Sekelumit Tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual

Jadi kaya? Memang suatu keharusan. Tapi caranya?

Belajar tentang kebijaksanaan, akhlak, dan etika nggak ada ujungnya. Yang ada hubungannya dengan intelektual pun seabreg. Salah satunya tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Harusnya pagi ini saya nyicil skripsi dan kerjaan saya, tapi karena sesuatu hal, jadi pingin nulis post ini.

Ya, nama saya memang sering diplesetkan dari Haqqi menjadi HAKI, tapi ini sama sekali nggak ada hubungannya.

Sebagai orang basic IT, saya bangga kalau saya bikin suatu aplikasi, terus laku keras di pasaran. Atau saya bikin website, terus pengunjungnya banyak. Atau saya sediakan servis, yang orisinil dan tentu memuaskan. Ya, saya bangga dengan itu. Saya yakin semua orang juga sama. Iya nggak?

Tapi kita lihat dulu esensi di dalamnya.

Apakah aplikasi itu murni bikinan saya? Ataukah saya hanya membajak terus merubah nama?
Apakah website dan konten di dalamnya bikinan saya? Ataukah saya hanya copy-paste dari milik orang lain?
Apakah saya sediakan servis yang murni dari saya? Ataukah saya hanya mengklaim servis orang lain sebagai servis saya?

Pas nulis post ini, entah kebetulan atau gimana, playlist lagu saya mainin lagu “Uang” dari album Tribute to Ian Antono. Bagian bridge lagu ini:

Tiada bukan, tiada lain..
Mereka mencari, cara cepat..
Untuk mendapatkaaan.. UANG!!

Bridge yang kedua:

Lupa sahabat, lupa kerabat..
Lupa saudara, mungkin juga..
Lupa ingataan..

Ya, uang bisa membuat kita buta. Orang bisa menggunakan segala cara untuk mendapatkan uang. Termasuk dengan pelanggaran hak atas kekayaan intelektual dan penyalahgunaan teknologi yang ada. Karena bidang saya di teknologi informasi, saya ngomongnya ya di ranah itu.

Balik ke topik, diawali dengan pertanyaan. Sering gak waktu googling nemu website dengan konten sampah yang isinya diputer-puter, dan ujung-ujungnya masuk ke iklan gak jelas? Atau pernah gak masuk web yang isi kontennya ternyata sama dengan konten web yang dikunjungi sebelumnya? Pernah gak nemu aplikasi open source code, yang ternyata source nya sama persis dengan aplikasi lain, tanpa menyebutkan itu dari aplikasi lain tersebut?

Saya nggak terlalu paham dengan macam-macam lisensi yang ada. Yang ada di salah satu prinsip saya, saya harus orisinil. Bila memang saya menggunakan perangkat milik orang lain untuk komersial, ya saya jelas credit ke perangkat tersebut. Contoh sederhananya, saya tetap menyertakan bahwa blog ini powered by WordPress di bagian footer, meskipun sebenarnya bisa dihilangkan. Kenapa saya lakukan ini? Saya mikir dengan persepsi terbalik. Karena saya ingin ketika saya mempunyai karya, karya saya juga dihargai seperti WordPress ini.

Sama dengan konten. Ada teknologi di PHP yang namanya cURL, untuk fetch html dari suatu halaman. Untuk apa awalnya teknologi itu diciptakan? Pastinya untuk hal-hal baik seperti webservice dan saudaranya. Tapi penyalahgunaan tetep ada. Dengan sedikit manipulasi, bisa fetch konten dari suatu website besar tanpa ijin, kemudian mempostnya di web sendiri secara otomatis. Otomatis pengunjung bisa jadi kesasar di web yang sekedar fetch konten tadi. Website aslinya dapat apa? Cuma dapat traffic bot dari program cURL itu, yang sebenarnya malah justru memberatkan server. Haha..

Buanyak hal tentang hak cipta dan etika yang kalau dibahas, satu blog aja mungkin gak cukup buat nampung postingnya. Salah satu esensi yang bisa diambil adalah apakah pantas ilmu IT itu digunakan untuk mengotori internet dengan sampah seperti itu? Okelah, silahkan beralasan mereferensikan konten lah, merewrite agar bisa dibaca lebih banyak orang lah, dan sebagainya. Tapi saya yakin, kalau memang niatnya murni itu, pasti ada cara yang lebih baik. Seperti yang saya baca di postnya mbak Devi ini.

Tapi kalau tujuannya sudah uang, saya nggak mau ngomong apa-apa lagi. Percuma. Itu berarti uang sudah membutakan mata. Seperti kata lagu di atas.

Mau alasan untuk mencari modal usaha yang lebih baik? Oh, alasan klasik. Meskipun nggak separah mencuri sih, tapi itu sama aja dengan analogi mencuri untuk bikin toko resmi. Mikir sederhana aja. Kalo emang modalnya sudah penuh mudharat, hasilnya juga gak barokah donk.

Yang lebih baik, melakukan sesuatu yang berguna untuk orang banyak, punya banyak uang, dan tetap rendah hati. That is the golden ways. Saya mau jadi seperti itu dalam waktu 5 tahun! Amiiin..

Lagi-lagi, post ini agak random. Saya nggak ada offense atau blame kepada orang yang merasa melakukan hal di atas, tetapi hanya ingin sharing pendapat saya saja sebagai konsumen maupun produsen. Peace Love and Respect.. 🙂

1 Comments

Leave a Comment.