan akhirnya bisa mengharumkan nama universitas. Siapa tahu juga bisa ketemu lagi sama yang mirip mama-nya si Icy itu. Hehe. Ganbatte!!!

Ini adalah repost dari blog saya yang sebelumnya.

1 Comments

Leave a Comment.