One Day Motivation Training by Krishnamurti

Sebuah investasi lagi untuk sukses jiwa dan raga

Sukses itu adalah tidur nyenyak di malam hari – Krishnamurti Words

Sepenggal kalimat di atas adalah salah satu contoh definisi sukses yang unik dari Pak Krishnamurti ini. Bisa benar, bisa salah. Sebab bagaimanapun sukses itu tergantung definisi masing-masing orang. Saya pun mempunyai definisi sukses saya sendiri.

Bersama Krishnamurti, salah satu role model dari sekian banyak role model saya

Untuk menuju sukses tersebut, tentunya harus ada perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan. Seperti hukum alkimia di komik Full Metal Alchemist, buat yang pernah baca pasti tahu — untuk menghasilkan sesuatu, harus ada pengorbanan. Bisa sih tanpa pengorbanan, tapi harus pakai batu bijak. Hmm, tiba-tiba kepikiran nih. Gimana kalo sukses dengan menghabisi salah satu konglomerat untuk dijadikan batu bijak ya? Haha..

Balik ke topik deh. Sekitar akhir tahun 2010 lalu, waktu saya ikutan salah satu seminar yang diadakan oleh AMA Indonesia Cabang Malang, saya merasa tertarik dengan pembicara hari itu. Krishnamurti namanya. Saya lupa topik waktu itu, yang pasti saya hanya mengingat tentang NLP — Neuro Linguistic Programming — sebuah ilmu baru yang cukup menarik buat saya. Selain itu, gaya bicara Pak Krishnamurti yang santai ini membuatnya berbeda dari pembicara lainnya. Begitu sederhana dan murah hati sosok yang saya lihat waktu itu.

Seperti pembicara yang sekaligus penulis, pada umumnya selalu ada sesi “jualan” buku dengan “iming-iming” tanda tangan. Saya sih nggak terlalu tertarik dengan tanda tangannya, tapi saya pingin tahu jalan pikiran penulis buku itu lebih lanjut. Saya beli deh bukunya itu, yang judulnya “Damaikan Setan dan Malaikat dalam dirimu”. Eh ternyata, bukunya memang beda dari biasanya. Super beda dan nggak biasa..!! Saya baca habis buku itu waktu saya di Pelatihan Pengembangan Karakter Pemuda Indonesia yang kebetulan pas sesi membosankan. Hehe…

Nah, di buku itu ada voucher training gratis yang diadakan di kota-kota besar. Salah satu kota terdekat adalah Surabaya. Ya daftarlah saya via SMS ke nomer yang tersedia. Yap, itu akhir 2010 lalu. Alhamdulillah, hari kamis kemarin, pas saya wisuda, saya dapat sms dari penerbit Kanisius kalau akan diadakan seminar di Surabaya pada tanggal 9 July 2011, dengan tiket masuk berupa buku itu. Waw, mendadak sekali…

Dengan keputusan setengah bulat sampai pagi ini, saya nekad berangkat ke Surabaya untuk menghadiri seminarnya Krishnamurti. Kenapa setengah bulat? Ada beberapa alasan. Pertama, karena jauh dan nggak ada temennya. Sebenernya saya mau ngajak salah satu teman saya di AMA Malang, eh ternyata lagi di Singapura. Ngajak teman lain pun rasanya percuma, gak bakal ada yang mau bayar atau beli bukunya.

Kedua, karena saya ada undangan syukuran kelulusan oleh salah satu teman saya. Event sekali seumur hidup gini, benernya sayang untuk dilewatkan. Padahal ini bisa jadi sebuah memori untuk masa depan, dan pasti ada foto-foto — maklum, blogger kan harus narsis.. hehe.. Ketiga, karena sebelum ada sms itu, saya niatnya hari ini mau selesaikan project yang lagi saya garap sama tim.

Ada ribuan, bahkan jutaan alasan untuk tidak sukses. Ya, sukses memang perlu komitmen dan pengorbanan.

Yap, kalau mau diruntut lagi sih, akan ada sejuta alasan untuk nggak berangkat. Di satu sisi ini bisa jadi langkah penting bagi saya untuk sukses, di sisi lain ada teman juga sama pentingnya dengan arti sukses. Meski demikian, saya berangkat juga. Ehm, saya juga niat numpang mandi di rumah saudara sih, karena air di rumah lagi mati. Hehe..

Di tengah jalan, saya jadi ingat salah satu pesan motivator — saya lupa yang mana — fokuslah pada satu hal di satu waktu, itu jauh lebih baik daripada konsentrasi terpecah. Okelah, karena sudah nanggung untuk balik pulang, saya pun membulatkan hati. Dalam hati saya, “saya yakin ini akan jadi langkah pengorbanan menuju sukses”.

Bukankah komputer saja, lebih baik performanya bila difokuskan untuk menjalankan satu program saja, daripada menjalankan banyak program sekaligus???

Sebetulnya malam hari itu saya sudah set perkiraan waktu perjalanan. Saya naik sepeda motor saya sendirian. Lihat di Google Map, jarak perjalanan ke tujuan sekitar 90km. Itu berarti, kalau kecepatan saya rata-rata 60km/jam, saya akan sampai dalam waktu 90 menit. Pas dari rumah saudara saya (setelah numpang mandi tentunya), saya lihat jam saya pas 7:30 sebelum berangkat. Perhatikan, saya sudah men-set Goal saya.

Alhasil, saya sudah sampai di Universitas Airlangga, tempat penyelenggaraan tepat jam 9:00, sesuai waktu undangan seminar. Eh ternyata, saya bingung muter-muter nyari pintu masuknya, jadinya malah sampai di TKP sekitar jam 9:30. Tapi untunglah ternyata belum mulai.

Yang saya heran, di presensi registrasi, yang ngisi baru sekitar 7 orang. Saya intip ke dalam, kursi-kursi masih kosong. Apa salah jam ya saya ini? Ternyata nggak. Memang pesertanya sedikit. Waduh, padahal salah satu motivasi saya ikutan biar dapat banyak network lagi di sini. Tapi, semua mesti disyukuri biar bisa diambil hikmahnya.

Yang keren, ternyata Krishnamurti tetap humble. “The show must go on”, katanya. Memang ada enaknya juga sih gini, kelas kecil jadinya bisa ngobrol lebih banyak. Bahkan Pak Krishna cerita kalau ada seminarnya yang cuma didatangin orang 4, tapi tetep jalan — dengan konsep ikhlas. Nggak dapat duit donk? Kalau waktu itu, iya. Tapi Allah maha adil, berkat ikhlas, eh ternyata salah satu dari 4 orang itu nawarin ngadain training senilai puluhan juta buat Krishnamurti. Nah loh, sip nggak?

Saat Anda ikhlas, apapun yang dilakukan tidak akan sia-sia.

Quote di atas terbukti. Di seminar ini, saya dapat 3 kartu nama baru: Pak Widodo dari Petrokimia Gresik, Mas Rio yang juga trainer, dan Pak Bambang kepala kantor penerbit Kanisius cabang Surabaya. Sayangnya ada beberapa peserta lagi saya gak sempat minta kartu nama karena habis. Nah, bisa dilihat sisi baiknya lagi toh. Kartu nama saya yang saya cetak sejumlah 100 lembar pertama sudah habis. Itu berarti, setidaknya 90 orang menerima kartu nama saya (sisa 10 anggap saja hilang atau terjatuh). Asumsikan saja 10% itu menaruh hati di kartu nama itu. Berarti sudah ada 9 orang yang mengingat saya benar-benar dengan menyimpan kartu nama saya. Siapa tahu salah satu dari mereka nantinya jadi rekan yang luar biasa untuk sukses. Amiiin.

Selain itu, saya jadi termotivasi lagi. Beberapa ide yang diutarakan Pak Krishna di seminar membuka lagi pikiran saya dan meningkatkan lagi hasrat saya untuk sukses. Saya kembali berkomitmen untuk itu. Memang seringkali motivasi itu nggak bertahan lama. Tapi saya janji dan terus mencoba untuk mempertahankan motivasi ini, untuk kali ini dan seterusnya.

Ada cukup banyak pengalaman dan cerita yang nggak bisa dituliskan di sini semuanya. Beberapa hal yang saya tangkap dari seminar ini antara lain:

  1. Semua berawal dari belief. Dan saya cocok sekali dengan belief yang dimiliki oleh Pak Krishna ini.
  2. Untuk menguasai dunia, Anda harus menguasai pikiran Anda terlebih dahulu.
  3. Bukan uang yang menghasilkan ide, tapi ide-lah yang menghasilkan uang.
  4. Teruslah berbagi, karena dengan demikian akan menarik alam untuk memberikan yang lebih untuk diri Anda.
  5. Be unique for your branding. Jadilah berbeda.
  6. Fokuslah ke masa depan, bukan terlalu banyak membahas masa lalu.
  7. Ketahui di mana Anda berdiri. Di situ Anda berdiri, jangan bawa-bawa masalah atau euphoria dari tempat lain.

Dari seminar ini, saya berkomitmen untuk:

  1. Fokus, meskipun punya segudang ide dan keinginan. Jalani satu-persatu. Ketika mengerjakan A, jangan berpikir B atau yang lainnya.
  2. Menanamkan belief: berbagi lebih dalam hal apapun meskipun kondisi sedang minim, karena dengan berbagi maka alam akan mengembalikannya berlipat ganda.
  3. Lanjut investasi ilmu dengan membaca buku yang sudah dibeli, terus beli baru lagi. Yang lama, dipinjamkan atau diberikan ke orang lain.
  4. Terus mencari ide-ide baru lagi di waktu-waktu yang nggak produktif. Misal, waktu boker. :p

Sebuah seminar yang cukup menarik. Pak Krishna banyak sharing tentang pengalamannya, dan peserta pun cukup bebas bertanya. Bahkan setiap peserta diminta untuk menulis impiannya, terutama yang berkaitan dengan masalah modal uang. Pak Krishna mengajarkan ke kami “Zero Capital Entrepreneur” dengan berbagi pengalaman: bagaimana mengumpulkan sedekah dari orang lain untuk sebuah misi sosial sebesar puluhan juta dalam waktu singkat, bagaimana memberi kesempatan anak jalanan untuk ikut outbound secara gratis, dan sebagainya. Menarik, sungguh menarik.

Seminar berlangsung cukup lama, sampai sekitar setengah 3 sore. Selesai seminar, sempat foto-foto dan ngobrol sedikit dengan peserta lain dan juga Pak Krishna.

Rencana awal saya akan mampir ke kosan salah satu teman CPPAN 2011, tapi karena yang bersangkutan sedang ada urusan, batal deh. Nggak jadi mampir ke kosan sahabat juga karena lagi mencari pressure untuk fokus menghadapi 6 hari deadline skripsi. Akhirnya saya langsung pulang deh.

Kebetulan salah satu peserta seminar ada yang berprofesi menjadi guru dari sebuah madrasah yang tenggelam oleh lumpur lapindo. Saya pikir, mumpung nggak buru-buru pulang ke rumah, muterin tanggul lewat jalan alternatif ah. Cerita dan fotonya akan saya buat post sendiri deh daripada kepanjangan.

Di perjalanan pulang, saya coba praktekkan salah satu teori Pak Krishna. Ikhlas. Ceritanya saya lagi kelaparan dan pingin beli makanan. Setiap lewat sebuah kedai kaki lima, saya coba mikir: “rame nih, kayaknya enak. Tapi di depan rasanya ada yang lebih enak”. Atau: “wah, yang ini namanya bagus, tapi kok sepi. Jangan deh.”

Akhirnya malah gak berhenti-berhenti untuk makan dari kondisi lapar di pasuruan sampai daerah karangploso, sudah deket rumah. Di situ deh mampir ke warung nasi goreng dan STMJ yang lumayan kelihatannya. Tapi tentu saja, kalau pikiran saya tetap seperti tadi, nggak ikhlas, saya bakal kecewa karena nggak berhenti di tempat yang kelihatannya enak tadi.

Nasi Goreng Mawut Babat + STMJ

Tapi saya coba untuk ikhlas memakan nasi goreng dan meminum STMJ nya. Alhamdulillah, setelah itu saya gak lagi lihat-lihat warung di pinggir jalan pas melanjutkan perjalanan pulang. Padahal sebenernya, kalau diingat-ingat lagi, di sepanjang perjalanan saya pulang dari warung itu, ada warung-warung lain yang memang lebih enak. Entah kenapa baru teringat pas nulis post ini. Hehe…

Keep fighting for the future..!!

4 Comments

Leave a Comment.