Tidak Semerta-Merta Memaafkan, untuk Membimbing

Pernah ngalamin nggak, ketika sudah berusaha melakukan segala usaha untuk mencapai sesuatu, kemudian ada yang bikin emosi atau apalah hingga muncul rasa jengkel yang sedemikian dalam? Pernah juga nggak, sudah sedemikian jengkelnya, tapi hanya mendapatkan sekedar kata “maaf” dari orang itu?

Saya, cukup sering. Dan itu dari banyak orang, gak cuma satu.

Apa yang saya lakukan setelahnya? Memaafkannya?

Kalau itu sekali (pertama kali dia melakukan hal menjengkelkan), iya, saya maafkan. Kalau itu sudah berkali-kali, dan hal yang sama, biasanya tidak semerta-merta saya memaafkan. Tapi saya juga tidak secara spesifik mengatakan bahwa saya tidak memaafkannya begitu saja. Kadang saya hanya nyinyir, atau ngeroweng di twitter saya saja. Berharap orang itu segera sadar diri.

Lucu ya.. Kalau semua masalah di dunia ini bisa selesai hanya dengan kata “maaf” saja, terus gimana?

Ya, saya ingin memberi pelajaran, atau bahasa baiknya “membimbing”, bahwa ketika kita berbuat salah atau membuat orang lain jengkel, harusnya kita “do something”, instead of “only saying”. Sekedar kata “maaf” sekarang ini, apalah artinya. Apalagi kata maaf itu disampaikan hanya lewat sms, bbm, atau teks saja.

Biasanya saya langsung berpikir, “ini orang niat minta maaf gak sih?”. Nyampaikannya pendek amat kata-katanya, dan cuma “maaf” saja. Mbok ya, lakukan sesuatu yang benar-benar menunjukkan rasa bersalahmu gitu loh. Temui orangnya, lakukan sesuatu, jelaskan dengan baik, tunjukkan niatmu. Gak bisa menemui? Paling gak, telepon donk. Percayalah, suara itu lebih berharga daripada sekedar sms.

Yah, begitulah. Cukup sekian nyinyir kali ini. Pada dasarnya saya ini pemaaf kok. Kalau saya gak langsung ngomong “iya saya maafkan”, berarti saya ingin mengajari itu tadi, “do something”. Cumaaaan, saya memang agak susah sih melupakan kesalahan orang lain ke saya, apalagi yang sudah bikin jengkel teramat sangat. Kasih maaf sih iya, tapi luka biasanya tetap ada. Ceileeeeh….. :p

Leave a Comment.