Mangkang Camp – Day 1

Sebuah event yang berbeda dari keseharian seorang programmer

Event ini sudah direncanakan sejak bulan september lalu (seingat saya). Sebuah kegiatan yang sama sekali berbeda dengan rutinitas keseharian saya. Berkat informasi dari si Umi, saya menganggarkan uang beasiswa tahunan yang saya dapat untuk mendanai kegiatan ini. Sebuah work camp, atau bahasa indonesianya kemah untuk pengabdian masyarakat, yang diselenggarakan oleh organisasi bernama Indonesia International Work Camp.

Saya kebetulan dapat jatah camp Mangkang Camp ke-13, yang diselenggarakan mulai 16 Februari sampai 1 Maret tahun 2011 ini. Salah satu motivasi saya adalah untuk bertemu dengan berbagai orang dari seluruh dunia yang punya visi sosial juga. Selain itu, sebenarnya sih saya merencanakan untuk apply atau pindah ke camp waktu liburan kuliah, tapi karena nggak bisa diganti, ya udah terpaksa ijin kuliah selama 2 minggu dulu. Motivasi saya yang lain adalah untuk menikmati kehidupan alam yang berbeda dari keseharian saya selama ini.

Saya ambil konsekuensi untuk menunda pengerjaan skripsi, meninggalkan project web untuk Mimi Creative yang baru saya dapat beberapa hari sebelum camp, meninggalkan kewajiban mengajar sebagai dosen salah satu mata kuliah di kampus, menunda pengerjaan buku yang sudah sampai bab 3, meninggalkan satu jatah menulis artikel yang akhirnya terpaksa saya serahkan ke teman saya, melewatkan satu seminar AMA Malang yang sepertinya cukup bagus, meninggalkan rutinitas berenang pagi di Sengkaling, dan sebagainya. Semua dengan harapan dan keyakinan bahwa kegiatan ini akan sangat berkesan bagi saya.

Okay, saya bersama 2 orang teman saya, Umi dan Richard masuk dalam daftar peserta Mangkang Camp 13 ini. Berbekal infosheet yang diberikan, proyek ini adalah seputar lingkungan, anak-anak sekolahan, dan tanam bakau. Di Semarang. Ya, salah satu kota yang terkenal cukup panas udaranya. Sangat berbeda dengan kota saya, Kota Malang yang dingin. Dan berbekal infosheet itu pula kami memutuskan untuk berangkat naik Bus Malam.

Rp76rb saya keluarkan untuk biaya Bus Malam yang akan berangkat pada tanggal 15 Februari malam. Nggak cuma itu expenses yang saya keluarkan. Saya mesti beli sleeping bag karena katanya di camp tidak disediakan kasur, dan disarankan membawa sleeping bag. Untungnya punya banyak temen, ada temen SMA yang ternyata buka bisnis peralatan pecinta alam. Saya dapat sleeping bag kualitas biasa dengan harga cukup murah, Rp75rb. Buat tambahan karena takut nantinya gak ada listrik dan HP mati, saya beli jam tangan Q&Q di toko dekat rumah seharga Rp200rb. Wow, cukup mahal buat mahasiswa sederhana seperti saya. Tapi okelah, buat jangka panjang kok. Hehe…

Sebelum berangkat, saya withdraw uang rekening saya untuk keperluan camp ini dan satu keinginan saya lainnya. Sudah jauh-jauh hari saya niatkan untuk menyisihkan sebagian besar dari pendapatan saya untuk orang tua terlebih dahulu, khusus untuk event penting. Alhamdulillah karena sudah berpenghasilan, saya bisa memberi uang tambahan untuk orang tua yang akan berumrah. Meski mungkin cuma sedikit yang bisa saya berikan saat ini, tapi saya harap dapat berguna untuk keberangkatan orang tua saya ini.

Nggak banyak uang yang saya bawa untuk camp ini. Saya siapkan sekitar 200-300rb untuk persediaan. Saya pikir kalau kurang nanti saya tinggal withdraw dari ATM BCA terdekat.

Selasa malam, kita bertiga berangkat ke terminal Arjosari. Bus sudah menunggu, tapi ternyata berangkat dengan sedikit terlambat. Saya kebetulan duduk bersebelahan dengan nenek-nenek yang ternyata sudah berusia 77 tahun. Bu Kus namanya. Meski sudah tua, ternyata masih terlihat sehat. Dan katanya, sering traveling untuk mengunjungi cucu-cucu di berbagai belahan indonesia. Mulai dari Bogor sampai ke Ambon dan Kalimantan. Wow, hebat sekali perempuan ini. Saya juga ditawari dunkin donuts dan oreo. Hehe…

Sampai di perhentian kota Semarang, saya cek jam saya, masih jam 4 pagi. Kata si kondektur sih, tempat yang mau kami tuju sudah dekat. Sekitar satu kilometer. Kami putuskan untuk jalan kaki. Waktu adzan subuh, kami putuskan untuk berhenti sejenak di masjid untuk sholat Subuh. Oia, sebelumnya juga saya tekadkan, dengan melalui event ini saya akan meningkatkan taraf ibadah saya. Moga-moga aja terwujud. Amin.

Setelah itu, berbekal google map dari hape saya, kita teruskan jalan. Eh lha dalah, ternyata jauh amat. Sampai di tempat tujuan ternyata memakan waktu 2 jam. Jadi, jam 6 kita baru sampai di TKP, gedung PKBI jalan Jembawan Raya no 8. Dan ternyata, waktu hari setelahnya saya coba hitung kalau naik kendaraan, cuma makan waktu 8 menit. Tapi, seru lah. Jadi ingat waktu kita jalan pas acara Ultah TPC kemarin. Hehe…

Sampai di kantor, ternyata para staff masih tidur. Jadinya nunggu dulu deh. Setelah staff bangun, kita prepare dan mandi di kantor. Katanya jam 12 baru ngumpul terus berangkat ke lokasi camp. Waktu nunggu kita sempat bincang-bincang sama berbagai bule dan staff juga. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Menjelang siang, satu-persatu bule yang terdaftar sebagai peserta datang. Oia, kami sama sekali tidak tahu berapa dan dari mana bule yang akan ikut camp ini. Katanya sih ada 3 peserta indonesia (kami), dan cuma 8 bule. Yah, sedikit kecewa sih karena ekspektasi kemarin sekitar 12 bule. Tapi disyukuri aja lah.

Saya ketemu bule pertama dengan nama Kimura, dari Jepang. Dengan tampang nerd berkacamata tebal, bahasa inggris kurang fasih, tapi kami tetap ngobrol ngomongin jepang dengan mengasyikkan. Dia umur 24 dan bertempat tinggal di Chiba.

Bule kedua dan ketiga, kita ketemu saya Tomoya dan Yutaro, sama-sama dari Tokyo, Jepang. Dua pria maskulin yang sumpah bakal bikin para komoh terkesima, ternyata masih muda. Umur 21. Yah, karena baru pertama kali ketemu, mereka semua masih canggung waktu ngobrol.

Bule keempat dan kelima, datang bersamaan. Herannya, mereka nggak bawa luggage banyak. Oh, ternyata mereka relawan dalam Long Term Volunteer dan Middle Term Volunteer yang awalnya memang sudah ada di Mangkang. Karen, masih muda umur 19 tahun dari Jerman, tinggi banget dan terlihat “hot”. Satunya adalah Celine, 2 tahun lalu graduate dan berasal dari Belgia.

Nunggu yang lain kelamaan, kita rapat dan makan siang dulu sebelum berangkat. Makan pecel semarang! Mungkin sebuah makanan baru bagi para bule juga ya, makanya seperti aneh melihat mereka. Hehe.

Waktu makan, ada satu lagi peserta bule datang. Vuokko dari Finlandia, seorang nenek-nenek umur 57 tahun yang ternyata masih semangat ikutan kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini. Salut deh untuk Vuokko.

Perkenalan dari mbak Ismi yang bertindak dalam seluruh administrasi dan kontak organisasi ini, kemudian penjelasan sejarah IIWC dan camp yang akan kami ikuti, lalu perkenalan dari camp leader, yaitu Noni dari Medan (kuliah di UNDIP), dan Laili yang ternyata tuan rumah juga. Ya, rumahnya dekat dengan campsite kami. Orang desa Mangkang.

Karena lama nunggu, kita semua berangkat duluan ke TKP. Naik angkot carteran. Ya, ANGKOT. Sambil jalan kita ngobrol-ngobrol sama peserta dari Jepang.

Masuk ke gang menuju desa TKP, jalanan ternyata parah banget. Katanya dulu sih aspal, tapi karena banjir dan sebagainya, sekarang jadi berupa lumpur yang licin. Katanya seminggu yang lalu ada banjir setinggi hampir 2 meter yang merendam desa itu. Wow.

Sampai di TKP, sedikit lega karena perjalanan melelahkan itu selesai juga. TKP ada di desa Mangkang Wetan, sebuah desa yang terletak di daerah pesisir. Sungguh mengenaskan sekali kondisi kebersihan desa ini. Kesadaran masyarakat sangat kurang akan kebersihan. Anak-anak habis makan jajanan langsung begitu saja membuang sampah plastik di tempatnya makan itu, bukan di tempat sampah.

Lokasi camp terletak di dekat masjid, pas sesuai harapan saya. Kita masuk gang, menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami bersama selama 2 minggu ke depan. Woot, ternyata kondisinya kotor sekali. Kita langsung bersih-bersih bareng, dengan alat seadanya. Setelah bersih-bersih, kita istirahat sebentar sambil sedikit-sedikit cerita tentang keseharian kita.

Sorenya, satu lagi peserta bule datang. Muriel dari Swiss, seorang cewek berumur 28 tahun dengan berawakan tinggi besar (badannya dan “itu”nya), berkepribadian ceria dan banyak omong. Ternyata dia adalah Java programmer di tempatnya tinggal.

Malamnya kita masak seadanya. Kita juga membagi pekerjaan rumah menjadi tiga kelompok. Cooking team bertugas memasak, Cleaning team bertugas membersihkan rumah, dan Washing team bertugas cuci peralatan makan. Semua berhak mengisikan namanya masuk di team mana, cukup masuk dalam 1 tim setiap harinya. Saya ngisi secara random, tapi setelah saya lihat, ternyata saya banyakan jadi cooking team. Haha, jadi chef deh.

Malamnya, kita tidur tanpa perlindungan terhadap nyamuk. Peserta dari jepang ternyata merasa terganggu sekali dengan nyamuk. Paginya mereka bilang sama sekali gak bisa tidur dengan nyenyak, padahal sudah pakai obat anti gigitan nyamuk. Haha, lucu sekali orang-orang jepang ini, sensitif terhadap nyamuk.

Yup, itulah hari pertama kami di Mangkang Camp. Cukup panjang dan melelahkan, tapi seru. Saya juga masih harus koordinasi dengan anggota tim Mimi Creative saya seputar project yang baru kami dapat agar tetap dapat berjalan. Untungnya di camp masih ada sinyal, setidaknya EDGE. Internet lemot dan putus-putus menjadi bekal untuk ngecek email lewat HP.

Post ini saya tulis di warnet terdekat yang harus dicapai dengan naik ojek selama sekitar 10 menit dengan tarif kurang lebih 4rb sekali jalan. Foto-foto menyusul karena belum ada acara barter antar peserta, dan terlebih lagi SD card hp saya corrupt di hari keempat. Semua foto menghilang. Saya jadi terpaksa ke warnet untuk download recovery tool. Semoga bisa direcover semuanya.

5 Comments

Leave a Comment.