Dia Enak Duduk-Duduk, Sementara Saya yang Kerja Keras

Apakah Anda adalah seorang karyawan, yang pernah berpikir demikian ke pimpinan / owner perusahaan tempat Anda bekerja? Apakah Anda sedemikian merasa bisa mengalahkan owner Anda tersebut hingga Anda sangat terobsesi mengincar posisi yang sama atau lebih dari dia?

Setidaknya, ada 2 kemungkinan kondisi yang terjadi:

  1. Owner perusahaan Anda memang “cuma” duduk-duduk dan asal perintah.
  2. Anda tidak tahu bahwa di belakang, owner perusahaan Anda bekerja jauh lebih keras dari Anda (bahkan sudah sejak jauh sebelum Anda bergabung di perusahaan tersebut).

Saya gak tertarik untuk membicarakan kemungkinan yang pertama. Toh saya gak ada cita-cita jadi seperti yang pertama. Saya justru ingin memberikan pengertian kepada siapapun yang berpikir seperti judul post ini, namun sebenarnya Anda sedang ada pada kemungkinan kondisi yang kedua.

Tulisan ini bukan ditulis untuk bermaksud menyombongkan diri, namun hanya mencoba memberikan sudut pandang lain terhadap trend entrepreneurship berdasarkan sedikit pengalaman saya berwirausaha.

Nah, bagi Anda yang sedang mempunyai pemikiran tersebut, coba deh pahami beberapa sudut pandang ini:

Perjuangan si owner hingga jadi pengusaha

Sebelum berpikir bahwa owner Anda cuma duduk-duduk saja, apakah Anda sudah mempelajari masa lalu si owner tersebut?

Bagaimana dengan perjuangan dia hingga bisa mendirikan perusahaan yang bisa menggaji Anda, apakah Anda sudah menyelidikinya?

Ada banyak asal-usul seseorang jadi pengusaha. Bisa jadi dari warisan orang tua (ini yang paling mudah, tapi tidak bisa disepelekan). Bisa juga dari keberuntungan tiba-tiba dapat proyek. Bisa juga dari kerja keras seseorang tersebut sedemikian hingga dia bisa membangun reputasi untuk bisa dipercaya investor perusahaannya.

Anda mungkin tidak akan pernah tahu, bagaimana owner Anda bekerja keras banting tulang hingga larut malam, untuk bisa membuat portfolio dan mengembangkan kemampuan dirinya, agar bisa berdiri sejajar dengan para investornya.

Di kantor, mungkin dia terlihat santai duduk-duduk. Tapi bisa jadi justru dia sedang mengamati kondisi kantor, berpikir strategis ke depan, dan hal-hal lainnya yang bahkan belum pernah terbesit di otak Anda. Toh kenyataanya, yang punya perusahaan adalah dia, bukan Anda.

IMHO, keberuntungan pun dipengaruhi oleh peluang, yang mana peluang tersebut semakin besar dengan didukung kerja keras. Seandainya si owner memang cuma “duduk-duduk” tentu dibaliknya ada perjuangan sedemikian hingga dia bisa duduk-duduk.

Jadi pengusaha itu tidak semudah kata-kata motivator

Jaman sekarang, ada banyak sekali motivator, yang suka berkoar-koar tentang “jadilah pengusaha”. Yah, meski belum tentu si motivator tersebut juga adalah pengusaha sih. Hal ini semakin memperbanyak anak muda untuk nekat jadi pengusaha. Memang sih, salah satu modal jadi pengusaha itu modal nekat. Tapi nggak gitu juga kalik.

Ada banyak yang perlu dikuasai seseorang hingga bisa memiliki kapasitas sebagai seorang entrepreneur. Tidak hanya sekedar mahir di teknikal, tapi juga pengetahuan lainnya.

Berdasarkan pengalaman saya, beberapa skill penting yang harus dikuasai untuk bisa jadi pengusaha adalah:

  • Kemampuan komunikasi – yang dimaksud dengan komunikasi tidak hanya secara lisan, tapi juga dengan tulisan. Bagaimana bisa men-deliver pikiran ke tulisan, hingga perintah bisa diterima dengan baik oleh tim.
  • Kemampuan negosiasi – tidak hanya soal bagaimana caranya berbicara, tapi juga mempengaruhi. Negosiasi bisa dengan klien, dengan tim, dengan partner, dan sebagainya.
  • Kemampuan finansial – saat jadi pengusaha, seseorang akan dihadapkan dengan yang namanya Cash Flow, Value Chain, dan sebagainya. Sang pengusaha diwajibkan untuk bisa memahami arus keluar masuk keuangan bisnisnya, bagaimana bisnis bisa tetap berjalan meskipun terkadang tentu ada masa ruginya.
  • Kemampuan legal – membuat suatu usaha tentu harus ada ijinnya, bagaimana surat kontrak dengan customer, karyawan, dan partner. Untuk urusan legal mungkin bisa meminta jasa penasehat legal / pengacara. Namun untuk poin-poin kontraknya, tentu dari pengusaha tersebut yang memikirkan.
  • Kemampuan manajemen waktu – jadi pengusaha itu, akan dituntut untuk menjadi multi-tasking. Harus bekerja lebih banyak daripada karyawan. Harus berpikir lebih banyak daripada karyawan. Harus bisa fokus di beberapa hal dalam satu waktu. Konsistensi, itu yang tidak gampang.
  • Mental yang kuat – jangan dipikir jadi pengusaha itu yang ada cuma enaknya doank. Ada saatnya masalah menerpa perusahaan, yang sengaja ditutup si owner dari timnya, namun dia selesaikan di belakang. Bisa jadi sedang dalam kondisi rugi, atau sedang bermasalah dengan customer, konflik dengan partner, atau sebagainya. Sementara karyawan, hanya tahu asal-gaji-turun saja.
  • Jejaring yang luas – yang namanya bisnis, tidak mungkin berjalan tanpa customer. Hampir tidak mungkin pula berjalan tanpa partner. Jejaring yang luas adalah salah satu kunci kesuksesan bisnis. Umumnya fresh-graduate student “yang terlalu bersemangat berwirausaha” tidak memikirkan masalah ini.

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang harus dikuasai sebelum mencoba menjadi pengusaha. Tidak harus dikuasai semuanya, ada beberapa hal yang cukup sekedar tahu saja. Mungkin akan saya bahas di post lainnya.

Tambahan: Apalagi di bidang IT, tantangan untuk jadi pengusaha di bidang ini jauh lebih besar daripada bidang konvensional yang perkembangannya cenderung statis.

Mendirikan perusahaan itu lebih mudah daripada menjalankannya

Hey, si A aja bisa bikin perusahaan, kenapa saya tidak? Hey, ada ide X nih, kalau dieksekusi bisa sukses pasti. Hey, nemu tim yang cocok nih, bisa bikin produk keren pastinya.

Kalimat-kalimat di atas cukup umum tercetus di kepala seseorang yang semangat ingin jadi pengusaha. Tidak sedikit yang langsung berjalan mendirikan startup-nya masing-masing, yang bisa dibilang dengan proses hampir instan.

Namun menjalankan perusahaan itu tidak semudah mendirikan. Seiring berjalannya perusahaan, akan ada konflik, baik internal maupun eksternal. Akan ada saat merugi, akan ada saat jenuh, dan ada saat iri melihat teman lain jadi karyawan sudah di posisi yang bagus.

Di sini kekuatan mental akan benar-benar diuji. Akan ada banyak godaan seiring berjalannya perusahaan. Percayalah. Silakan dicoba untuk menjalaninya.

Duduk-duduk, bukan berarti tidak bekerja

Terakhir, menurut saya tingkat kebijaksanaan seorang karyawan yang berpikir “dia enak duduk-duduk sementara saya kerja keras” itu masih perlu diasah. Wajar saja sih, toh dia belum pernah benar-benar merasakan di posisi jadi pengusaha.

Pengusaha tidak mengenal jam kantor. Di kantor mungkin selalu hadir, tapi di luar kantor dia tetap bekerja yang terbaik untuk usahanya, tanpa perlu dan merasa perlu diketahui oleh karyawannya. Pengusaha berani investasi waktu, menunda kesenangan saat ini untuk kesenangan yang lebih besar di masa mendatang.

Karyawan mungkin tidak pernah tahu, bagaimana si owner belajar bahasa inggris dan kemampuan soft-skill lainnya dengan keras, untuk bisa berkomunikasi dengan calon klien dan calon partner.

Karyawan mungkin tidak pernah tahu, bagaimana si owner menghitung dengan teliti nilai project dibandingkan dengan cost yang harus dikeluarkan setiap bulannya, termasuk gaji si karyawan tersebut.

Karyawan mungkin tidak pernah tahu, bagaimana si owner keluar untuk mencari jejaring yang pas untuk bisa mempertahankan bisnisnya, dengan mengorbankan waktu berkumpul bersama keluarganya.

Karyawan mungkin tidak pernah tahu, bagaimana si owner selalu waspada siang dan malam terhadap datangnya segala email dari klien dan partner, demi menjaga kepercayaan dan hubungan bisnisnya.

Karyawan mungkin tidak pernah tahu, bagaimana si owner merasakan stress sendiri saat ada masalah yang tidak mungkin untuk di-share kepada karyawannya.

Intinya, ada banyak hal yang tidak diketahui seorang karyawan yang masih berpikir “dia enak duduk-duduk, sementara saya kerja keras”. Duduk-duduknya si pengusaha beneran, bukan berarti malas-malasan atau tidak melakukan apa-apa. πŸ™‚

Itu tadi beberapa opini saya yang berhasil tertuliskan di sela-sela waktu menunggu di kantor. Saya tidak kontra dengan tren rame-rame menjadi pengusaha sekarang ini, justru saya mendukung hal tersebut. Toh, saya juga dulunya fresh-graduate yang belum pernah bekerja di perusahaan orang lain, langsung berani bikin usaha (dengan segala naik-turunnya). Tentu saya terjun bukan tanpa modal donk, pasti dengan perhitungan juga.

Mau bilang saya enak bisa blogging sementara yang lain kerja? Please, lihat dulu donk berapa kecepatan mengetik saya. Gak butuh waktu lama kok untuk ngetik. Muahahahaaa..!!! *kalau ini congkak sedikit*

Catatan: Background saya adalah pengusaha bidang IT, jadi mungkin post ini lebih terarah ke bisnis IT. Saya belum punya pengalaman banyak di bidang bisnis lainnya, meski sekarang sedang menjajal bisnis kuliner dengan nama Omah Sehat Catering yang melayani pesanan catering karyawan dan nasi kotak di Kota Malang..

18 Comments

  1. Nice article..
    Karena tidak semua orang mampu menangkap hal demikian. Maka, leader dituntut memberi contoh ttng kerja keras. Klo di IT WYSWYG, jadi penting juga untuk si bos/owner menunjukan bagaimana dia bekerja keras setiap harinya, tapi perlu “meminta” pegawainya mengerti tentang diri dimasa lalu dan sedang berfikir apa.

    Itulah perbedaan Leader, dan bos. Leader, mengerakan, memberi contoh dan orang tergerak. Bos?? monggo dideskripsikan sendiri.
    IMO..

    Salam mas, Haqqi. Tulisannya bagus sekali…

    Reply
    • Iyap. Leader yang baik bisa memberi contoh dan orang tergerak. Saya pingin banget bisa jadi leader yang seperti itu. Semoga bisa terwujud. Mohon bimbingannya.. πŸ™‚

      Reply
  2. “Mendirikan perusahaan itu lebih mudah daripada menjalankannya” setuju nih. Apalagi buat mempertahankan perusahaanya.

    Reply
  3. Yaiyalah, owner kan juga mulainya dari bawah, bukan ujug-ujug langsung jadi owner. Dia pasti berjuang keras dan berusaha dengan baik makanya dia bisa jadi owner. Setuju deh sama Pakde ini, kasian ya orang2 yang berpikiran seperti “yang pertama” karena “yang kedua” itu lebih masuk akal sih πŸ˜€

    Reply
    • Kok dipanggil pakde sih.. 😐
      Iyap, begitulah. Ada saat mudah, tentu ada masa perjuangannya. Setidaknya, ada orang-orang di dekatnya yang juga berjuang untuknya. Dapat warisan dari orang tua? Tentu karena orang tuanya kerja keras hingga bisa memberikan warisan perusahaan.

      Reply

Leave a Comment.