Berkomunikasi yang Baik dan Menyenangkan Itu Susah

Sebuah pelajaran lagi hari ini..

Saya ini tipe kepribadian INTJ, yang saya tahu berdasarkan tes yang saya ambil sekitar 2 tahun yang lalu. Yang pasti, kemampuan interpersonal saya itu paling rendah sesuai tes kepribadian tersebut. Saya akui, memang kemampuan saya kurang dalam hal komunikasi.

Bukan karena saya ini diciptakan sebagai tipe pemikir, bukan karena saya terlahir dengan kemampuan kuat di logika, bukan juga karena takdir, tetapi mungkin karena belum terlatih saja. Sebab, sejak dulu saya lebih suka sendiri dan kurang suka berada di keramaian. Keseharian saya pun lebih banyak saya gunakan untuk berinteraksi dengan berbagai barang digital, yang menyebabkan saya jadi cukup geek juga.

Dulu, ngomong di depan kelas saja saya malu, dan gemetar sembari bersuara dengan volume yang kecil. Badan saya emang kecil sih, mungkin itu juga yang bikin saya minder. Saya juga takut dicap sombong atau pamer bila berkata hal yang luar biasa, meski saya sebenarnya memang bisa hal tersebut. Serba takut lah pokoknya.

Nggak cuma bicara di depan umum, kemampuan saya komunikasi one-to-one ataupun komunikasi dalam sebuah grup kecil pun lemah. Saya lebih memilih untuk diam dan mengamati lingkungan. Lebih parah lagi kalau memang pikiran saya sedang tidak ada dalam forum tersebut. Mungkin anggapan teman saya, saya ini nggak asyik buat diajak ngobrol. Soalnya kebanyakan setelah topik A, kalau teman bicara saya gak ngomongin topik B, ya saya gak repot-repot mikir topik obrolan berikutnya.

Alhamdulillah, setelah saya berubah, sedikit banyak kemampuan saya bicara berkembang. Saya yang dulu gelagapan bicara di depan umum, akibat sering presentasi, manggung band, seminar, dan berbagai kenarsisan lainnya, sekarang jadi bisa menguasai situasi bila sedang ada di atas panggung. Saya selalu PD jadi pembicara bila topiknya memang yang saya kuasai. Saya nggak segan untuk angkat tangan bertanya dalam sebuah forum atau seminar bila memang saya ingin bertanya.

Bila bertanya hal yang dianggap orang lain sederhana, semata-mata karena saya nggak mengerti. Bila menyinggung hal yang umum, mungkin karena saya sedang ingin berkomunikasi. Bila berbicara hal yang luar biasa, termasuk tentang diri sendiri, bukan karena untuk pamer dan sombong, tetapi semata-mata untuk berbagi dan menginspirasi orang lain.

Semua kemampuan yang saya dapat itu nggak lepas dari pengalaman dan “keterpaksaan” untuk belajar berbicara di depan publik. Dari sini saya sadar bahwa meski saya introvert, logical banget, dan kurang suka keramaian, ternyata saya juga bisa jadi public speaker yang baik. Yah, tapi saya nggak bisa bilang bahwa saya yang terbaik dan sempurna, saya kan masih belajar perlahan. Setidaknya saya yang sekarang telah mengalahkan diri saya yang dulu.

Tapi ternyata, bakat buruk yang terpupuk sejak kecil itu susah berubah. Meski dalam hal public speaking saya lebih baik, dalam hal komunikasi one-to-one atau grup kecil yang menyenangkan itu belum terlatih sepenuhnya. Saya melihat contoh dalam kasus kecil saja di sekitar saya.

Saya lebih banyak diam dan observasi lingkungan di forum yang sedang terlaksana. Saya pun nggak berusaha menarik perhatian dengan mencari topik yang menyenangkan untuk dibahas. Ketika saya observasi, saya menemukan hal unik bahwa ada orang yang begitu lancarnya berbicara dengan orang lain di forum yang sama. Orang yang berbicara dengan saya rasanya biasa saja, begitu berbicara dengan orang itu, ada aja hal yang dibahas, sehingga komunikasi berjalan menyenangkan.

Saya pernah mencoba hal seperti itu. Dalam sebuah forum, saya mencoba untuk aktif berinteraksi dan berkomunikasi. Bila topik yang dibahas sudah buntu, saya coba memikirkan topik lain untuk dibahas. Hasilnya? Lumayan bisa sih, tapi… capek. Entahlah, saya kadang ngerasa kalau saya tidak menjadi diri saya yang sebenarnya.

Tapi, sebenarnya sekarang saya ingin menjadi pribadi yang menyenangkan, termasuk ketika berkomunikasi. Saya iri sama teman saya yang bisa menyenangkan bagi orang lain tersebut. Rasanya begitu senangnya bisa bercengkrama panjang lebar dengan lawan bicara. Saya juga yakin bahwa ini adalah salah satu kemampuan yang saya butuhkan untuk mencapai berbagai goal saya.

Meski susah dan berlawanan dengan kepribadian saya (yang dulu pernah saya tes), tapi saya akan terus mencoba berusaha. Belajar dengan menerapkan kebiasaan saya observasi terkadang menjadi solusi cukup baik, karena saya jadi bisa mengamati dan mengambil pelajaran dari orang yang lebih mahir. Menimba pengalaman dengan banyak-banyak bersosialisasi dan mengurangi perkumpulan via media digital berbasis teks pun sepertinya bisa ditambahkan untuk optimasi. Semoga niat belajar ini selalu teringat kapanpun dan di manapun. Semangat..!!

Jari saya memang cepat, tapi lidah saya sering terpeleset

Oh iya. Ketidaksempurnaan saya pun masih terasa ketika bertanya di dalam sebuah seminar atau forum. Pertanyaan yang ingin saya sampaikan dan sudah tertanam di otak, kadangkala sering nggak keluar sepenuhnya ketika berbicara. Seperti ada jalan yang saaangaaat panjang dari otak ke mulut. Fyuh..

36 Comments

  1. Tipe kayak kamu tipe orang yang harus dipaksa untuk tampil berani, gak bisa didiemin, kalo gak dipaksa bisa jadi cuma ngikutin alur dan alir, perlu ekstra “pecutan” sih sebenernya supaya ada kemauan dan motivasi

    Reply
    • yoi, itu dulu dan masih sisa sedikit sekarang.. saya pecinta kedamaian, bukan konflik. tapi kalau kemauan dan motivasi, selalu ada kok.. tinggal eksekusinya aja.. haha.. πŸ™‚

      Reply
  2. itulah kenapa diciptakan manusia2 cerewet dan gak bisa diem kayak saya.. salah satunya untuk merangsang manusia2 yg gak terlalu doyan ngomong kayak kamu biar ikutan ngomong..
    hahahaha

    Reply
    • huahaha.. sepertinya kita cocok loh.. *eh
      tapi jadi bingung, mending sering kumpul sama manusia2 cerewet supaya terangsang ngomong, apa kumpul sama manusia2 pendiam supaya jadi “terpaksa” ngomong ya? takutnya kalau kumpul yang cerewet, jadinya malah ndengerin aja..

      Reply
  3. menurutku kamu tidak perlu mengurangi mengurangi perkumpulan via media digital berbasis teks, karena itu juga aset berharga lainnya. Toh sebenarnya dengan banyaknya kegiatanmu itu udah membuat kamu banyak berinteraksi dengan orang banyak kan?

    ngomongin komunikasi sebenere sangat erat kaitane dengan “derajat” kamu dan lawan bicara. semakian homophily (memiliki kecenderungan, minat dan latar belakang yang sama) akan semakin enak komunikasi, malahan bisa semakin dekat. jangan kamu yang I (introvert), aku yang E aja kalo ketemu orang yang gak homophily jadi susah ngomong, canggung dan gak enak. Hehehe…

    Terus tentang kepribadian, menarik sekali. aku senang berdiskusi dengan teman-teman dekatku tentang kepribadian (MBTI; Ekstrovert vs Introvert, Sensing vs Intuition, Feeling vs Thinking dan Judging vs Percieving). Kalo dalam MBTI, kamu masuk dalam tipe Api. Memang sangat cocok menjadi interpreneur, karena orang NT (gabungan Intuitive dan Thinking atau disebut kelompok Api)adalah orang-orang yang biasanya kreatif, suka membentuk atau menciptakan sesuatu. Berseberangan dengan aku yang ESTJ (SJ – Tanah). Menurutku tidak perlu merasa sangat minder dengan I (“tertutup”), orang-orang tipe I memang lebih banyak mendapatkan energinya dengan melihat ke dalam diri, merenung dan sendiri. Gak heran kalo mereka memang suka sepi, malah kalo orang E di sepi-sepi jadi kayak tersedot energinya.

    Masukan satu, kenali dirimu dulu. Tidak perlu menjadi yang Haqqi yang bukan dirimu. Hehehe… Ada temenku yang bilang, “memahami diri sendiri itu kekuatan dan memahami orang lain itu kelebihan”.
    Hehehe…

    Maaph komene ternyata jadi panjang….
    Beginilah kalo sudah ketemu tema yang pas (kepribadian – MBTI). Kalo tertarik tentang itu, kita bisa diskus lebih lanjut. Atau mungkin ada pertanyaan-pertanyaan seputar itu aku juga akan sangat senang. Insya Allah akan aku bantu jawab, kalo mau aku ada ebook tentang itu juga looo.. *promosi*

    aduh jadi panjang lagi. mudah ah, TETAP SEMANGAT Qi!!!
    *nari papatome*

    Reply
    • wueeeeik.. duowone comment-e.. tapi gpp, keren nih kalo dari pandangan psikologis beneran. yang di email aq reply di sini sekalian aja ya, plus aku repost di sini..

      // via email
      http://www.personalitypage.com/INTJ.html
      http://en.wikipedia.org/wiki/INTJ
      http://typelogic.com/intj.html

      Itu ada beberapa website yang lumayan untuk penjelasan mengenai INTJ. Sebenarnya kalo menurutku dan setahuku tidak selalu orang dengan tipe INTJ akan menjadi orang yang rendah dalam kemampuan interpersonal. Liat kutipan dibawah ini, ada aset kuat yang dimiliki oleh orang-orang INTJ dalam hal hubungan interpesonal.

      Probably the strongest INTJ assets in the interpersonal area are their intuitive abilities and their willingness to “work at” a relationship.

      Introvert/Ekstrovert itu merupakan Sumber Energi, orang-orang I (Is) memang lebih banyak mendapatkan energi ketika sendiri, ketika punnya waktu yang cukup untuk melihat ke dalam. Kecenderungan orang-orang I adalah cenderung lebih nyaman saat sendiri (tidak sedang berhubungan/bersama dengan orang lain), sedang orang E lawannya I akan sangat nyaman ketika bisa bersama-sama dengan orang lain, seperti ke-charge energinya. [semoga penjelasanku mudah dimengerti].

      Introvert ataupun Ekstrovert itu tidak saklek, setiap kita memiliki keduanya, dan masing-masing berfungsi pada waktunya masing-masing, akan tetapi ketika kita membicarakan kecenderungan artinya adalah mana yang lebih sering kita munculkan. Kepribadian yang kita bicarakan ini cukup banyak dipakai dalam organisasi, termasuk untuk penempatan kerja dan lain sebagainya.

      Biasanya orang-orang J misalnya (yang sudah keteraturan dan terencana dalam menghadapi suatu pekerjaan; bener gak kamu juga gitu? harus dijadwalkan dulu dll), memang bisa menjadi P (yang spontan dan biasanya bisa maksimal kalo mendekati deadline, kalo direncanakan malah lemah/gak maksimal), sangat fleksibel dan spontan menghadapi kerjaan tapi dia tidak akan maksimal dengan itu dan biasanya merasa kurang nyaman.

      Orang-orang tipe NT (INTJ, ENTJ, ENTP, INTP) merupakan orang-orang yang hebat menurutku. Karena tipe-tipe ini sangat termasuk tipe yang sangat sedikit di dunia (paling banyak itu SJ; ESTJ, ISTJ dll). Orang-orang NT biasanya kreatif dan punya jiwa enterpreneur yang bagus [setahuku].

      Oh ya, ada yang hampir lupa, kalo mungkin kamu dulu INTJ coba mungkin besok atau minggu depan cek lagi, apakah masih sama INTJ, biasanya kalaupun toh sama, biasanya ada yang berubah, yaitu persentasenya. Kalo mungkin dulu I bisa sampe 80% dan E cuma 20%, mungkin skrang dengan banyaknya kegiatan dan ketemu dengan orang lain membuat I mu menjadi 65% dan E mu menjadi 35%. Artinya, memang masih cenderung Introvert tapi tidak se ekstrem yang lama. Kurang lebih gitu.

      Hadeeh… lagi-lagi. Ngomong banyak. Maaph ya Qi! Kalo udah ngomong kepribadian gini, jadi seru sak karepe dewe.
      Semoga penjelasanku bermanfaat dan dipahami. hehehe. :-D.

      Tetap semangat.
      // close via email

      Reply
    • rumit ya kalo belajar tentang psikologi ini. benernya psikologi dasar manusia itu pada dasarnya bisa/mudah berubah gak sih?

      komunikasi memang lebih menyenangkan kalau sudah sejalan. nah, PR-nya kan bagaimana bisa dengan cepat mensejalankan pikiran kita dengan lawan bicara, kemudian mengarahkannya ke topik yang kita sukai tanpa membuat mereka merasa nggak nyaman. Itu kalau nggak salah termasuk di teknik hypnosis.

      kalo aq INTJ, cocoknya kalau cari partner bisnis sama tipe apa ya?

      Reply
  4. Iya, bicara tentang kepribadian menurutku cukup rumit..
    kalau mencari partner bisnis, mungkin ENTP atau ENFP?
    Sesama N lebih sering bisa nyambung satu sama lain dengan baik.
    ENTP punya banyak ide dan kemampuan ‘menjual’, sementara INTJ yg perfeksionis berpotensi menjadi eksekutor handal untuk merealisasi ide2 yg ga umum.
    ENTP + INTJ = duet mematikan.
    tentu tidak menutup kemungkinan untuk berpartner dengan tipe lainnya..

    Reply
    • oooh, begitu.. jadi sesama N ini baik ya.. tapi terkadang justru saya yang punya banyak ide tuh, cuma jarang eksekusi, meski saya yakin kalau saya mau eksekusi bisa lebih baik dari yang lain. cuma saya ini dasarnya “males”.. lebih seneng mikir daripada eksekusi.. hehe..

      Reply
  5. saya juga mengalami hal yang sama seperti sampean,, saya orangnya pendiem ,, ngrasa gak asik kalo di ajak ngobrol, q dah berusaha banyak bicara tapi tetep aja susah, kdg ngrasa bkan diri sendiri gitu,, sebenernya q pengen banget jadi pribadi yang gk ngebosenin. kalo ngomong q ati2 banget karna takut kemakan omongan,, susah buat ungkapin . sampean bisa bantu gak , gimana sih biar jadi pribadi yang menyenagkan , yang gk ngebosenin,,,,, sblumnya mkasih

    Reply
  6. “ketidaksempurnaan saya pun masih terasa ketika bertanya di dalam sebuah seminar atau forum. Pertanyaan yang ingin saya sampaikan dan sudah tertanam di otak, kadangkala sering nggak keluar sepenuhnya ketika berbicara. Seperti ada jalan yang saaangaaat panjang dari otak ke mulut.”

    Benar-benar sesuai dengan yang saya alami. saya sampai mikir klu antara otak ma mulut saya itu koneksinya ud putus, gak nyambung lagi,,

    parahnya lagi sekarang saya jadi wali kelas yang harus banyak ngomong empat mata sama orang tua murid,,benar-benar harus banyak belajar.

    Reply
  7. wah.. mirip banget sama saya, sesama INTJ :D.. saya juga gitu, pusing kalo disuruh ngobrol sama orang yang nggak homophily, bingung cari bahan obrolan.. susah ngomong di depan umum.. lebih suka mikir daripada eksekusi.. hahaha..

    Reply
  8. saya juga mengalami hal yg sama kayak gini, tapi sepertinya lebih parah, aku terlalu pendiem, kira2 aku pantas ga ya untuk kuliah di bidang entrepreneur dengan keterbatasan komunikasi gini?
    Padahal menurut hasil tes IQ yg saya lakukan baru2 ini, saya mempunyai kemampuan membaca peluang dan kreativitas yang cukup tinggi, tapi dlm hasil tersebut memang kemampuan komunikasi saya kurang, kira2 gimana ya? saya takut ga bisa memaksimalkan kemampuan yang saya miliki, karena komunikasi saya kurang…
    saya tau kalo saya ga segera memperbaiki komunikasi saya ini, saya akan selamanya kaya gini, ga maju2, masalahnya gimana caranya memperbaikinya? oh iya kalo mau tes kepribadian itu dimana, sekalian saya ingin mencurahkan semua unek2 saya….
    makasih…harap bantuanya… πŸ™‚

    Reply
    • Pendiam bukan berarti gak punya bakat sebagai Entrepreneur. Ilmu itu bisa dipelajari. Kemampuan komunikasi pun bisa dipelajari. Gak perlu takut dengan kekurangan, yang penting terus mengembangkan diri.

      Memperbaiki dengan ketemuan sama berbagai jenis orang baru. Ikutan seminar dan workshop tentang public speaking. Baca buku tentang berkomunikasi yang baik.

      Kalau mau tes, bisa coba di http://mypersonality.info

      Reply
  9. Kadang yg kita maksud . Org lain g ngerti. Sampai2 kita d blg g nyambung.
    Karna bicara terlalu d singkat(maksud mendalam).
    Habis deh jafi bahan bully. G nyambung dll .

    Reply
  10. pak.. saya benar2 sedih mengenai artikel diatas.. saya termasuk orang yang seperti itu.. saya tidak tau cara untuk berkomunikasi dengan lawan jenis, karena saya termasuk orang yang sulit untuk di ajak berkomunikasi.. terkadang apa yang saya katakan tidak sepaham ama lawan jenis.. jadi apa yang harus saya lakukan? saya sudah lelah terus seperti ini.. umur saya sekarang 19tahun.. apa boelh saya minta masukan bapak?

    Reply
  11. Akhirnya sy menemukan tulisan yg sesuai dgn kendala yg sdg sy alami. terkadang sy menyesal, kenapa sy dari dulu tdk memperhatikan cara berkomunikasi sy sendiri, yg kalau berbicara semaunya asal keluar suara yg penting org faham apa yg sy katakan, meskipun terkadang harus berulang-ulang mengucapkannya, mungkin karna suara sy kecil akibat kurang pede dan takut salah ngomong..
    kemudian, ketika sy sudah menjadi BPH dalam sebuah organisasi yg tugasnya harus berhadapan didepan anggota yg lain, misal hrus menyampaikan informasi lisan, memimpin rapat, berbicara dgn pejabat kampus, & berbicara dalam forum lainnya.. barulah sy benar2 merasa bahwa kekurangan sy tuh salah satunya dlm hal berkomunikasi.. dan sy harus memperbaiki komunikasi saya..
    trimakasih atas postingannnya dan komentar2nya.. πŸ™‚

    Reply
  12. Hal yang sama yang aku alamin selama ini. Terlalu tertutup karena takut salah ngomong, dan kalo ngomong pasti sering salah paham. Maksud baik malah jadi rumit. Akhirnya jadi jarang banget ngomong. Ada yang berpendapat kalo aku terlalu tertutup dan harus jadi terbuka. Dan makin lama semenjak itu, aku harus lancar berkomunikasi, lebih terbuka namun dalam batasan yang baik. Mohon bantuannya ya πŸ™‚

    Reply
  13. saya juga mengalami hal yang sama, kadang kumpul sama orang banyak cuma diem ,mau buka topik pembicaraan susah banget. sekalinya ngomong salah, dan kadang nggak nyambung jadi deh bahan tertawaan & bulli an. sebenernya otak ku nyampek tapi tiap ngomong selalu salah kayak mau nyampek in yang dipikiran lewat mulut tuh susah banget. apalagi aku tipe orang yang sakit hati an tiap kali aku ngomong trus nggak nyambung sama pembicaraan orang lain ,yang jelas lawan bicara kita jadi agak sebel kan, nah itu kadang saya merasa sakit hati. gimana ya cara nya ngomong yang baik biar nggak di katain telmi? tolong bantuannya

    Reply
  14. Berkomunikasi yang Baik dan Menyenangkan Itu Mudah kok jika kamu telah melepaskan mental blok yang ada pada dirimu. solusinya sangat mudah, di hipnoterapi saja. banyak kok yang telah berhasil berbicara dengan mudah dan menyenangkan setelah di hipnoterapi padahal sebelumnya susah/tidak bisa. salah satu kisah kesembuhannya bisa dilihat di http://goo.gl/rFMdvO semoga membantu!

    Reply
  15. Mas Haqqi mau tanya nih
    Aku dulu orangnya melankolis maksudnya introvert sama sensian. Duku saya cengeng banget, tapi semakin nambah umut saya tidak cengeng lagi tapu saya masih sensian oh iya ada yg bilang kalo saya sensi gara2 suka negative thinking. Saya malu banget. Saya udah coba bertemu banyak orang cuma saya prefer berbicara 1 on 1 biar saya pede berbicara. Abis saya belom pede ngomong depan grup. Oh iya saya kalo ngomong suka gak nyampe di lidah jd saya ngomongnya belepotan :”

    Gimana solusinya mas?

    Reply
  16. Ya ampun, bener banget tulisannya Mas Haqqi. Saya juga ngalamin dan ngerasain hal yamg sama, persis. Saya sampe kesel sama diri sendiri, kenapa ga bisa kayak si extrovert yg bisa langsung casciscus ngobrol sama orang yg baru kenal. Jadi, solusinya itu dilatih ya pelan-pelan Mas Haqqi? Btw, Nice article!

    Reply

Leave a Comment.