Perjalanan Sail Belitung – Part 2

Naik kapal KRI Makassar 590

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Preface | Part 1

Setelah dari Pulau Panjang, kita sempat menikmati Kota Batam sebelum balik ke kapal lagi untuk berlayar. Waktu itu saya belum melihat sama sekali kapalnya. Di Batam, kita cuma jalan-jalan ke sebuah mall saja. Memang sepertinya berdasarkan rumor, barang elektronik di Batam harganya miring. Tapi belum tentu semuanya adalah barang resmi. Bisa jadi adalah black market. Dan yang bikin berbeda, colokan listriknya itu kaki tiga, bukan kaki dua seperti biasanya di Jawa.

Sempat main ke Kota Batam

Setelah puas jalan-jalan, kita balik ke bus untuk menuju dermaga. Wah, pertama kalinya saya melihat kapal yang akan saya naiki dari Batam menuju berbagai pulau sebelum kembali ke Jakarta ini. Kapalnya besar banget, khas kapal perang.

Alhamdulillah, karena saya diundang sebagai pembicara, saya dapat kamar di tempat para mayor. Sempat terjadi sedikit masalah pada saat penempatan kamar antara Kemenpora dengan panitia TNI AL-nya. Usut punya usut, sebenarnya ada masalah pelik yang terjadi antara kedua belah pihak tersebut. Untuk detailnya, akan saya ceritakan secara tersirat nanti di post berikutnya.

KRI 590 Makassar, guedhe banget loh...

Intinya, kami dilempar ke sana ke mari untuk penempatan kamar kami. Sempat saya dan mas Agung putuskan untuk masuk ke kamar salah satu mayor, eh tapi ternyata ada mayor lain yang sepertinya nggak menghendaki kita di sana, entah kenapa. Tingkah laku mereka aneh, seperti ogah-ogahan dengan kedatangan kita. Saya cukup merasa tidak dihormati waktu itu. Alhasil, saya saja yang tidur di kamar para mayor, sedangkan Mas Agung ke kamar Kemenpora.

Dari Batam, jadwal kita adalah perjalanan ke Dumai. Sebuah kota pelabuhan di propinsi Riau yang lautnya sungguh kotor karena pencemaran minyaknya. Benar-benar parah deh. Dan di sana, ternyata kegiatan pesertanya adalah jalan-jalan ke perusahaan minyak seperti pertamina dan chevron. Acara baharinya juga cuma penanaman bakau saja. Sisanya, perjalanan birokrasi untuk ketemu walikota atau gubernurnya.

Saya kebanyakan cuma di dalam kapal karena gak tahan panas. Oh iya, waktu itu saya masih di kamar para mayor. Saya pingin ngerti bagaimana pemikiran para mayor itu terhadap permasalakan versus Kemenpora. Tapi ternyata saya nggak terlalu dapat banyak tentang itu. Sejujurnya, di dalam kamar ada AC, jadi jauh lebih sejuk daripada di luar. Koneksi internet? Jangan ditanya. Tentu saja di dalam kapal sudah gak ada sinyal sama sekali.

Kasur bagian atas di ruang perwira..

Karena sudah agak lama nulisnya ini, jadi agak lupa. Lanjutannya saya tulis seingat saya aja yah…

Waktu itu, salah satu asisten deputi Kemenpora bidang kepemudaan yang memegang acara KPN (bukan LNRPB) juga ikut di kapal, namanya Pak Panca. Beliau berencana untuk menjabarkan bagaimana program kemenpora. Saya miss saat-saat itu, karena saya lebih memilih tidur di kamar daripada berada di hangar heli yang cukup berisik.

Eh tapi, lagi enak-enak tiduran, tiba-tiba sirine bahaya terdengar. Ada suara operator yang mengatakan bahwa kapal bocor!

Kapal bocor! Tank deck sudah terendam setinggi 1 meter! Harap awak melakukan penutupan kebocoran! Penutupan gagal, kebocoran bertambah besar! Lokasi daratan terdekat adalah 8km ke arah barat! Harap segera meninggalkan kapal!

Wuah, cukup panik juga mendengarnya. Tapi karena saya lihat para mayor yang ada di kamar saya itu tenang-tenang saja, saya juga diam saja. Saya coba keluar sebentar untuk cek kondisi, lorong di deck mayor cukup sepi. Saya ketemu mas Heri, staf Kemenpora, yang bilang ternyata itu hanyalah simulasi. Wait, apa presentasi Pak Panca sudah selesai? Nanti akan saya bahas di post terakhir.

Ternyata memang ada simulasi dadakan. Dan ternyata sebelum berangkat pun peserta sudah diajari cara penyelamatan diri, yang salah satunya harus memakai pelampung. Saya baru tahu tentang simulasi ini. Tapi ada juga peserta yang gak tahu, sampai bilang ke salah satu personil kapal, “Pak, titip dompet dan handphone saya ya, nanti kalau kita selamat dan ketemu tolong kembalikan. Kalau tidak, tolong sampaikan ke keluarga saya”. Haha, saya ngikik dengan cerita itu.

Perjalanan masih berlanjut ke Kota Dumai itu. Di perjalanan itu jugalah Mas Agung menyampaikan presentasinya yang seperti biasa ramai dan bisa membuat cukup banyak peserta nangis. Semacam ESQ lah, tapi dengan materi rancangan beliau sendiri. Saya jadi asrot (asisten sorot) waktu itu, nampang di depan pakai batik. Lumayan, dapat foto gratis dari peserta. Hehe…

Sayangnya Mas Agung gak bisa ikut sampai balik lagi ke Jakarta. Dari Dumai, Mas Agung beserta Pak Budianto dan Pak Panca dari Kemenpora balik lagi ke Jakarta, karena katanya masih ada masalah administrasi terkait KPN ini. Setelah Mas Agung balik, saya pindah kamar dari ruang mayor ke ruangnya Mas Agung bersama orang Kemenpora bidang olahraga yang handle acara LNRBP (bukan KPN).

Pertamini, lucu juga...

Rasanya cukup lega juga pindah kamar, dari yang suasananya suram, penuh tekanan, ke ruangan yang serba santai. Bayangkan, di ruangan F12 itu aja saya kadang gak boleh masuk pas ada pembicaraan rahasia antar mayor. Apa sih yang perlu dirahasiakan? Apa karena saya blogger? *eh*

Nah, kalo di ruangan F9 yang saya pindah itu, ada popmie unlimited yang bisa dinikmati siapa saja yang tahu kalau popmie itu ada di sana. Haha… Selain itu, pembicaraannya malah berbalik ngomongin sisi buruknya panitia AL. Lucu memang orang-orang ini ya. Yang A bilang B yang salah, sementara B bilang A yang salah. Itulah Indonesia…

Leave a Comment.