Ma Chung Story – Part 3 – Tidak Ada Hitam, Tidak Ada Putih

Belajar berorganisasi dan titik tolak kepemimpinan diri

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Part 1 | Part 2

Prolog

Setelah melewati masa orientasi yang cukup panjang, akhirnya saya mulai juga perkuliahan di Universitas Ma Chung ini. Saya memang lulusan jurusan Teknik Informatika, yang awalnya di situ diberi nama Teknologi Informasi. Dengan kaprodi “sangar” yang sebenarnya termasuk kaprodi paling logis dan strict sekaligus baik yang pernah saya temui.

Kuliah tahun pertama, berlangsung begitu saja dan tak terlalu berkesan. Meskipun demikian, masih bisa diambil banyak hikmah dari situ. Salah satunya adalah…

Tidak ada hitam, tidak ada putih

Kuliah tahun pertama, adaptasi lingkungan

Di Universitas Ma Chung, mahasiswanya terdiri atas berbagai ras, suku, agama, dan latar belakang. Dari yang jawa, papua, kalimantan, sampai ras keturunan tionghoa sebagai mayoritas. Dari islam, kristen, katolik, hingga advent. Dari yang anak orang kaya pemilik usaha besar, hingga anak pembantu rumah tangga. Lengkap semuanya, padahal di universitas sekecil itu.

Di tahun pertama, saya bertekad untuk membuang kebiasaan lama saya yang hanya berteman dengan orang itu-itu aja, menjadi berteman dengan siapa saja. Bahkan saya juga sering ngobrol dengan teman beda ras dan agama. Hebatnya, toleransi beragama di Ma Chung itu sangat tinggi. Kalau waktunya sholat, ya para non-islam memaklumi bila ada yang ijin di tengah rapat untuk sholat. Kita pun yang muslim memahami kalau hari minggu pagi itu sangat sulit dijadikan waktu rapat karena mereka harus beribadah.

Kebijakan universitas, tidak boleh ada organisasi berbasis agama di kampus. Semua sama rata. Masjid dan gereja pun tidak boleh dibangun di kampus. Namun untuk sholat, tetap ada mushola berukuran sedang yang bisa digunakan sewaktu-waktu.

Kehidupan akademis saya biasa saja. Tidak terlalu rajin belajar, tidak juga terlalu malas. Entah kenapa sejak masuk universitas, saja jadi sangat malas bermain game. Di semester pertama, ternyata saya ada di tingkatan ke-4 IPS terbaik se-program studi. Alhamdulillah saya juga mendapat gelar Student of the Year abal-abal dari sebuah event di kampus.

Padahal, saya pernah sampai keringat dingin waktu kerja kuis kecil partama mata kuliah algoritma dan pemrograman di kampus. Kuis dari Pak Windra tentang bahasa C, saya sama sekali gak bisa ngerjain. Saya bahkan gak tau apa itu variable. Untung kelas saya itu setelah kelas sebelumnya, saya ubek-ubek harddisk dan nemu hasil kerjaan seorang mahasiswa sebelumnya. Fyuh, akhirnya saya contek dari situ. Dari situlah saya menyadari kelemahan saya, dan saya jadi cukup sering belajar sendiri di waktu luang.

Kehidupan organisasi saya, menjadi koordinator bidang professional skill dari BEM Universitas bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi anggota saya ternyata bukan juga pekerja keras, tapi sama malesnya dengan saya. Mau gak mau, sebagai koordinator, jadi saya yang harus cukup banyak aktif. Kemampuan komunikasi saya juga belum cukup bagus waktu itu. Saya lebih memilih menjalankan kegiatan dengan kemampuan sendiri daripada bersusah payah menghimbau mereka.

Tapi di sini saya belajar banyak. Menjadi BEMU angkatan pertama, hampir setiap hari rapat, bertemu dengan berbagai jenis latar belakang manusia, ternyata berhasil meningkatkan kemampuan saya. Nggak disangka juga, ini meningkatkan nilai jual saya — yang mana nilai akademik saya tetap baik namun saya tetap aktif di organisasi. Saya yang dulu di SMP dan SMA bukan apa-apa di sini jadi cukup terkenal baik di kalangan dosen ataupun sesama mahasiswa.

Salah satu tujuan saya aktif di organisasi juga untuk bisa lebih mudah mendapatkan beasiswa. Alhamdulillah, salah satu beasiswa paling worth di kampus berhasil saya raih dan mulai dibayarkan pada tahun kedua saya kuliah nanti, yang mengcover setengah biaya kuliah saya. Cukup lumayan.

Tahun pertama juga adalah pertama kalinya saya punya laptop dengan merk MSI S271, yang dibelikan bokap dengan alasan saya membutuhkannya. Maklum, jarak rumah saya ke kampus hampir 30menit dan saya gak ada kendaraan pribadi karena motor aja dijual untuk bisa kuliah. Setiap pagi saya berusaha nyari temen barengan, begitu juga dengan pulangnya. Alhasil di sela-sela waktu kosong di kampus harus tetap bermanfaat dengan belajar pakai laptop. Saya masih ingat kalau saya adalah salah satu penghuni paling sering ruang BEMU, untuk tempat nongkrong sambil online.

Beberapa kegiatan kemahasiswaan saya ikuti, baik sebagai peserta maupun panitia. Diklat yang menyenangkan, tanpa bullying dari senior, penuh inspirasi dan ide, tetap membekas di ingatan saya. Berteman dengan mereka juga cukup menyenangkan, bisa mengerti bagaimana rasanya ada di lingkungan sebagai minoritas.

Yang cukup saya sesalkan adalah, saya terlalu fokus di dalam kandang saja. Perlahan-lahan saya menyadari bahwa saya ini hanya hebat di dalam lingkungan saya saja. Begitu saya keluar, saya tahu bahwa ada sekian banyak orang yang jauh lebih hebat dari saya. Cukup minder saya dibuatnya.

Hikmahnya…

Beberapa hikmah yang bisa saya ambil saat ini adalah:

  • Berteman itu dengan semua orang donk, jangan membeda-bedakan ras dan agama. Bisa dibilang, saya termasuk orang pribumi yang punya cukup banyak teman keturunan tionghoa. Saya gak minder dengan itu, nggak juga bangga. Tapi tetap, semuanya adalah anugerah.
  • Punya nilai bagus itu gak ada salahnya loh, apalagi aktif di organisasi. Kemampuan manajemen waktu dan prioritas menentukan segalanya, dan itu akan terus berkembang seiring waktu berorganisasi.
  • Menyadari kelemahan diri dan bertekad untuk berkembang itu adalah sesuatu yang luar biasa. Yang awalnya saya nggak tahu tentang programming, sekarang malah dikenal sebagai salah satu programmer terbaik di kampus. Padahal nggak juga loh.. hehe..
  • Ternyata jadi besar di lingkungan sendiri dahulu itu juga nggak salah. Salah satu taktik perang yang pernah saya baca di komik adalah, “kuasai lingkunganmu dahulu, baru kau bisa lebih mudah menguasai dunia”. Saat ini nama saya cukup ngeblend dengan Ma Chung. Ketika orang-orang (terutama yang dari komunitas) mendengar nama Ma Chung, cukup sering saya direferensikan ke kata Ma Chung itu.

Oiya, sering saya bilang loh, saya cerita yang baik-baik ini bukan karena sombong. Menurut Tung Desem Waringin, sombong itu ada 3 macam:

  1. Sombong yang omong besar. Sebenarnya gak hebat, ngaku-ngaku hebat.
  2. Sombong yang merendahkan orang lain. Meninggikan kehebatan dirinya sendiri dan menganggap orang lain lebih rendah.
  3. Sebenarnya bukan termasuk kategori sombong. Menceritakan kebaikan dirinya, dengan tujuan menginspirasi dan berbagi, sembari menunjukkan bahwa “saya bisa, maka Anda pun juga bisa”.

Nah, saya ini masuk yang di nomer 3. Hehe…

— to be continued —

7 Comments

  1. koyoe jek tas kenal wingi deh haq, ndelalah saiki wes podo mencar dewe-dewe :((
    mbois tok pokoe, ditunggu ending ceritanya 🙂

    —-
    Kadangkala, posisi terjepit membuat kapasitas seseorang menjadi melejit
    ortumu jual motor, ortuku jual perhiasan
    soal pinjam meminjam kanan kiri kayaknya juga sama dilakukan 😀

    Reply
  2. Iseng cari info tentang ma chung dan ternyata ada link blogmu. Sukses terus haqqi n gusbay. Smoga bis ketemu di reuni wisudawan ye (kalo ada).

    Reply

Leave a Comment.