ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Mau beli notebook baru nih. Enaknya merek apa ya? Ada saran?

Setiap ada teman atau kerabat saya bertanya hal di atas ke saya (yang mungkin mereka anggap lebih mengerti), selalu saya bilang “pakai ASUS aja, enak“. Ya, ENAK. Definisi “enak” ini cukup luas berdasarkan pengalaman saya menggunakan notebook terbaik ASUS.

Waktu santai nongkrong di Cafe, dengan partner Zenbook UX32A

Waktu santai nongkrong di Cafe, dengan partner Zenbook UX32A

Saran saya tersebut bukan cuma omong kosong. Juga bukan cuma saran dari teman saya yang lain. Tapi ini murni dari kisah saya sendiri, sebagai pengguna setia notebook ASUS. Nah, gimana ceritanya?

3 Periode Berturut-Turut Tetap Pakai ASUS

Sampai dengan artikel ini ditulis, saya sudah menggunakan 3 seri notebook terbaik ASUS di kelasnya (sesuai kebutuhan saya). Dari 3 seri tersebut, gak pernah ada yang saya kecewakan. Saya ceritakan satu-persatu nih.

ASUS F83Se, Partner Semasa Kuliah

Notebook ASUS pertama saya adalah seri F83Se. Saya masih ingat dengan jelas, notebook ini saya beli waktu ada pameran komputer di Surabaya, dengan budget terbatas karena saya masih kuliah. Sebagian besar dana masih dari orang tua, yang mana itu pun pinjam. Hm, kira-kira akhir tahun 2009, saat masa penjajahan. Haha.

Budget waktu itu cuma 6 juta. Tapi begitu saya lihat ada F83Se ini, dengan spesifikasi Intel Core2Duo dan VGA ATI Radeon, saya langsung merasa inilah partner saya. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika yang masih gemar main game, tentu spec ini menarik. Meski harganya waktu itu masih 8 juta, saya bela-belain dengan keluarin tabungan lebih dalam. Jadi deh pulang ke Malang sambil bawa laptop baru. šŸ˜€

Penampakan ASUS F83Se, foto dari http://a1.trd.cm/thaisecondhand/201106/147/9764566_1.jpg

Penampakan ASUS F83Se, foto dari http://a1.trd.cm/thaisecondhand/201106/147/9764566_1.jpg

Dengan spesifikasi seperti ini, nilai 8 juta itu termasuk murah. Saya sangat puas pakai notebook ini. Performanya sangat oke. Mau running development tool untuk kerjaan kuliah saya pun gak ada masalah. Saya install Windows maupun Linux juga no problem, semua lancar! Apalagi waktu itu masih demen-demennya oprek laptop. Waaah, seperti di surga!

Notebook ini mengakhiri hayatnya bersama saya bukan karena rusak. Tapi karena ada teman saya yang mau menawar untuk beli laptop ini waktu saya lulus. Saya pikir kok waktunya juga pas, saya waktunya lulus kuliah tengah tahun 2011. Waktunya cari notebook baru! Dengan tetap pada prinsip “ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku”.

ASUS N43SL, Partner Mengawali Karir

Berbekal hasil jual notebook ASUS sebelumnya, saya cari-cari target berikutnya. Tetap setia dengan ASUS donk!

Nah, kebetulan deket rumah ada toko komputer langganan. Saya minta tolong mbaknya untuk bantu carikan laptop merek ASUS dengan VGA dedicated (demi main game). Gak berapa lama, dapat info barang ready tinggal satu, yaitu seri N43SL.

Penampakan asli ASUS N43SL saya waktu awal beli, saya coba install Linux

Penampakan asli ASUS N43SL saya waktu awal beli, saya coba install Linux

Notebook ASUS ini saya beli tengah tahun 2011 dengan harga 6 juta rupiah, lebih murah dari seri sebelumnya, padahal dengan spesifikasi lebih tinggi. Setahu saya, laptop tipe N adalah untuk kebutuhan multimedia. Dengan processor Intel Core i3 dan VGA Nvidia GeForce 2GB, sudah cukup mewakili kebutuhan saya. Apalagi suara speaker-nya yang luar biasa, cocok buat musisi seperti saya.

Eh iya, yang saya bikin terkejut adalah laptop ini menggunakan teknologi dual VGA, Intel dan Nvidia. Pada saat notebook sedang menjalankan proses biasa, yang digunakan adalah VGA Intel dengan performa standar dan hemat energi. Pada saat aplikasi yang membutuhkan kualitas grafis tinggi seperti game atau Photosh*p, sistem otomatis menggunakan VGA Nvidia yang lebih powerful. Ini sangat membantu saya, khususnya dalam hal menghemat energi. Baterai bisa bertahan hingga 4-6 jam, dengan penggunaan normal.

Ukuran notebook ini terbilang cukup besar dan berat. Maklum, demi mengusung kemampuan multimedianya. Banyak karya sudah saya telurkan dengan menggunakan notebook ini, khususnya saat masa awal-awal saya memulai. Notebook terbaik N43SL memang powerful untuk berbagai kebutuhan baik yang membutuhkan resource kecil sampai besar. Sempat saya tambahkan RAM sendiri agar lebih optimal.

Sampai saat ini, notebook ini masih ada di saya, dan tidak ada niat untuk menjualnya. Tapi akhir tahun 2013, saya sudah tidak lagi memakai N43SL. Notebook ini saya manfaatkan untuk tim saya yang bekerja di bidang website development. Lah, terus saya pakai apa?

ASUS Zenbook UX32A-R3024H, Partner Menjelajahi Dunia

Seiring dengan kebutuhan saya yang lebih banyak mobile daripada dulu yang sering di satu tempat saja, membawa N43SL di tas bisa dibilang sengsara. Wajar sih, karena termasuk dalam kelas multimedia, laptop sebelumnya itu bisa dibilang cukup berat akibat komponennya yang besar-besar. Saya putuskanlah untuk beli laptop baru yang lebih ringan.

Teman setia ngeblog

Teman setia ngeblog

Awalnya saya mengincar netbook saja, atau seri UL dari ASUS. Tapi dipikir-pikir kok kalau netbook itu performanya kurang sip untuk kebutuhan saya yang masih suka coding. Saya coba sabar cari referensi (tetap harus ASUS), akhirnya menemukan seri baru dari ASUS, yaitu Zenbook Family.

Perpindahan data dari kedua ASUS notebook terbaik dan favoritku

Perpindahan data dari kedua ASUS notebook terbaik dan favoritku

Zenbook ini termasuk dalam kategori Ultrabook, yang tipis tapi performa tetap kelas atas. Tipis, ringan, mudah dibawa, dan yang paling penting adalah teknologi Instant ON. Cocok sekali untuk saya yang suka mobile. Dari satu kantor, saya kerjakan sesuatu. Mau pindah tempat cukup tutup laptop (gak perlu shut down), terus begitu sampai di TKP buka laptop dan langsung nyala.

Tampilan index ASUS Zenbook UX32A

Tampilan index ASUS Zenbook UX32A

Yang saya miliki ini seri UX32A dengan processor Intel Core i3, RAM 4GB (saya upgrade jadi 10GB), Harddisk 500GB + SSD 24GB, Layar 13″ inch, USB3, body alumunium, dan berbagai nilai lebih lainnya. VGA memang masih integrated (shared), tapi sudah Intel yang cukup baik. Baterai bisa tahan sampai 5 jam pemakaian normal. Yang keren adalah teknologi SSD yang digunakan sebagai cache, sehingga transfer data jadi jauh lebih cepat.

Processor Core i3 untuk Ultrabook

Processor Core i3 untuk Ultrabook

Seingat saya, waktu beli harganya adalah sekitar 8-9 juta rupiah (beli online). Cukup worth dengan kualitas seperti ini. Untuk selesaikan kerjaan nyaman, untuk game oke, untuk mainkan musik speakernya mantab. Mau pakai laptop sambil tiduran pun gak masalah, saking ringannya. Touchpad ASUS UX32A juga dilengkapi teknologi Multi-touch yang keren bernama ASUS Smart Gesture Technology, bahkan bisa disetting.

Performa Zenbook UX32A yang super keren

Performa Zenbook UX32A yang super keren

Karena RAM sudah saya upgrade jadi 10GB (2GB onboard + 8GB Corsair), kerja multi-tasking jadi nyaman. Buka Explorer, Firefox, Chrome, Tweetdeck, Notepad++, Netbeans, MS Word, Adobe Photoshop, Evernote, Skype, Winamp, dan MS Power Point secara bersamaan pun gak masalah. Luar biasa memang! Waktu booting awal pun sangat singkat, tidak sampai 15 detik. Itu di luar kemampuan Instant ON yang bisa nyala dalam waktu 2 detik saja.

Konektivitas yang disediakan Zenbook ini juga keren. Ketiga port USB-nya sudah memakai teknologi USB 3.0. Untuk Card Reader, sudah integrated. Colokan untuk earphone ternyata sudah memakai yang 3 line, seperti earphone untuk HP, yang colokannya jadi satu antara speaker dan micnya. Hemat area donk.

Sedangkan untuk VGA, portnya diperkecil jadi micro VGA, dengan tersedianya converter original dari ASUS. Tidak ada colokan kabel LAN RJ-45, tapi paket Zenbook menyediakan converter USB to RJ-45. Port HDMI pun juga tersedia, sangat bermanfaat kalau saya pakai dual monitor.

Konektivitas untuk VGA dan RJ-45 sehingga dipasang pada saat butuh saja

Konektivitas untuk VGA dan RJ-45 sehingga dipasang pada saat butuh saja

Sampai saat artikel ini ditulis, saya tetap setia pakai ASUS Zenbook, notebook terbaik dan favoritku ini. Bahkan bisa sampai 8 hari tidak shutdown sama sekali. Sudah plek rasanya di hati. Seandainya mau ganti pun, saya akan beli Zenbook generasi berikutnya, yang saat ini sudah masuk di Indonesia.

Support Itu Penting, ASUS Juaranya!

Beli notebook itu gak cuma dilihat dari spesifikasi, popularitas merek, atau malah “bonus-bonus” yang ditawarkan toko-toko di pameran komputer. Salah satu hal yang terpenting dalam memilih notebook adalah support-nya, baik online maupun offline.

Yaaah, tidak ada notebook yang sempurna. Yang namanya buatan pabrik pasti ada aja yang memiliki kecacatan. Kecacatan bisa jadi dari sisi software maupun hardware.

Kendala Software

Bagi saya yang orang IT, cacat software sih tidak ada masalah. Paling banter ya cukup lakukan install ulang, sudah beres. Kelebihan ASUS ini adalah menyediakan support online yang baik. Meski DVD driver sudah hilang, saya bisa dengan mudah men-download driver-nya di website Support Center ASUS.

Khusus untuk Zenbook saya, karena Windows 8-nya original dan disediakan recovery partition, prosesnya jauh lebih mudah. Cukup masuk ke mode recovery, beres deh proses instalasinya. Gak perlu ribet! Update driver pun secara otomatis bisa dilakukan apabila online.

Kendala Hardware

Nah, yang susah adalah kalau cacat hardware, karena saya gak punya kemampuan lebih untuk menanganinya. Apalagi kalau memang sudah tidak bisa digunakan lagi, otomatis harus ganti. Sama juga seperti ketiga ASUS yang pernah saya pakai ini, masing-masing tetap ada kecacatan tersendiri.

Tapi jangan salah, support ASUS dari sisi hardware ini keren banget! Yang paling utama adalah sejak notebook ASUS pertama saya, sistem garansi ASUS sudah online dan terpusat. Lama garansinya pun panjang, 2 tahun! Saya coba ceritakan lebih lengkap nih.

Kendala di F83Se

Notebook pertama ASUS F83Se saya ini sempat mengalami masalah di keyboard. Waktu itu saya belum berani bongkar-bongkar laptop. Saya coba telepon ke support center Jakarta, karena tahun 2009 itu setahu saya belum ada service center di Malang. Customer Service yang menangani langsung dengan tanggap mengecek masa garansi notebook saya, dan confirm kalau masih ada garansi.

Saya diminta untuk mengirimkan laptop langsung ke Jakarta. Sedikit lama sih prosesnya, tapi dicek secara menyeluruh. Ternyata sedikit ada masalah di RAM juga, dan langsung diganti. Pengiriman ke Malang pun diurus tanpa biaya oleh mereka. Dalam waktu 2 minggu, saya sudah bisa menggunakan lagi laptop saya.

Kendala di N43SL

Untuk notebook kedua, ASUS N43SL hampir tidak ada masalah sama sekali. Semuanya berjalan normal hingga hampir 2 tahun. Tapi ternyata keyboardnya juga bermasalah di tahun 2013, mungkin karena memang frekuensi pemakaian saya yang terlalu banyak. Setiap hari minimal 8 jam menggunakan notebook. Hahaha.

Kali ini saya sudah berani bongkar-bongkar laptop, berbekal berbagai video tutorial di YouTube. Kebetulan saya tidak ada waktu untuk menunggu proses pengiriman ke Jakarta karena kerjaan sedang banyak. Akhirnya saya cari di Internet, toko online yang menjual sparepart keyboard laptop tipe ini. Dan akhirnya saya bisa menggantinya sendiri, hingga saat ini tidak ada masalah serius lain.

Kendala Zenbook UX32A

Sedangkan untuk notebook saat ini, Zenbook UX32A, support dari ASUS semakin keren lagi. Waktu itu, tiba-tiba booting jadi sangat lama dan transfer data pun melambat cukup parah. Prediksi saya yang rusak adalah SSD Cache-nya, tidak terbaca oleh sistem. Wah, kerusakan gawat nih.

Saya coba bongkar-bongkar casing-nya, tidak menemukan lokasi SSD-nya. Setelah googling, baru tahu bahwa SSD tipe ini adalah onboard (tertanam) langsung di motherboard-nya. Ah, menyerah sudah.

Waktu buka-buka ASUS Zenbook terbaik dan favoritku untuk nambah RAM dan cek SSD

Waktu buka-buka ASUS Zenbook terbaik dan favoritku untuk nambah RAM dan cek SSD

Karena waktu itu di Malang sudah ada ASUS Service Center, saya coba berkunjung ke sana dan menceritakan masalahnya ke teknisi. Ternyata benar, yang bermasalah adalah SSD-nya. Nah, celakanya adalah karena SSD-nya onboard, maka yang harus diganti harus seluruhnya, yaitu motherboardnya. Saya tanya ke teknisi, “terus gimana solusinya?”

Alhamdulillah dan luar biasa, karena masih dalam masa garansi (wong baru beli kok), motherboardnya akan diganti. Saya gak perlu kirim ke Jakarta, karena komponen akan dikirim langsung ke Malang. Perkiraan dari teknisi sih, bergantung persediaan barang, paling lama 2 minggu selesainya. Waaah, padahal lagi butuh banget. Tapi mau gimana lagi, harus ikhlas.

Eeeeh, tapi belum ada 5 hari, sudah dapat telepon dari ASUS Service Center Malang, yang mengabari bahwa notebook saya sudah selesai. Wow, cepet amat! Dan ini seperti laptop baru donk, karena motherboardnya ganti baru. Semakin sreg deh pakai ASUS ini.

ASUS is the Best, Notebook Terbaik dan Favoritku!

Ya, kesimpulannya ASUS memang notebook terbaik dan favoritku. Sudah pakai 3 generasi dan tetap nyaman dengan ASUS. Adik saya pun saya belikan netbook ASUS juga, seri EEpc. Sempat ada masalah hardware, tapi terselesaikan dengan service center yang keren. Gak heran, setiap ada teman atau kerabat yang butuh saran untuk beli notebook, selalu saya sarankan ASUS.

Gak perlu jelasin lagi alasan kenapa pakai ASUS. Dari pengalaman saya saja sudah cukup rasanya. Secara hardware oke, secara support juga terbaik. Semoga saya bisa segera punya rejeki untuk beli Zenbook generasi barunya.

Tambahan: Tablet Saya Pun ASUS loh!

Untuk mendukung mobilitas, saya juga beli tablet. Begitu dapat informasi bahwa Google mengeluarkan Android Nexus 7-nya dengan pabrikan ASUS, gak pakai mikir 2 kali, saya langsung beli secara online. Hardware-nya keren dengan harga terjangkau, jadi pertimbangan utama saya. Sampai saat ini pun, ASUS Nexus 7 juga tetap saya gunakan.

Tablet setia, ASUS Nexus 7

Tablet setia, ASUS Nexus 7

Catatan: Post ini saya ikutkan dalam ASUS Blog Contest 2014

N550-fonepad-contest-3

20 Comments

  1. salam kenal mas Fauzil,
    nama saya Handi kebetulan saya pake asus f83se juga dr 2009 sampe skrg. rencananya saya pengen hijrah ke linux tapi dah coba berbagai linux ga bisa diinstall di laptop ini. booting pertama ke baca selanjutnya cuma kedip2.. padahal di laptop lain bisa. settingan bios kah atau apa yg salah mas?

    Reply

Leave a Comment.