Pelajaran dari 500 Rupiah

Beberapa belas tahun lalu, ada seorang anak, yang mungkin masih kelas 1 SD. Masa di mana uang saku yang diberikan orang tuanya hanya 100 rupiah sehari. Tanpa dia tau berapa uang saku teman-teman lainnya, dia tetap menikmatinya. Bahkan, masih sempat berbagi dengan teman yang malah tidak punya uang saku untuk sekolah. Ya, orang tuanya selalu mengajarkannya untuk berbagi. Kepada yang kurang mampu tentunya, bukan kepada yang sok tidak mampu.

Hari demi hari berjalan, hingga tanpa sadar dia punya uang sejumlah 500 rupiah. Jumlah yang sama dengan tabungan 5 harinya dia, apabila berjuang penuh menahan diri untuk tidak menjajakan uang sakunya. Memang bukan jumlah yang besar, namun sudah cukup untuk meraih kebahagiaan sejenak. Ingin sekali dia menjajakan sesuatu yang tidak biasanya dia bisa beli.

Ya, dia memilih untuk menjajakannya, satu-satunya uang 500 rupiah yang dia punya. Beranjak dari rumah, dia berjalan menuju toko terdekat. Tanpa sadar, sesampainya di toko, ternyata uang yang dibawanya lenyap. Entah jatuh, entah hilang, entah terselip. Yang pasti, tidak bisa ditemukan. Kini, dia tak punya uang sepeserpun.

Dengan raut muka sedih, dia menghampiri ibunya, sambil merengek, “uangku hilang di jalan. Maaa, gantiin dooonk“.

Biasanya, seorang ibu yang melihat anaknya sedih, akan dengan setengah senang hati dan iba, mengiyakan permintaan anaknya. Namun tidak demikian yang dilakukan sang ibu anak ini. Beliau menolak untuk memberikan gantinya, seraya berkata, “nak, menjajakan uangmu, pergi ke toko, adalah pilihanmu. Sekarang uangmu hilang, itu adalah tanggung jawabmu sendiri. Mama tidak akan memberikan gantinya, karena itu keputusanmu sendiri untuk pergi, dan kecerobohanmu hingga uangmu hilang.

Tetap dengan raut muka kesedihan, anak itu menerima kata-kata ibunya, tanpa benar-benar mengerti maksudnya.

Beranjak dewasa, sang anak tumbuh menjadi orang yang bertanggungjawab, tidak ceroboh, dan menjaga kata-kata serta perbuatannya. Tanpa disadarinya, sebenarnya peristiwa uang 500 rupiah semasa kecilnya, sangat berdampak kepada pengembangan dirinya. Dengan “tamparan” kecil peristiwa tersebut, membuat si anak selalu berusaha untuk tidak ceroboh, berpikir sebelum bertindak, dan bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.

Spend money wisely, juga menjadi pelajaran berarti. Di mana dia tidak lagi menghabiskan uang yang dimilikinya hingga nol rupiah, namun menyisihkan untuk hal lainnya pula. Dia mengerti bahwa cadangan dana itu penting, alih-alih menjagakan orang lain untuk dihutangi.

Apabila dia melakukan kesalahan yang dia lakukan sendiri, maka dia akan berani bertanggungjawab serta menerima risikonya. Apabila dia punya uang, tidak akan digunakan seluruhnya, karena dia sadar bahwa uangnya terbatas. Sungguh luar biasa ajaran yang diberikan sang ibu terhadap sifat dasar anaknya. Coba bayangkan apa yang terjadi bila sang anak selalu dimanjakan dengan menuruti segala permintaannya, terutama yang berkaitan dengan hal yang menjadi tanggungjawabnya? Mungkin, sang anak akan tumbuh berbeda.

Ya, pelajaran dari sang anak tersebut, beranilah bertanggungjawab terhadap keputusanmu dan perbuatanmu sendiri. Jangan sekali-kali menuntut orang lain untuk melakukan ganti rugi, atau memperbaiki hal-hal buruk yang terjadi akibat keputusanmu. Kemampuan menahan emosi adalah salah satu kuncinya. Introspeksi, adalah jalan yang terbaik untuk Anda.

7 Comments

  1. Suka kalimat ini : beranilah bertanggungjawab terhadap keputusanmu dan perbuatanmu sendiri. Jangan sekali-kali menuntut orang lain untuk melakukan ganti rugi, atau memperbaiki hal-hal burung yang terjadi akibat keputusanmu.
    Semoga saya bisa jadi seperti anak kecil itu. Ini cerita dirimu ya πŸ˜€

    Reply

Leave a Comment.