Miliki Sendiri, atau Berpartner?

Sebuah pilihan, bukan suatu hal yang harus dipersulit.

Sudah beberapa bulan ini saya menjalankan usaha kecil-kecilan di bawah nama Mimi Creative bersama tim yang saya bentuk. Dengan berbekal skill yang membuat kami cukup percaya diri, kami merancang timeline kecil-kecilan selama beberapa bulan ke depan. Dengan memanfaatkan sebuah ruang kecil di rumah saudara saya, kita melangkah dan berhasil bertahan setidaknya selama 3-4 bulanan, dengan nyaman.

Ya, nyaman. Karena kita hidup di situasi yang kita inginkan. Berkreasi sembari mendapatkan pemasukan yang lebih dari cukup, mengembangkan secara perlahan-lahan, serta bersenang-senang bersama. Di benak kita, ini adalah roadmap yang sudah cukup stabil untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan. Sedikit demi sedikit, kita mengumpulkan bekal.

Namun ternyata jalan yang ditempuh cukup berbeda dari perkiraan.

Singkatnya, sekitar akhir Maret kemarin, kami mendapat sebuah tawaran peluang kerjasama yang dirasa cukup menarik. Namun tawaran tersebut memerlukan sebuah pengorbanan. Kami harus meninggalkan Kota tercinta kami, Malang, menuju medan perang yang kami tidak kuasai. Yogyakarta.

Jelas, di Yogyakarta ini nama Mimi Creative nggak ada apa-apanya. Nama saya pribadi pun jelas tidak dikenal oleh siapapun, bahkan oleh komunitas-komunitas lokal. Di sini saya pribadi kembali menyadari betapa kecilnya saya. Dan bila di-flashback secara benar-benar, tentu saja perjalanan Mimi Creative yang berasal dari Malang, kalau terus-terusan di Malang, saya sadari nggak akan bisa besar dengan cepat.

Mimi Creative benar milik kami sendiri, dengan pembagian saham yang sudah kami sepakati bersama. Namun ikatan kami bukan sekedar perjanjian bisnis saja, namun lebih kepada kesatuan sebuah super team. Kami percaya, bahwa kami bisa. Untuk itulah kami beranikan diri bersama-sama satu tim menuju Yogyakarta, dengan tetap sebagai tim.

Beberapa hari di Jogja ini, kami mendapatkan berbagai macam pencerahan. Mulai dari bisnis, kehidupan, hingga bersentuhan dengan aras politik. Benar bahwa kami belum sepenuh hati di sini, melihat kejelasannya yang belum tertulis secara rinci. Kami seperti terombang-ambing mengamati medan perang kami. Antara idealisme masing-masing dengan visi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tapi di balik itu, ternyata di Jogja ini kami lebih banyak berkumpul dengan orang-orang besar. Dengan berkumpul bersama orang-orang besar, tentu kami mendapatkan peluang yang jelas besar. Ya, saya bilang ini masih peluang, karena kunci utamanya tetap pada usaha kami bersama. Tapi ini benar-benar peluang yang tidak bisa atau mungkin sulit sekali didapatkan bila kami masih bergerak di Malang saja.

Namanya juga bisnis, keuntungan dan kerugiannya apa?

Kalau memiliki usaha sendiri, jelas keuntungan perusahaan akan masuk ke kantong sendiri. Kita jadi punya rasa memiliki yang kuat, dan kebanggaan yang tinggi seiring dengan perkembangan perusahaan. Namun, jalannya jelas nggak akan mulus. Akan ada banyak tembok penghalang, seperti kekurangan dana, keterbatasan resource, kurangnya pengalaman, dan sebagainya. Jelas, ini adalah sebuah langkah yang cukup berat. Apalagi dengan zona nyaman yang sudah terbentuk.

Tapi dengan berpartner, tentu akan berbeda. Bisa jadi ini akan menghasilkan lompatan yang luar biasa. Namun, kami harus mengesampingkan idealisme kami, untuk memiliki usaha milik sendiri, dengan menggantinya menjadi konsep partner. Berpartner dengan siapa? Tentu saja, dengan kemampuan kami, kami nggak mau berpartner dengan yang biasa-biasa saja. Dengan berkumpul bersama orang-orang besar di sini, kami punya peluang untuk memiliki partner yang besar pula.

Jalan ini jelas cukup menyimpang dari rencana awal kami. Kami juga perlu banyak berkorban dan bekerja keras. Kami harus keluar dari zona nyaman kami yang sudah tercipta sebelumnya di Malang. Bahkan, mungkin nama Mimi Creative nggak akan dipakai lagi. Tapi, kami tetap punya nama itu, dan akan kita pakai di Malang.

Sekali lagi, ini masih peluang. Bismillah semoga kesampaian. Amiiiin.

1 Comments

  1. Jadi pengen curhat,

    Cerita sampeyan sangat mirip dengan kisah saat tempat kerja saya (di Malang) diambil alih oleh sebuah perusahaan rokok besar dari Inggris. Saat itu, semuanya serba abu-abu. Kami berfikir terlalu jauh kedepan, hingga akhirnya muncul pikiran-pikiran negatif. Semua pikiran negatif itu akhirnya menjadi tembok penghalang pikiran-pikiran positif yang ada di kepala.

    Kami cenderung melihat perubahan itu sebagai perubahan menuju kejelekan. Padahal, semenjak di take offer oleh perusahaan tsb, berbagai opportunity hebat bermunculan. Gampangannya “Your Carrer is Deppend on Your Job …”

    So, mengutip bait puisi dari Imam Syafii dalam Novel Negeri 5 Menara dan pengalaman saya tersebut, Merantaulah. Jadilah seperti anak panah yang lepas dari busurnya untuk menemukan sasaran.

    Segala sesuatu akan indah pada saatnya…

    NB: Soal Bang Jonru Ginting dengan komunitas menulisnya yang pengen kerjasama dalam format kopdar saya email aja yach detail rencanannya. Ga enak saya menggunakan blog sampeyan untuk forum diskusi.

    Reply

Leave a Comment.