Ma Chung Story – Part 2 – Masa Orientasi

Terombang-ambing dalam perubahan

Prolog

Cerita ini melanjutkan bagian cerita sebelumnya, setelah saya masuk ke Universitas Ma Chung tercinta. Rasanya seperti terjadi begitu saja, yang kemarin sepertinya masih masa SMA, tiba-tiba sudah bertemu teman baru di sebuah universitas baru pula. Adaptasi besar-besaran perlu dilakukan.

Memang, salah satu alasan saya memilih sesuatu yang baru ini adalah untuk mencari teman-teman yang benar-benar baru pula. Saya sempat berpikir, kalau saya ikut teman-teman SMA saya yang lain, maka lingkungan saya nggak ada perubahan. Itu berarti saya akan sulit pula berubah. Sebab saya harus tetap menjadi diri saya yang sebelumnya, yang kuper dan punya teman itu-itu aja.

Masa orientasi

Sekitar satu bulan lebih sebelum masuk perkuliahan resmi tahun ajaran baru, di mana teman-teman yang lainnya masih sibuk ngurus persyaratan kuliahnya di kampus lain, saya malah sudah diwajibkan untuk mengikuti masa orientasi yang lamanya sekitar satu bulan setengah. Jangan dibayangkan kalo masa orientasi di kampus ini sama dengan kampus lain, yang mana senior melakukan tindakan yang menjurus ke bullying ke mahasiswa baru.

Inilah salah satu hal yang membuat saya bangga dengan kampus saya. Masa orientasi mahasiswa baru benar-benar diisi dengan pembekalan untuk kuliah. Satu bulan pertama, kita diberikan kursus bahasa inggris setelah sebelumnya mengikuti tes penempatan kelas. Untungnya saya masuk kelas unggulan pertama, yang mana kalau dilihat sekarang, memang orang-orang di kelas itu yang menonjol selama perkuliahan 4 tahun ini. Yaaa, nggak semua sih. Setidaknya, ini kelas terbaik yang aktif dan mendapat pujian dari seluruh tutor.

Setelah itu, selama 2 minggu kita diberikan pembekalan skill untuk kuliah. Mulai dari cara menulis akademik, brainstorming, time management, sampai note taking. Bayangin, bikin catetan aja dikasih latihannya. Beberapa materi memang sudah nggak asing buat saya sih, tapi setidaknya ini lebih baik daripada OSPEK yang mesti disuruh pakai topi kertas dan bawa-bawa kresek warna-warni itu.

Selama 1 bulan setengah masa orientasi itu, kita dibagi juga dalam kelompok-kelompok kecil dengan nama kelompok berupa nama pahlawan pendidikan. Saya masuk di kelompok Oei Ie Pan, yang sekarang menjadi nama perpustakaan di kampus saya. Bukan sebuah kelompok yang kondusif menurut saya pribadi, ditambah dengan ada beberapa anggota yang urakan. Batin saya waktu itu, ini adalah sesuatu yang saya benci.

Dalam film The Secret, justru cara berpikir ini yang menyebabkan diri kita malah terkubur dalam penderitaan. Saya yang baru ini sudah menyadari hal tersebut dan mencoba untuk berubah.

Parahnya, kelompok ini pula yang akan jadi kelompok salah satu jenis mata kuliah saya selama 3 tahun di depan. What? Saya mulai pikir-pikir deh. Tapi mau gimana lagi, yang sudah terjadi mesti dijalani.

Di masa orientasi ini, sisi introvert saya masih mendominasi. Padahal saya ada di kelas yang potensial untuk network, tapi apa dikata, saya masih belum mengerti pentingnya network di masa itu. Saya jadi cuma ngobrol sama temen yang sudah kenal aja. Saya nggak berani mendominasi pula, karena saya adalah minoritas di kampus yang mayoritas keturunan tionghoa dan non-islam itu.

Tetapi sebuah cambukan membuat saya secara tidak langsung berubah. Seperti yang telah saya ceritakan di post sebelumnya, Ibu saya menjual sepeda motornya agar bisa membayar biaya masuk kuliah. Belum lagi biaya kuliah per semester yang bila ditotal sekitar 5-6 juta. Bukan jumlah yang kecil menurut keluarga kami, karena ada adik-adik juga yang memerlukan biaya sekolah. Sejak itu saya putuskan saya harus mencari beasiswa.

Berdasarkan yang saya amati, ada banyak cara mencari beasiswa. Salah satu cara yang termudah adalah dengan aktif di organisasi. What? Saya yang pendiam dan introvert ikutan organisasi? Kalau teman-teman saya yang lama ngelihat saya sih pasti mikir saya aneh. Tapi untung di sini teman-teman baru semua. Mereka nggak tahu aslinya saya. Ketika ada pemilihan ketua himpunan dan ketua angkatan, saya nekad mengajukan diri.

Ternyata pemikiran saya jadi bumerang. Sistem pemilihan dilakukan secara voting setelah pidato visi misi dan program kerja. Karena mereka nggak kenal saya, jelas saja mereka memilih calon lain yang lebih dikenalnya. Disamping itu, kemampuan public speaking saya waktu itu jelas-jelas belum terlatih. Saya pun berpikir bahwa pidato saya menggelikan waktu itu. Ya, saya tidak terpilih baik jadi ketua himpunan maupun ketua angkatan.

Untungnya masih ada satu peluang lagi, pendaftaran anggota BEMU — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas. Bedanya dengan pemilihan sebelumnya, pemilihan ini melalui wawancara oleh ketua BEMU. Ketua BEMU telah terpilih lebih dahulu. Dia dan staff bidang kemahasiswaan (bidkem) melihat saya punya potensi, lalu saya dimasukkan menjadi koordinator bidang professional skill. Di keorganisasian ini juga nantinya saya banyak belajar.

Saya sangat berterima kasih kepada masa orientasi kampus saya itu, karena telah mencampurkan saya dengan mahasiswa berbagai latar belakang. Hasilnya, saya jadi punya banyak teman selain di kelas dan kelompok saya. Dari yang seetnis, seagama, sampai dengan yang beda etnis dan beda pola pikir. Bayangkan bila tidak dicampur, dengan sifat saya yang masih introvert waktu itu, pasti sampai sekarang pun pertemanan saya nggak akan berubah. Kumpul dengan itu-itu saja.

Masa orientasi selalu diakhiri dengan sebuah acara besar yang dinamakan Ma Chung Festival. Acara itu berisi pentas seni, budaya, dan bazar beserta pertunjukan lainnya. Sebuah acara yang menarik bagi saya, sebelum menjalani perkuliahan tahun pertama yang cukup menjemukan. Ya, waktu itu saya belum punya roadmap yang jelas untuk masa kuliah saya. Tapi semua itu berubah sewaktu di tengah masa perkuliahan.

— to be continued —

3 Comments

Leave a Comment.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.