Kerja: Perusahaan Raksasa, atau Perusahaan Kecil yang Mengapresiasi Anda?

Sudah lebih dari setahun saya mencoba menjalankan usaha saya. Berawal dari idealisme pribadi untuk pensiun dini, saya start Mimi Creative dengan total sebagai tim ber-4. Sekitar setahun berlalu, saya mendapatkan rezeki untuk mengembangkan sayap di ranah aplikasi mobile, dengan nama Tomatech Mobile. Dari kedua perusahaan tersebut, saya banyak belajar bagaimana memulai sebuah usaha.

Kali ini saya ingin berpikir sedikit mengenai pilihan hidup dalam hal pekerjaan utama. Dulu saya sempat galau juga dalam memilih pekerjaan saya, sebelum akhirnya saya ikut Asosiasi Manajemen Indonesia cabang Malang, dan teracuni untuk langsung terjun di dunia wirausaha dengan modal tanpa pengalaman. Jadi, meskipun saya ingin membahas bagaimana dampak memilih antara perusahaan raksasa atau perusahaan kecil, bisa jadi saya hanya menjelaskannya secara subyektif, karena saya gak tahu rasanya bekerja di perusahaan raksasa.

Yang ada dalam bayangan saya adalah, biasanya kerja di perusahaan orang lain, dalam hal ini start menjadi orang di bawah, tentu ada banyak makan atinya. Mulai dari disuruh-suruh macem-macem, pekerjaan yang di luar kewajiban, dan sebagainya. Apalagi, di perusahaan pada umumnya, orang IT cenderung dianggap bisa semuanya. Mulai dari bikin website, bikin aplikasi handphone, sampai mretelin komputer. Padahal, gak semuanya kan kayak gitu. Itulah sedikit dari persepsi saya (yang mungkin salah).

Berdasarkan hal tersebut, saya ingin menjalankan sebuah perusahaan yang mana semua orang di dalamnya adalah “rekan”, bukan sekedar karyawan. Saya ingin menjalankan Mimi Creative dan Tomatech ini menjadi sebuah kesatuan, yang mana semuanya saling mendukung. Tentu dukungan akan ada bagi yang mau berusaha keras untuk memajukan sesama. Komitmen, tetap nomor satu.

Beberapa hari ini saya sedang sibuk mencari tim tambahan, dan ternyata, mencarinya susah sekali. Bukan karena gak dapat kandidat, tapi karena tidak ada kandidat yang memenuhi syarat. Sedikit nonsense kalau dibilang di dunia ini kekurangan lapangan pekerjaan. Yang kurang adalah calon pekerja yang memenuhi persyaratan. Mungkin karena saking banyaknya orang yang malas-malasan, hingga dia tidak memenuhi syarat seorang pekerja, sehingga mempertinggi tingkat pengangguran.

Sebagian besar calon yang saya incar, yang mempunyai kualifikasi, ternyata lebih memilih bekerja di perusahaan besar, yang sayangnya biasanya non-IT. Alasan utamanya, tentu saja gaji. Saya tidak tahu apakah perusahaan tersebut membebaskan karyawannya (terutama orang IT yang terlalu kreatif) untuk berkreasi, atau hanya memeras tenaganya saja. Yang pasti, saya tetap menghormati pilihan mereka-mereka yang bekerja di perusahaan tersebut.

Saya hanya ingin share bahwa apa yang saya inginkan berjalan di perusahaan saya adalah, setiap insan di dalamnya memiliki hak untuk berkreasi. Sederhananya, bila memang ada anggota yang superior, memiliki banyak ide, dilengkapi dengan kemampuan dan komitmennya, akan saya dukung. Dukungan bukan hanya dalam bentuk gaji yang sesuai saja, tapi juga dengan realisasi ide yang dia miliki. Misalkan, ingin membuat sebuah game baru yang prospektif, tentu kita dukung. Kita berikan pelatihan, kita berikan sumberdaya dan sumberdana, serta support lainnya. Tidak hanya untuk mengerjakan hal tersebut, tapi nantinya bila game tersebut sukses, maka dia akan memiliki persentase bagi hasil.

Dengan demikian, akan lebih adil bukan? Bagi yang memiliki kemampuan lebih dan mau berkreasi, semakin keras dia berusaha, maka hasilnya juga akan semakin besar. Coba bandingkan dengan perusahaan produknya bukan produk IT, sehingga KPI (Key Performance Indicator) perusahaan bagi karyawan IT-nya mungkin hanyalah apakah sistem stabil atau ada kerusakan saja. Kreasi dan ide dari karyawan tersebut, tentang IT tidak akan terlalu digubris oleh perusahaan, karena memang bukan bidangnya. Kalau saya, jelas gak mau masuk ke perusahaan seperti itu.

Alhamdulillah, meskipun saya mempunyai kompetensi untuk masuk ke perusahaan besar non-IT pada umumnya (dengan berbagai cara), saya memilih untuk berada di jalur yang tidak biasa ini. Saya memilih untuk menjalankan usaha yang nantinya akan bisa mengapresiasi semua orang di dalamnya, meskipun perusahaan ini start dalam bentuk yang tidak seberapa besar. Tapi, pelan-pelan saya yakin akan bisa menjadi besar, dengan tetap mengapresiasi orang-orang di dalamnya. Doakan yak.. 😀

Nah, bagaimana dengan Anda, memilih bekerja di perusahaan besar, atau start di jalur yang berbeda, di perusahaan lain yang mengapresiasi Anda?

13 Comments

  1. Hello Haqqi, baca artikel kamu ngingetin diri saya sendiri beberapa tahun lalu. Saya mengerti dan memahami artikel Haqqi, terutama idealisme dalam wirausaha yang Haqqi jalani. Saya lihat Haqqi sudah nemiliki prinsip yang baik dan menurut saya Haqqi tetap seperti ini. Kalo boleh beri masukan ke Haqqi, jangan terlalu terburu2 ingin menjadi besar. Perusahaan IT yang saya dirikan dgn suami cepat besar, tapi terlalu cepat besar itu juga tidak baik. Meskipun fasilitas dll yg spt Haqqi jelaskan juga sudah diberikan dlm perusahaan saya dulu, kehati2an diperlukan.

    Tentang beda perusahaan raksasa atau kecl, menurut saya relatif. Masalah utama manusia adalah kebutuhan, kebutuhan dan kepuasan tiap manusia beda. Kalo ini menurut saya tergantung manusianya. Dalam hubungannya dengan perusahaan, selama sebuah perusahaan dapan menemukan sumber daya manusia manusia yang memiiki idealisme dan pemikiran sama Insya Allah jalannya akan baik. Sekian, Haqqi. Salam kenal.

    Btw, kapan2 pengin ikut acara Blogger Ngalam, sepertinya cool 🙂

    Reply
    • Hello juga mbak Tita,
      kalo ingin menjadi besar, ambisinya memang harus besar. Masalah buru-buru atau tidak, tergantung strateginya. Kalo strateginya memang cepat dan tepat, tidak bisa dibilang buru-buru juga kan?

      Perusahaan IT mbak Tita cepat besar, kalau boleh tahu, perusahaan apa nih? Kehati2an apa yg harus diperlukan?

      Iya, besar kecil perusahaan memang relatif. Tapi biasanya sih, perusahaan besar sudah punya sistem yang solid, sehingga kurang bisa berkreasi. Kalau di perusahaan yang masih merintis kan enaknya bisa ngerasain membangun sesuatu dari nol. Kuncinya memang menyelaraskan visi di dalam tim.

      Sumonggo kalau mau ikutan acara bloggerngalam. Masuk milisnya aja dulu, biar kenal temen2.. 😀

      Reply
  2. kalo ingin menjadi besar, ambisinya memang harus besar.
    >> Setuju

    Masalah buru-buru atau tidak, tergantung strateginya. Kalo strateginya memang cepat dan tepat, tidak bisa dibilang buru-buru juga kan?
    >> ya, ini mmg penting

    Perusahaan IT mbak Tita cepat besar, kalau boleh tahu, perusahaan apa nih?
    >> Sekitar tahun 2005 merintis perusahaan software pulsa, salah satu pelopor yang namanya otomatisasi distribusi pulsa. Klien sampai 1000. Perusahaan tsbt dilikuidasi 2011

    Kehati2an apa yg harus diperlukan?
    >> Dalam hal SDM. Saya mengalami problem dalam hal tsb (terlalu terburu2). Saya juga mengalami hal sama dgn Haqqi dalam hal perekrutan. Memang sangat susah menemukan orang yang pas terutama di perusahaan IT. SDM sangat berpengaruh di IT

    Iya, besar kecil perusahaan memang relatif. Tapi biasanya sih, perusahaan besar sudah punya sistem yang solid, sehingga kurang bisa berkreasi.
    >> Solid itu bisa untuk perusahaan besar juga, hanya saja masalah di perusahaan besar adalah makin banyaknya orang koordinasi yang dibutuhkan makin panjang. Itu keuntungan startup terutama dalam soal inovasi

    Kalau di perusahaan yang masih merintis kan enaknya bisa ngerasain membangun sesuatu dari nol. Kuncinya memang menyelaraskan visi di dalam tim.
    >> etuju

    Reply
    • Sekitar tahun 2005 merintis perusahaan software pulsa, salah satu pelopor yang namanya otomatisasi distribusi pulsa. Klien sampai 1000. Perusahaan tsbt dilikuidasi 2011
      >> Waaah, kereeeen. Kenapa dilikuidasi mbak? Sayang sekali.

      Dalam hal SDM. Saya mengalami problem dalam hal tsb (terlalu terburu2). Saya juga mengalami hal sama dgn Haqqi dalam hal perekrutan.
      >> Iya, masalah SDM itu penting sekali. Saya mesti berhati-hati dalam menjaga loyalitas tim. Salah satu caranya adalah dengan sistem bagi hasil yang sama-sama menguntungkan.

      Bener, keuntungan startup itu salah satunya di inovasi. Jadi kalo punya jiwa inovator, pasnya bikin startup aja. 😀

      Oiya, ada acara bloggerngalam loh tgl 19 ini. Siapa tahu bisa kopdar. Cek web bloggerngalam.com ya 🙂

      Reply

Leave a Comment.