Saya Marah

Meski tetap tersenyum, tapi..

Meski jarang menunjukkannya secara langsung di depan orang yang bikin saya emosi, tapi saya juga bisa marah loh sebenarnya. Saya cuma manusia biasa yang meski marah tetap mencoba untuk bersabar dan mengerti mengapa orang lain itu bertindak suatu hal yang membuat saya marah. Modelling, tetap menjadi salah satu cara saya untuk terus mencoba menjadi bijak.

Di luar itu semua, sekarang saya coba introspeksi diri dan membuat daftar apa saja hal yang biasanya membuat saya marah, setidaknya marah dalam hati.

Saya marah ketika, di jalan sempit, seorang anak muda naik motor bagus, bunyiin klakson keras-keras ke pak tua di depannya, yang lagi naik/dorong sepeda kumbangnya. Batin saya, apa nggak bisa sabar sedikit, bentar lagi kan udah lewat jalan yang agak gedhe, jadi bisa nyalip. Kalau saya, selalu bersabar kalau ada hal seperti itu meski sedang keburu.

Saya marah ketika, bila ada suatu janji ketemu yang waktunya sudah pas dan harusnya tepat waktu, ada seseorang yang terlambat tanpa memberitahu mengapa terlambat sebelumnya. Saya cukup emosi (dalam hati tentunya), kalau ada yang terlambat tapi gak ngasih kabar apa-apa seperti itu. Kalau saya, cenderung biasa tepat waktu, meski kadang terlambat juga untuk kasus yang bukan sebuah perjanjian. Tapi di setiap perjanjian yang mana saya datang terlambat, saya selalu mengabari kalau terlambat dan mengapa.

Saya marah ketika, saya enak ngomong baik-baik ke seseorang (ditambah guyonan), tapi orang itu menanggapi dengan ketus atau sok-sokan. Entah itu di-chat, twitter, ataupun ketemu langsung. Saya lebih memilih untuk diam kalau itu terjadi. Repot kalau mesti ngeladenin yang begituan. Kalau saya, diajak ngobrol apapun, selalu mencoba menanggapi dengan ramah terlebih dahulu. Seandainya suasana hati lagi gak enak pun, tetap saya tanggapi, setidaknya dengan tanggapan datar.

Saya marah ketika, ada orang lain yang suka menyalahkan, tetapi dirinya nggak mau disalahkan. Sok pintar atau sok kuasa gimana gitu. Ketika ada sebuah kesalahan, selalu saja keadaan atau orang lain yang disalahkan. Nggak mau introspeksi diri dulu. Kaau saya, sebelum menyalahkan orang lain selalu mencoba untuk introspeksi terlebih dahulu. Siapa tahu kalau itu sebenarnya salah saya yang nggak mengingatkan orang yang membuat kesalahan itu.

Saya marah ketika, orang yang saya percayai mengkhianati kepercayaan itu. Pengkhianatan selalu berawal dari kebohongan. Karena itu saya nggak suka sama orang yang suka bohong. Kalau saya, selalu berusaha sebisa mungkin untuk nggak pernah berbohong. Karena saya sama sekali nggak suka dibohongi.

Terakhir, saya marah ketika, lagi enak-enaknya kerja pakai laptop yang baterainya dilepas, eh PLN seenak udelnya matiin listrik. Kalau saya, masalahnya bukan saya yang punya PLN. Sekian.

Ditulis pada saat listrik sudah nyala setelah mati tiba-tiba selama sejenak. Meski sejenak, ya gitulah..

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa membuat saya marah, tapi Alhamdulillah selama ini saya masih bisa bersabar dan gak sampe tawuran, santet, dan sebagainya.

Gambar diambil dari: http://1.bp.blogspot.com/_v-RSXI6qTg8/SFHRtwAeDDI/AAAAAAAAAfY/r0ehEe4-VGo/s320/angry+cat+1.jpg

8 Comments

      • aku baca lho Qi.. makanya lama ya balesnya :p

        Aku juga sering kaya kamu gitu, padahal dulunya suka emosian, panasan (karena deket-deket sama kompor). Tapi lama-lama bisa mengendalikan diri sendiri..

        Tapi marah kadang perlu juga deh Qi, biar nggak jadi keringet buntet ;))

        Reply
        • ahlesyan.. padahal baru buka milis, terus mampir sini.. wkwk..

          iya, yang penting itu pengendalian diri sendiri.. saya pakai teknik modelling (NLP), meski gak sepenuhnya..

          Reply

Leave a Comment.