Pemimpin, Dengarkanlah Saran Bawahanmu

Sebuah refleksi lagi, tentang kepemimpinan..

Kepemimpinan adalah sebuah seni

Belajar bersosialisasi dan berorganisasi memang nggak ada selesainya, dan selalu saja ada pelajaran di baliknya. Dalam sebuah organisasi, tentunya ada banyak orang dengan background yang berbeda. Alangkah baiknya bila pemimpin organisasi tersebut menempatkan setiap anggotanya di bidang yang sesuai, dengan demikian organisasi akan berjalan dengan baik.

Tapi tidak hanya itu, masih ada masalah lain. Seorang pemimpin, tentu saja bukan superman yang tau segala hal. Bisa jadi hal A lebih dikuasai oleh anggota Z, sedangkan pemimpinnya kurang mengetahui isi hal A tersebut. Itulah sebenarnya manfaat pembagian posisi dan tugas, sehingga masalah A tersebut dapat diselesaikan dengan baik oleh anggota Z, bukan oleh pemimpinnya.

Saya juga seperti itu, ketika ada teman yang kebetulan saya pimpin dalam tim, selalu saya coba tempatkan di posisi yang tepat. Tidak jarang bahwa anggota tersebut lebih hebat di bidangnya daripada saya. Memang itu tujuan saya, menyatukan para expert di bidangnya masing-masing. Sedangkan saya, hanyalah orang yang biasa-biasa saja, yang berinisiatif menghubungkan mereka.

Setiap ada masalah, saya selalu tanyakan kepada anggota yang sesuai bidangnya. Misalkan, masalah desain selalu saya serahkan dan tanyakan ke David, sementara saya hanya memberikan saran saja bila memang kurang sesuai menurut saya. Begitu juga tentang pembuatan program, saya selalu diskusikan dengan Alexander. Keputusan terbesarnya, sebenarnya terletak di anggota saya itu, karena memang dia yang lebih paham tentang bidang itu.

Saya tidak akan berargumen panjang dan strict, terutama untuk masalah teknis, karena saya sadar bahwa saya belum tentu benar. Lagian kan saya sendiri yang menempatkan mereka, bagaimana saya mau menentang argumen mereka mentah-mentah? Itu sih sama saja dengan tidak menghormati dan mempercayai mereka. Saya baru berani mengambil keputusan dari argumen saya bila memang anggota lain yang sesuai bidangnya tidak ada yang berargumen lain. Kalau ada salah satu anggota saja yang ngotot dengan argumennya, saya pasti mereview argumen saya dan mencoba mengkomunikasikannya. Bila memang saya salah, dengan senang hati saya ikuti argumen yang lebih tepat tersebut.

Itu kalau saya di posisi pemimpin. Kalau saya di posisi anggota, bagaimana?

Sedikit kurang sreg rasanya kalau argumen saya yang mana sebenarnya saya dipercayai di bidang saya, ditolak mentah-mentah sama pemimpin saya. Padahal saya sudah berusaha susah payah untuk memberikan solusi yang terbaik menurut saya. Yah, introspeksi lah. Mungkin memang saya yang salah. Jadi, sementara ikuti pemimpin saja lah, dengan berbesar hati serta tetap rendah hati. *ngelus dada*

3 Comments

Leave a Comment.