Saya Masih Hijau

Dengar kata “hijau”, jadi ingat warna favorit seseorang yang pernah berarti bagi saya. Tapi bukan itu inti post kali ini. Post ini terinspirasi dari obrolan singkat saya dengan seorang politikus lokal, tentang bagaimana pemikirannya. Dari cerita singkat itu, saya seketika menyadari lagi betapa hijaunya saya.

Ya, saya yang hijau. Saya yang akhir-akhir ini sedikit sombong karena mengingat tagline “si cerdas yang pemalas”, yang dulu pernah saya pakai. Saya yang sejenak merasa sudah tidak perlu lagi serius belajar untuk mengembangkan diri. Sebuah sifat yang seharusnya tidak saya pelihara untuk mencapai tujuan hidup saya. Alhamdulillah saya tercerahkan lagi.

Pencerahan memang bisa datang dari mana saja, tapi tetap mutlak bahwa Allah-lah yang memberikannya. Melalui politikus tersebut, saya sadar kembali bahwa dunia ini masih luas, masih perlu banyak belajar lagi untuk mencapai tujuan besar hidup saya. Saya ingin sukses, tapi ingin tetap menjaga kebijaksanaan dan selalu rendah hati. Sebuah kondisi di mana saya belum pernah mengalaminya.

Siapa yang tahu ketika nanti saya sedikit sukses, saya akan khilaf, melupakan prinsip hidup saya. Tiba-tiba saya menjadi sombong, angkuh, congkak, dan hilanglah kebijaksanaan saya. Bisa jadi saya akan menjadi lebih buruk daripada orang-orang yang saya kutuk saat ini karena kesombongannya akan kesuksesannya. Karena itulah, semoga di masa depan, post ini dapat mengingatkan saya tentang diri saya saat ini.

Saya harus banyak belajar, banyak berbagi, banyak menyemangati orang-orang di sekitar saya. Manajemen waktu saya yang akhir-akhir ini semakin buruk dengan terdaftarnya begitu banyak task yang belum saya selesaikan, benar-benar terlihat menjijikkan. Begitu banyak “monyet” yang harus diselesaikan. Pelan-pelan, pasti saya bisa selesaikan. Entahlah, akhir-akhir ini serasa tidak ada waktu lagi untuk bersenang-senang, membaca buku, bermain game, atau berbagi bersama keluarga.

Siap! Kali ini saya harus fokus untuk meraih mimpi saya!

1 Comments

Leave a Comment.