Air Sumber Emosi

Ternyata bukan cuma sumber kehidupan

Indahnya percikan air, tak seindah PDAM beberapa hari ini...

Semua pasti bilang kalau air itu sumber kehidupan. Semua makhluk hidup butuh air, bahkan sampai kalajengking yang hidup di padan pasir tandus sekalipun. Apalagi manusia. Tubuh manusia setidaknya terdiri atas 60% air. Dokter menyarankan untuk meminum air 8 gelas sehari. Saran ini dengan asumsi bahwa suhu lingkungan cukup dingin, berat Anda 150 pounds, dan beraktifitas setara olahraga selama 20 menit sehari [1].

Sumber air di bumi pun sebenarnya sangat banyak [2]. 70% permukaan bumi tertutup oleh air (mungkin sebaiknya kita menyebut planet ini “ocean”, bukan “earth”). Tetapi ada beberapa isu terkait hal tersebut. 97,5% air adalah air asin, dan hanya 2,5% merupakan air tawar yang bisa dikonsumsi. Hampir 70% dari air tawar tersebut ada dalam bentuk es di Antartika dan Greenland. Hanya kurang dari 1% air tawar (sekitar 0,007% dari seluruh air bumi) saja yang dapat diakses secara langsung oleh manusia. Air ini bisa ditemukan di danau, sungai, bawah tanah, yang selalu diperbaharui oleh hujan dan salju.

Oke, berat normal saya adalah 55 kg = 121 lbs (pounds). Waktu saya coba hitung dengan kalkulator [3], dengan asumsi bahwa saya sedang malas olahraga (20 menit sehari), dan cuaca Kota Malang itu dingin, maka kebutuhan air saya perhari adalah 1581 mililiter, atau setara dengan 6,682 gelas. Kalau Aqua gelas 200ml harganya Rp500, berarti butuh setidaknya 8 gelas, atau Rp4000 untuk ukuran normal. Itu baru minum saja. Mandi, cuci, dan cebok?

Kebutuhan manusia akan air memunculkan sebuah peluang usaha. Oke, lets say usaha itu adalah PDAM (Perusahaan Dagang Daerah Air Minum). Karena PDAM itu punya skill untuk menyalurkan air ke rumah-rumah kita, jadi bisa kita sebut bahwa PDAM itu sumber kehidupan dan kebersihan untuk cebok. Kita terbiasa menggunakan jasa ini untuk hidup sehari-hari, dan dengan senang hati membayarnya. Harusnya karena bayar, berarti ada servis yang baik pula kan…

Tapi, pernah nggak merasa repot waktu mau nyuci tangan di wastafel, tapi airnya gak keluar? Pernah nggak piring di dapur jadi numpuk karena malas cuci-cuci air di situ nggak keluar? Pernah nggak ngerasa sayang pakai air padahal untuk Wudhu sebelum sholat? Dan, pernah nggak mesti susah-susah ngangkat air dari kran yg mengucur di depan rumah pakai ember ke kamar mandi dalam yang airnya tinggal secuil, sambil nahan buang air besar yang sepertinya sudah untup-untup menggeliat minta kebebasan, demi mencegah kurangnya air yang mengakibatkan nantinya cebok gak bersih? Kurang mengenaskan apa coba.

Oh PDAM, kenapa sih beberapa hari ini nyala-mati-nyala-mati… Kenapa kok gak nyala-hidup-nyala-hidup aja… Semoga apapun yang terjadi, positif thinking aja ini bakal cepat terlalui. Tapi kali ini, air benar-benar jadi sumber emosi.

Ditulis dalam keadaan muka kulu-kulu belum mandi karena sedang krisis air akibat beberapa hari ini nyala-mati-nyala-mati.

Sumber:
[1] http://www.ehow.com/about_5038941_human-water-consumption-requirements.html
[2] http://www.globalchange.umich.edu/globalchange2/current/lectures/freshwater_supply/freshwater.html
[3] http://www.csgnetwork.com/humanh2owater.html

Leave a Comment.