Perjalanan Sail Belitung – Part 1

Perjuangan menuju Pulau Panjang

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini: Preface

Hari Kamis pagi, tanggal 30 September 2011 saya bersiap menuju Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta untuk terbang ke Batam. Saya dan Mas Agung yang berencana berangkat naik bus trans Yogyakarta, ganti halauan naik taksi, daripada terlambat. Di bandara, kita ketemuan sama Mas Boimin, sang ketua KPN ini. Yang sedikit kecewa adalah sepertinya pengaturan transportasi kami kurang jelas, sehingga kami cukup terkatung-katung.

Salah satu jembatan dari 6 jembatan

Karena bukan penerbangan langsung, saya otomatis harus transit Jakarta. Sumpah, lama banget transitnya, 4 jam lebih. Ditambah lagi pesawatnya delay 45 menit, tambah bikin bosen aja. Untung sudah beberapa bulan ini terbiasa bawa 1-2 buku di tas kecil untuk bacaan di saat-saat seperti ini. Hitung-hitung nambah wawasan sembari nunggu waktu berjalan. Yah, walau kadang-kadang masih teralihkan dengan internetan di HP sih. Hehehe…

Sesampainya di Batam, ternyata gak ada yang menjemput. Kita diarahkan untuk naik taksi ke suatu dermaga setelah Jembatan Lima. Sekedar informasi, pulau Batam ini ternyata terhubung dengan pulau-pulau di sekitarnya melalui jembatan. Pembangunan jembatan ini dilakukan semasa kepemimpinan Presiden Habibie. Dari pulau Batam ke arah selatan, dihitung saja jembatannya dari Jembatan Satu sampai Jembatan Enam. Karena dermaga penyeberangan ada di dekat Jembatan Lima, bisa dibayangkan seberapa jauhnya perjalanannya.

Setelah deal dengan supir taksi, sepakat bahwa tarif sampai lokasi 230rb. Wuik, mahal juga ya. Tapi emang sih perjalanan terasa lama, sekitar 1 jam baru sampai. Alhasil saya bisa sambil menikmati pemandangan Kota Batam yang baru pertama kali ini saya kunjungi.

Sesampainya di dermaga dekat jembatan lima, lagi-lagi kita kebingungan gimana cara ke Pulau Panjang, lokasi tempat para peserta KPN ber-homestay. Katanya, kita diminta nunggu kapal yang mengantar balik orang Dispora dari Pulau Panjang. Dari sekitar jam 4 hingga menjelang magrib kita nunggu, gak datang-datang. Padahal kita belum makan dari pagi loh. Akhirnya kita ikutan kapal nelayan yang mau ngantar barang dagangan dari dermaga ke pulau panjang.

Menunggu di dermaga, menuju Pulau Panjang

Sudah keadaan gelap gulita, kita naik perahu boat yang cuma muat 2 orang duduk berjejeran. Sumpah, horor banget. Kalau ada perahu lain lewat dari depan, gak kelihatan apa-apa, cuma bayangan hitam aja bagai kapal hantu. Tapi, alhamdulillah kita bisa selamat sampai di tujuan. Sedikit ngobrol dengan orang-orang Kemenpora beserta para panitia KPN, setelah itu kita tidur.

Siangnya kita naik perahu ke pulau seberang, menikmati air laut dan pemandangan yang luar biasa indah. Sayangnya karena saya salah kostum, jadi gak berani nyebur untuk renang. Tapi, overall pengalaman di Pulau Panjang itu cukup luar biasa. Makan berbagai masakan laut yang basic-nya saya nggak terlalu suka, menikmati sunset yang indah, dan juga pemandangan yang menarik.

Kanan, kiri, depan, dan belakang adalah laut

Bersama teman-teman dari Kemenpora

Kapal dayung buat ke nyeberang

Pohon bakau yang menarik untuk difoto

Bersama kemenpora di sebuah gubuk tak terawat

Merenung sembari...

Di malam kedua saya menginap, itulah malam yang ditunggu-tunggu para peserta yang punya jiwa “tukang tampil”, yaitu pagelaran seni. Ini juga acara yang cukup saya suka. Kebetulan juga saya diminta untuk jadi MC dadakan. Bismillah, segera saya persiapkan rancangan acara. Saya duet sama Mbak Fini, salah satu panitia yang ternyata reporter Trans 7 euy. Tapi sayang karena keterbatasan peralatan, satu mic dipakai berdua bergantian.

Pagelaran seni oleh para peserta dari seluruh penjuru Indonesia

Satu hal yang terkenang bagi blogger dan orang IT seperti saya ini adalah, susahnya Internet dan listrik. Bayangkan, listrik cuma nyala jam 6 sore sampai jam 10 malam saja! Dan sinyal internet, cuma dapat GPRS! Itulah cerita di Pulau Panjang.

4 Comments

Leave a Comment.