Ketika Semua Berjalan Bersamaan

Hampir ngerasa nggak punya waktu luang..

Dulu, setidaknya waktu SMP dan SMA (yang saya ingat), keseharian saya setelah pulang sekolah atau waktu liburan, selalu diisi dengan main-main dan hiburan untuk diri sendiri. Mulai dari balapan ke Game Center langganan biar dapat komputer, nongkrong lama-lama di perpus langganan sambil nunggu buku inceran dikembalikan, seharian namatin game di rumah dan gak belajar. Kebanyakan semua isinya kesenangan untuk diri sendiri.

Sejak masuk kampus saya di Universitas Ma Chung, saya niat untuk berubah dan aktif di berbagai organisasi. Diawali dengan jadi anggota BEMU yang ternyata cukup menyita waktu luang namun penuh pengalaman, hingga saat ini terlibat di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Otomatis, waktu saya juga harus saya bagi untuk organisasi yang saya ikuti.

Nggak nyangka, saking semangatnya ikut berbagai organisasi, sampai kelabakan. Akibatnya malah gak bisa all out di satu organisasi aja, dan otomatis harus ada yang diprioritaskan, bahkan ada yang saya lepas. Kalau semua sama-sama nyantai sih gak masalah. Tapi waktu semua mau jalan bareng, itu repotnya.

Terkadang, posisi saya di organisasi itu bukan di taraf anggota saja, tapi sudah jadi pengurus lah paling nggak. Yang namanya pemimpin, otomatis harus bekerja lebih keras daripada bawahannya donk. Selain itu, saya terkadang diberikan tanggung jawab berlebih saat menjadi bawahan, karena saya dianggap mampu. Itu lah yang menyita waktu saya saat ini.

Sejak kuliah, sudah jarang main game. Karena bosen juga sih. Perpustakaan komik langganan juga jarang disamperin lagi, paling 2 bulan sekali. Untung sudah kenal sama pemiliknya, jadi tanpa kartu jaminan dan pinjaman dalam waktu lama pun, keanggotaan saya gak dihapus. Nonton film pun juga jarang-jarang.

Di organisasi A, saya harus menjadi pengurus dan ikut dalam kepanitiaan kegiatan. Di organisasi B, saya malah dikandidatkan jadi ketua. Di organisasi M, saya core person yang memegang kendali dan gak bisa dilepas sama sekali. Di organisasi P, saya masih berkewajiban untuk terus kontribusi artikel. Di organisasi K, sementara saya pending karena prioritas, meski sebenarnya pingin ikutan jalan terus. Di organisasi K lainnya, bentar lagi merapatkan barisan untuk menjalankan program. Di organisasi J pun, saya masih terus aktif ngeband bersama tim A. Di organisasi S juga, saya baru semangat menempa fisik saya secara perlahan. Belum lagi organisasi baru S, yang mana saya berencana aktif di dalamnya. Dan masih buaaanyaaaak lagi kegiatan lainnya. Sementara itu saya juga punya kewajiban sebagai manusia, mahasiswa, anak, kakak, dan yang pasti sebagai ciptaan Tuhan YME.

Efek sampingnya, sepertinya waktu saya jadi bukan milik saya sendiri saja. Terlebih lagi ketika semua jalan bareng, saya sampai kurang istirahat. Terkadang ada kegiatan yang saya fokuskan, tapi kegiatan lain nggak. Jadinya agak nggak enak juga sama organisasi yang diprioritaskan lebih rendah. Itulah kenapa, sekarang ini saya sedikit menolak waktu diberikan tanggung jawab lebih di kegiatan apa pun. Bukan karena sombong nggak mau, tapi karena takut nantinya malah nggak all out. Selesaikan yang ada dulu deh…

Tapi, efek baiknya saya jadi semakin pintar membagi waktu dan memelihara semangat bermain. Saya juga jadi punya banyak temen yang hebat-hebat. Lagian, semua kegiatan itu juga pilihan saya sendiri kok, gak ada yang paksaan. Jadi, enjoy aja…!!!

Next time, semoga saya punya dana berlebih untuk ikutan Work Camp di Jepang dan stay beberapa hari di rumah teman di sana. Nabung yuuuk..

Gambar diambil dari http://lostincci.files.wordpress.com/2010/10/busy.jpg

6 Comments

  1. aku jadi inget dulu pas masih kuliah, semboyannya jangan sampe kuliah mengganggu UKM :p

    But looking at the bright side, sekareng pas udah kerja, skill organisasi sangat membantu.

    Reply
  2. “..saya jadi semakin pintar membagi waktu dan memelihara semangat bermain. Saya juga jadi punya banyak temen yang hebat-hebat.”

    Setuju sekali.

    Kalo aku dari pas SMA udah banyak kayak gitu, pernah merasakan juga bagaimana rasanya saat harus memilih, menentukan prioritas dan menerima kenyataan bahwa kita “meninggalkan” yang lain. Tapi kita jadi lebih pinter kayak kata kamu.

    Aku pun juga belajar, belajar berdamai dengan idealisme dan prefeksionisku. Mencoba menerima bahwa memang segitu saja yang dapat kita lakukan (setelah berusaha memberi yang terbaik tentunya). Karena klo gak gitu, kita yang akan menyakiti diri kita sendiri dengan blaming diri kita gak allout dan lain-lain. Hehehe..

    that’s my opinion.

    GANBATTE NE!! Zuttto ganbarimasu ne!

    Reply
    • bodohnya saya baru mengerti tentang pentingnya hal ini akhir-akhir ini. Harusnya dari dulu saya sadar, jadinya pasti lebih hebat dari sekarang. Rugi waktu deh, udah terlewat.

      sangat nggak nyaman kalau meninggalkan yang lain demi kepentingan yang lain lagi. Sebisa mungkin saya turuti kepentingan siapa pun. Akibatnya, memang jadinya waktu saya ini jadi seperti bukan waktu milik saya deh..

      Reply

Leave a Comment.