Fashion-less

Punya kemeja cuma beberapa helai. Kalau foto acara resmi, pasti kesannya bajunya “itu-itu aja”.

Punya batik cuma beberapa helai. Sama. Kalau foto acara resmi, pasti kesannya cuma punya batik “itu-itu aja”.

Punya kaos unik / kualitas distro cuma beberapa helai. Sama juga. Kalau ada acara have fun yang perlu tampil sedikit keren, kaosnya pasti “itu-itu aja”.

Punya jaket favorit cuma 1 atau 2 dalam suatu periode waktu. Ini apalagi. Kalau foto waktu jaketan, kesannya cuma punya jaket “itu-itu aja”.

Punya sepatu / sandal, cuma 1 dalam satu waktu. Pilih yang praktis, bisa (dianggap) jadi sepatu tapi gak ribet pakainya. Ya, kalau foto full body pasti kesannya sepatu “itu-itu aja”.

Ya, beginilah saya. Bukan pemerhati fashion, termasuk fashion diri sendiri. Apalagi pekerjaan tidak menuntut untuk ketemu orang luar setiap hari. Di kantor cuma pakai kaos biasa, gak perlu dandan, dan gak pakai sepatu.

Ada cukup banyak kaos, tapi dengan logo berbagai sponsor. Setiap ada event, biasanya kan dapat kaos. Apalagi waktu masih sering-seringnya ikutan acara komunitas dulu. Dapatnya gratisan doank jadinya. Hahaha.

Bagi saya, fashion itu yang penting nyaman dipakai. Karena kegiatan utama saya kerja di kantor, ya cukup baju atau kaos yang nyaman dipakai di kantor. Gak mau donk seharian di ruangan kerja pakai batik terus. Panas! Alhasil kaos sponsor pun jadi baju sehari-hari.

Nah, yang biasanya bingung nih kalau mau ada acara resmi, atau ada undangan ngisi seminar. Harus ubek-ubek lemari atau cucian untuk mengecek apakah kemeja saya sudah ready. Maklum, kemeja cuma beberapa helai. :p

Gak cuma sekali sih, dikomentarin temen soal fashion ini. Gak cuma sekali juga salah kostum, pas waktunya ketemu orang penting saya malah pakai kaos biasa. Dan gak cuma sekali merasa bingung masalah persiapan kalau ada event yang mengharuskan pakai dresscode tertentu.

Tapi fashion-less bukan berarti saya tidak bisa tampil rapi. Ada saatnya saya akan tampil rapi dan bela-belain beli kemeja baru. Semua tergantung situasi dan kondisi.

Ah, sudahlah. Setiap orang punya karakteristik yang berbeda. Tidak penting kulit luarnya, tapi bagaimana isi di dalamnya. *ngeles*

10 Comments

  1. Kak Muhammad Fauzil Haqqi terlalu jujur tuk jadi diri sendiri. Jujur, saya pribadi selalu terkesan dengan jalan pikiran si pendiri mimi creative ini – lugas tegas dan penuh inovasi. Ingat gaya busana STEVE JOBs? simple atuh…..

    Reply
  2. Haha, habis baca ini saya jadi punya kesimpulan, INTJ = fashion-less dan INFJ = fashionista. Argumennya simple, tipe INFJ seperti saya (dan sebagian teman INFJ lainnya) seringkali mempertimbangkan kesan/image/perasaan orang lain yang melihat kami. Bukan berarti palsu, tapi lebih ke service oriented (membuat orang lain merasa nyaman berada di dekat kami). Jadi sebelum ketemu/menghadiri acara selalu observe dulu gaya/budaya setempat. Bisa tampil cuek klo memang environtmentnya begitu.

    Reply
    • Haha, saya lebih sering tampil apa adanya. Gak seberapa ngurus apa kata orang. Tapi kalau di momen2 tertentu saja, saya akhirnya kelabakan karena gak ada persiapan untuk bisa tampil sesuai kondisi.

      Reply

Leave a Comment.