Ma Chung Story – Part 5 – Beranjak Keluar dari “Tempurung”

Mengenal besarnya dunia luar

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

Pertama kali ke naik pesawat terbang, ke Makassar…

Sebelum acara Dies Natalis kedua, sebuah prosesi di mana saya mendapatkan penghargaan tertinggi tahunan, saya mendapatkan sebuah kesempatan langka. Yayasan pemberi beasiswa saya, Van Deventer, akan mengadakan semacam pelatihan leadership untuk wilayah Indonesia bagian timur. Kampus saya mendapat jatah 2 orang dari 10 penerima beasiswa, melalui seleksi karya tulis. Alhamdulillah, saya lolos dan ternyata jatah untuk kampus saya nambah 1.

Perpisahan hari terakhir LC 5 Puntondo

Saya, Wendy, dan Pungky berangkat ke PPLH Puntondo di Makassar, untuk bertemu dengan teman-teman lainnya yang semuanya luar biasa. Ini pertama kalinya saya naik pesawat komersial, dan pertama kalinya ke luar pulau selain bali dan madura. Pelatihan berlangsung sekitar 10 hari, di sebuah pusat pendidikan lingkungan hidup, di pinggir pantai. Kawasannya cukup tertinggal, namun indah dan membuat nyaman.

Kegiatannya pun luar biasa, dengan tajuk Leadership Conference. Berkat penataan yang luar biasa dari mbak Yesia, acara berjalan sangat lancar dan hidup. Semuanya juga sudah saya dokumentasikan di blog saya yang lama. Sampai saat ini pun, saya masih kadang berhubungan dengan peserta lainnya.

Ketidakpuasan di dalam sebagai motivasi untuk keluar

Kembali ke masa kuliah saya, di tahun ketiga ini cukup banyak perubahan terjadi di diri saya. Karena saya ingin sedikit bebas, saya putuskan untuk benar-benar keluar dari urusan kemahasiswaan di kampus saya. Saya ingin mencoba sesuatu hal yang baru, yang masih berkaitan dengan bidang keilmuan saya. Saya merasa nggak puas karena nggak menemukan lagi hal yang menantang di kampus saya. Mungkin saya telah menjadi sedikit takabur, yang menganggap bahwa saya masih bisa lebih baik dari orang lain di kampus, dengan cara saya.

Tapi, saya nggak bisa begitu saja keluar mencari hal baru. Saya harus punya identitas dengan memanfaatkan nama besar kampus saya. Untungnya, saya punya kesempatan untuk membuat sebuah komunitas IT di kampus saya, sebelum yang lain memulai. Berawal dari penyelenggaraan sebuah acara bernama Software Freedom Day 2009, saya menjadi OSUM (Open Source University Meetup) Leader, sebuah program komunitas yang dibuat oleh SUN Microsystem (sudah diakuisisi Oracle saat ini). Berbekal title OSUM Leader dan acara itu, saya membuat sebuah komunitas open source bernama MACOS (Ma Chung Open Source).

Logo MACOS terakhir sebelum saya lulus

Pendiriannya cukup berkesan di ingatan saya. Saya sampai bentak-bentakan dengan kaprodi sebelah terkait idealisme saya yang menginginkan komunitas ini berdiri sendiri, alih-alih “dimanfaatkan” untuk suatu kepentingan lain. Kegiatan yang kami laksanakan pun bisa dibilang cukup berbeda dari biasanya. Kita mengadakan sesi sharing ilmu apa pun tanpa bantuan universitas. Cukup ramai di awal, tapi memang tidak banyak orang yang bisa bertahan untuk terus kerja keras seperti ini. Lama-lama semakin kosong juga kegiatannya.

Tapi saya nggak menyerah untuk terus berjalan atas nama MACOS. Berbekal sebagai ketua itu pulalah saya keluar dari kampus untuk bergabung dengan komunitas IT lainnya seperti KOLAM (Komunitas Linux Arek Malang) dan Blogger Ngalam. Kegiatan lain seperti OSUM Bootcamp pun bisa membuat saya mengkader ketua baru untuk melanjutkan perjuangan saya. Alhamdulillah, sampai saat ini pun, komunitas ini tetap berjalan dan telah berganti ketua pula.

Di tahun itu, saya benar-benar merasa kurang puas untuk hanya di dalam saja. Saya ingin tahu dunia luar, dan ikut berbagai kegiatan di luar kampus. Alhasil, beberapa kegiatan saya ikuti.

Di tahun itu, pertama kalinya saya ikutan komunitas Blogger Ngalam, karena saya suka ngeblog. Di tahun itu juga saya daftar domain premium pertama saya, dengan nama “fauzilhaqqi.net”. Tapi karena akhirnya saya pikir kepanjangan, saya pindah ke domain ini. Sebenarnya saya hanya ingin menjadi anggota biasa saja. Eh ternyata, sekarang saya yang jadi ketuanya. Komunitas ini cukup membuka mata saya terhadap besarnya dunia di luar kampus. Hidup di kampus saja ternyata masih belum cukup untuk bekal di masa datang. Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan komunitas serba nano-nano ini.

Undangan Blogger Ngalam di SFD 2009

Kegiatan eksternal lainnya yang saya ikuti adalah Rotaract. Kebetulan di kampus saya ada pembukaan chapter khusus mahasiswa, untuk regional Malang. Yah, awalnya saya nggak berminat sih. Tapi karena suatu alasan pribadi, saya ikutan juga. Hitung-hitung saya mau menjajal untuk berbagi dalam lingkup masalah sosial. Alhamdulillah, organisasi ini juga yang membuka mata saya untuk terus semangat bergerak di bidang sosial. Meski akhirnya saya keluar karena ada suatu ketidakcocokan dengan sistemnya, saya sangat berterima kasih sudah dapat pengalaman di organisasi ini.

Kebetulan juga, di tahun itu saya terpilih menjadi perwakilan untuk mengikuti seleksi Mahasiswa Berprestasi 2010 yang diadakan oleh dikti. Alhamdulillah juga saya dapat juara harapan 1. Dari sini link saya cukup nambah juga, bertemu dengan orang-orang luar biasa. Dan tentu saja, hadiahnya lumayan lah. Hehe…

Saya tetap aktif menulis untuk majalah PC Media. Lumayan lah untuk meningkatkan publisitas dan juga penghasilan tambahan. Saya merencanakan sedemikian rupa hingga saya bisa kuliah tanpa biaya sampai lulus nanti. Alhamdulillah karena tahun ketiga saya sudah disupport 90% dari beasiswa karena jadi Student of the Year 2009, beasiswa VDMS saya yang bisa mengcover setengah biaya, bisa diakumulasikan untuk tahun keempat nanti.

Satu hal unik, di kampus, saya bersama teman-teman se-gank bikin sebuah video untuk lomba. Inti lomba itu adalah bermain air guitar. Kita bekerja keras untuk shooting karya terbaik kita. Meski pada akhirnya lomba itu gak jelas gimana pemenangnya, kita cukup senang bisa membuat suatu dokumentasi kebersamaan kita.

Band saya sendiri waktu itu sedang gonjang-ganjing. Karena suatu permasalahan, vokalis band terpaksa diberhentikan. Akhirnya untuk mengisi acara-acara yang ada, kami gonta-ganti vokalis additional. Memang sakti band saya ini, bukan pemain musiknya yang gonta-ganti additional, tapi malah vokalisnya yang gonta-ganti. Tapi, tetap seru untuk bermain bersama band ini. Meski saya sudah merasakan stuck yang cukup menjemukan karena ketidakjelasan arah band dan kepemimpinannya, saya tetap menjalaninya dengan happy.

Salah satu penampilan dengan additional vocalist

Intinya, saya jadi seorang individu yang benar-benar berbeda dari teman-teman yang lain. Ketika yang lain sedang sibuk mengejar waktu cepat-cepat lulus, terus aktif di organisasi dalam kampus, saya memilih untuk kuliah dengan santai (kalo gak salah hanya 15-18 sks saja) dan aktif di kegiatan luar kampus. Ketika yang lain menikmati senangnya masa kuliah, saya terus berkarya dengan jari-jari tangan saya. Ketika yang lain berusaha memperkaya diri sendiri, saya sudah mulai belajar berbagi dengan sesama.

Hal lain yang masih membekas, di tahun inilah saya mengalami “kejatuhan” berikutnya. Ketika dari luar saya terlihat biasa saja, bahkan cenderung lebih baik, tapi di dalam diri saya yang sebenarnya sedang jatuh ke lubang yang cukup dalam. Sebuah penantian dan perjuangan cukup panjang berakhir sia-sia karena kebodohan saya juga. Waktu itu juga rekor saya bisa mendadak kurus.

Butuh waktu yang cukup lama pula untuk bangkit. Tapi alhamdulillah, saya jadi jauh dan jauh lebih baik setelahnya. Ilmu bijak, ilmu ikhlas, dan ilmu mengendalikan emosi diri seolah jadi bagian dari diri saya. Dengan keluarga dan teman juga jadi lebih dekat. Kalau saya ingat-ingat lagi sekarang, sungguh bodohnya saya waktu itu. Padahal ada segitu banyaknya orang yang ada di sekitar saya, yang bisa berbagi bersama, tapi pikiran saya waktu itu sungguh kerdi.

Telur ayam yang menetas, besar menjadi elang…

Saya teringat dengan kisah tentang telur burung elang yang dierami ayam. Tapi kali ini saya balik. Saya berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Tapi saya ingin menjadi besar, tapi bukan untuk saya pribadi. Sejak kebangkitan saya itu, saya jadi semakin mengerti eksistensi saya. Saya ingin sukses untuk membahagiakan orang tua saya, dan kerabat terdekat saya.

Saya sadar bahwa tidak ada gunanya bila hanya saya saja yang bahagia. Saya sadar bahwa saya bisa bahagia ketika saya membahagiakan orang lain. Sejak itu pula saya jadi suka tersenyum, karena senyum bisa menenangkan hati orang lain. Saya percaya, pengalaman hidup saya di tahun ketiga itu pula yang menorehkan pondasi nilai-nilai yang ada di diri saya. Meski sebenarnya, saya masih dalam sebuah pencarian jati diri.

Hikmahnya…

Seperti biasa, saya selalu coba mengambil hikmah dari apa yang telah saya jalani. Di tahun ketiga itu, saya bisa menggali beberapa hikmah:

  • Mencoba untuk keluar dari lingkungan yang telah membuat kita jenuh itu tidak salah, tetapi tetap jangan lupakan tempat yang telah membesarkan kita.
  • Memakai identitas tempat yang telah membesarkan kita itu justru bisa membuat orang lain di luar menjadi lebih respect dengan kita, karena kita menghargai asal-usul kita sendiri.
  • Melakukan hal yang berbeda dari orang lain di sekitar kita itu bisa membuat diri kita jadi sesuatu yang special. Jangan takut untuk berbeda.
  • Percayalah, di balik rasa sakit pasti ada hikmah yang luar biasa. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, atau kegagalan yang tidak menghasilkan apa-apa, bila kita bisa memandang dari sudut yang berbeda.
  • Berbagi dengan orang lain itu ternyata justru membuat diri semakin bahagia, asal kita ikhlas melakukannya. Mendekatlah dengan keluarga, karena merekalah yang paling menyayangi Anda.

Fyuh, gak nyangka juga bisa bertahan nulis sampai tahun ketiga ini. Memang pengalaman hidup saya ini nggak jauh lebih menarik daripada kisah Laskar Pelangi. Tapi bagaimana pun juga saya ingin agar tulisan saya ini menginspirasi banyak orang. Semoga saja.

Berikutnya saya akan mencoba menulis part terakhir, yaitu tahun terakhir saya di Universitas Ma Chung. Mungkin akan ditambahi sedikit pula dengan apa yang saya lakukan setelah saya lulus. Yuk, nulis lagi…

9 Comments

  1. Ehm.. Great story. Bersyukur aku kenal kamu Qi.
    Meskipun aku bukan ‘orang besar’, tapi dengan membaca cerita-ceritamu aku belajar pada ‘orang besar’. Thanks for sharing. It gives me a lot that you ever thought about.

    Ditunggu lanjutannya ya, juga stori-stori yang lainnya.

    Reply
    • Just an ordinary story kok.. kita sama2 orang besar, karena setiap orang itu mempunyai hal yang besar.. kepala maksudnya.. wkwk..
      okay, masih ada part 6 kok setidaknya.. rencananya sampe 7 biar afdol.. hehe..

      Reply
      • no…. this isn’t ordinary story. setidaknya buatku. hehehe.
        kalo besar, seperti merujuk pada ‘sesuatu’ hahhaa. kok sampe dipertegas dengan ‘kepala’. wkwkw.

        aku tunggu part 6 dan part 7-nya. Hehe

        Reply

Leave a Comment.