Lahir Menangis Mendapat Senyuman, Mati Tersenyum Mendapat Tangisan

Beberapa hari yang lalu, ada acara halal-bihalal di RT saya, di Sengkaling, yang diadakan rutin setahun sekali. Biasanya sih saya males datang acara kayak gini, karena isinya cuma bapak-ibu warga doank, jarang yang seumuran. Tapi karena diminta sama ortu, akhirnya saya ikut juga. Ya tahun ini tetep donk, gak ada yang seumuran.

Seperti biasa, di halal-bihalal gini akan ada tausiah singkat. Saya lupa dari mana ustadz-nya, yang pasti dia temen bapak saya. Tausiahnya cukup singkat, tapi ada suatu hal menarik yang perlu dicamkan.

Pada saat seseorang lahir, (umumnya) dia menangis, dan orang-orang di sekitarnya tersenyum. Dia bagaikan sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada orang tuanya, kepada orang-orang terdekatnya. Ya, begitulah kita, di awal kehidupan kita.

Kita tidak bisa memilih bagaimana kita lahir. Tapi sebaliknya, kita bisa memilih bagaimana kita mati, suatu saat nanti.

Kata sang ustadz, kematian terindah adalah saat kita mati tersenyum, namun begitu banyak orang yang menangis karena kehilangan kita. Sungguh suatu kalimat yang dalam maknanya.

Orang-orang menangis karena kehilangan sosok yang luar biasa, yang baik, yang bijaksana, yang dermawan, yang rendah hati, yang ramah, yang semasa hidupnya penuh dengan senyuman dan kebaikan kepada siapapun di sekitarnya. Saking baiknya kita, hingga ada sekian banyak orang yang mengantarkan ke liang kubur kita. Masih ingat bagaimana Gus Dur meninggal? Wow, luar biasa yang menangis kehilangan.

Gampangnya, itulah salah satu “jembatan keledai” untuk mengarahkan visi hidup dunia kita. Gimana caranya menjadi pribadi yang sedemikian luar biasa, hingga kalau kita tidak ada, akan ada banyak orang yang kehilangan. Di balik visi itu, Insyaallah langkah-langkah yang kita lakukan juga merupakan langkah-langkah yang bermanfaat.

Intinya, berbuat baiklah kepada siapapun juga, terutama kepada tetangga. Karena tetangga juga yang akan menjadi salah satu orang yang mengantar kita ke liang kubur.

Leave a Comment.