Suatu Pagi Menjelang Siang di Perempatan

Gak biasanya saya pagi-pagi sudah keliling. Hari ini khusus untuk ngurus rekening bank, beli AC, dan beli lemari. Dengan lokasi yang berbeda, jadinya bener-bener muterin Malang.

Sampai di perempatan kawi-bareng, saya terhenti oleh lampu lalu lintas yang sedang merah. Di 3 mobil depan, ada 2 orang loper koran dan 1 orang pengemis. Sang pengemis, seperti biasa, menggedor-gedor jendela setiap mobil yang dilewatinya. Yang menarik perhatian saya justru salah satu dari loper koran tersebut.

Si loper koran sudah cukup tua, berambut putih, dengan kacamata super tebal. Sayang, saya tidak sempat memotretnya. Saya keburu untuk kembali ke kantor. Yang saya ingat hanya senyumannya saat saya melewatinya sambil memberi isyarat menunduk.

Dari perempatan saya belok ke kanan. Mendadak mata saya berkaca-kaca. Hati saya serasa tertusuk-tusuk. Saya seolah menyesal. Harusnya saya menyempatkan berhenti untuk membeli korannya. Hei, itu jam 11 siang. Sudah pasti jarang orang beli koran. Tapi si bapak tetap semangat menjual koran, alih-alih mengemis.

Saya terus berkaca-kaca. Ingin menangis. Menangis, karena terkagum dengan perjuangan berat beliau. Menangis, karena saya tidak menyempatkan diri membantu beliau dengan membeli dagangannya. Menangis, karena saya bersyukur keluarga dan orang dekat saya tidak ada yang harus menjalani hidup yang serupa.

Saya tidak tahu beban biaya siapa saja yang beliau tanggung. Yang pasti, saya doakan beliau bisa memiliki hidup yang lebih baik. Saya janji, berikutnya, akan saya beli dagangan beliau.

Leave a Comment.