Hal Sederhana untuk Menjadi Pemimpin

Pelajaran sehari

Kepemimpinan adalah sebuah seni

Mau jadi orang sukses, harus bisa ngambil pelajaran dan hikmah dari setiap hal yang pernah dijalaninya. Sesederhana apa pun, nggak semua orang loh bisa dan terbiasa melakukannya. Hm, saya juga mau coba gitu deh. Kebetulan juga lagi pingin senam jari di atas keyboard laptop.

Nggak lama sih, tapi saya sudah memasuki dunia leadership. Mulai dari ikut pelatihan, workshop, organisasi intra dan extra kampus, jadi ketua tim, sampai jadi fasilitator leadership training juga. Alhamdulillah, kemampuan memimpin saya mungkin sudah di atas rata-rata, meski masih perlu banyak belajar dari pemimpin-pemimpin role model saya seperti Steve Jobs dan Bu Rektor saya.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat approve tawaran teman untuk kerja kontrak proyek 1 bulan di sebuah perusahaan besar. Bukan kok, bukan perusahaan semen. Juga bukan di Gresik kok. Intinya, di situ sedang ada roll out pergantian software ERP-nya. Nah, karena kekurangan orang, saya dihubungi teman untuk ikutan. Pikir saya, mumpung lagi liburan, oke aja. Sapa tahu dapat pengalaman dan link.

Tapi karena suatu hal yang penting dan mendesak, saya membatalkannya. Untung belum kontrak, masih sehari aja ngantor di sana. Tapi gimana-gimana tetep sungkan sih. Padahal lumayan loh bayarannya. Hehe…

Ups, tapi bukan itu intinya.

Dari sehari di sana, ada hal yang bisa saya pelajari, terutama tentang kepemimpinan. Pertama, seorang pemimpin sebuah tim itu sebaiknya menghafal nama-nama anggotanya, setinggi apa pun jabatannya. Sebuah hal sederhana bukan? Tapi saya merasakannya sendiri waktu kerja itu. Saya merasa lebih dianggap ketika nama saya dipanggil oleh pemimpin I, meskipun cuma diajak ngobrol hal gak terlalu penting, daripada dipanggil “hei kamu” oleh pemimpin Z, meskipun dikasih tugas yang mengasyikkan.

Refleksi saya pribadi, sepertinya saya harus memperbaiki diri. Saya kalau dalam tim baru yang jumlahnya di atas 10 orang, pasti lama kenalnya. Gawat nih, bisa-bisa menurunkan loyalitas anggota. Perlu diubah secepatnya.

Kedua, seorang pemimpin harus mengerti dengan sejelasnya seberapakah kapasitas skill bawahannya. Ini dilakukan agar bisa memberikan tugas yang tepat kepada orang yang tepat. Kalau tugasnya berat, dikasihkan ke anggota yang skillnya kurang gimana? Di satu sisi, memang bisa memicu untuk berkembang, tapi di sisi lain bisa memberikan tekanan tersendiri. Kalau tugasnya terlalu ringan, dikasihkan ke anggota yang skillnya bagus, gimana? Di satu sisi, pekerjaan lebih cepat selesai dan beres dengan rapi, tapi di sisi lain bisa menurunkan semangat dan jiwa tantangan si bawahan. Itu yang saya rasakan saat saya merasa akan diberi tugas “ecek-ecek” jadi Pentil Tutik (Penerima Tilipun dan Tukang Ketik), sementara saya rasa skill saya bisa jauh di atas itu (bukan sombong).

Refleksi pribadi, saya sendiri ternyata kadang kurang bisa seperti itu. Perfeksionis saya, kadang memaksa suatu hal yang saat itu masih nggak mungkin dilakukan secara cepat oleh anggota saya. Kadang juga, saya terlalu menyepelekan suatu pekerjaan.

Ketiga, seorang pemimpin harus berkorban waktu dan tenaga lebih banyak daripada anggotanya. Bisa dilihat waktu sehari itu, pak pemimpin nggak pulang-pulang meski kerjaannya sudah selesai. Apa yang dia lakukan? Nemenin anggotanya yang masih ngelembur sampai jam 1 pagi, meski cuma ngobrol dan bercanda. Ini juga yang dilakukan Bu Rektor saya, yang datang pagi-pagi sekali ke kampus, dan pulang paling akhir. Sebuah pemimpin dengan gaya kepemimpinan menjadi role model yang baik.

Refleksi pribadi saya, kadang saya masih menyepelekan. Karena sudah menjadi pemimpin, datang telat nggak masalah. Karena sudah jadi pemimpin, ngerasa dapat hak yang lebih. Nggak boleh, nggak boleh seperti itu lagi.

Masih banyak hal-hal yang perlu dipelajari untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, di mata anggotanya, maupun di mata orang lain yang bukan dalam tim tersebut. Saya juga masih belajar, dan visi saya sebagai pemimpin adalah jadi pribadi yang baik, menjadi pemimpin dan anggota bagi sekitar saya, dan bisa membawa yang saya pimpin untuk bersama menjadi lebih baik. Amiiin.

4 Comments

  1. satu point lagi yang ingin saya tambahkan (kalau boleh sih,,)
    pemimpin adalah pelayan.
    pemimpin harus pandai mendengar dan menampung aspirasi
    eh, jadi dua point ya.. 😀

    Reply
    • ya tergantung gaya kepemimpinan sih. kan ada juga 360 degree leadership, ada juga pyramid leadership, dan sebagainya. Tergantung kepribadian masing-masing cocoknya yang mana.

      Reply

Leave a Comment.