Antara Tidak Sempat dan Tidak Menyempatkan Diri

Sedikit renungan yang penting tapi gak penting-penting amat.

Sudah tanggal 17 bulan ini, tapi saya baru menghasilkan 1 blog post saja. Bulan kemarin saja, juga cuma bisa menelurkan 7 post saja. Apakah saya sudah bosan ngeblog? Ataukah saya terlalu sibuk hal lainnya? Atau malah saya lupa password? Bukan, bukan semuanya. Saya hanya sekedar tidak menyempatkan diri untuk menulis.

Berbagai aktivitas sehari-hari, deadline yang mengerikan, wajah klien yang penuh senyum dibalik bosnya yang bertampang sangar, kegiatan komunitas, berhubungan sosial, dan lain-lainnya, tentu gak bisa dikerjakan bareng dalam satu waktu. Saya ini manusia biasa yang hanya punya waktu sehari = 24 jam, dengan jatah waktu tidur normal 6-8 jam sehari. Tentu tidak semua bisa saya penuhi secara maksimal, meskipun saya inginkan.

Dibalik kesibukan itu, dari dalam pikiran saya, saya lebih cenderung berkata “tidak menyempatkan diri” alih-alih “tidak sempat”. Kenapa? Karena pada dasarnya semua itu bisa disempat-sempatkan. Yang membuatnya menjadi tidak sempat hanyalah karena memang tidak disempatkan. Setuju ga?

Suppose, Anda punya seorang saudara yang berbeda kota cukup jauh, anggaplah berjarak 300km. Belum tentu setahun sekali Anda mengunjunginya, dengan alasan tidak sempat (yang sebenarnya lebih tepat “tidak menyempatkan diri”). Padahal, kalau ada sesuatu hal yang khusus, seperti ada undangan pernikahan atau kerabat yang meninggal, tentu akan “menyempatkan diri” untuk pergi, pada kadar kesibukan tertentu (yang pada hari biasa mungkin Anda akan berkata tidak sempat).

Contoh lain, Anda tergabung dalam sekian banyak organisasi dan kepentingan. Semua menuntut Anda untuk mengeluarkan kemampuan terbaik Anda, sementara waktu dan tenaga Anda sangatlah terbatas dibandingkan semua tuntutan tersebut. Pasti dari situ Anda akan memutuskan mana yang lebih prioritas. Nah, sebenarnya prioritas itulah yang menentukan sikap Anda untuk “tidak menyempatkan diri” memenuhi tuntutan dengan prioritas yang lebih rendah.

Jadi, sebaiknya kurangi penggunaan kata-kata “tidak sempat”, setidaknya di dalam pikiran Anda sendiri. Saya pun belajar untuk demikian, perlahan-lahan menggantinya dengan kata “tidak menyempatkan diri”. Dibandingkan dengan mengatakan bahwa “tidak sempat”, seolah-olah kita menjudge bahwa waktu yang diberikan pada kita itu tidak cukup. Lebih baik berkata “tidak menyempatkan diri”, karena memang semua itu tergantung prioritas kita masing-masing.

Sementara ini, saya memang tidak menyempatkan diri untuk banyak berkeliaran di linimas(s)a dalam bentuk apa pun, karena saat ini saya sedang punya prioritas lain. Lihat saja twitter saya yang jauh berkurang aktivitasnya, FB yang jarang dicek, milis yang jarang saya balas, dan sebagainya. Semoga dengan ini saya bisa belajar untuk lebih bisa ber-multitasking lebih baik.

Nah, bagaimana pendapat Anda semua tentang “tidak sempat” dan “tidak menyempatkan diri” ini?

6 Comments

Leave a Comment.