<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HQ&#039;s Serenity</title>
	<atom:link href="http://blog.haqqi.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.haqqi.net</link>
	<description>Personal Blog of Muhammad Fauzil Haqqi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 May 2013 03:36:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Beban, Harus Dipikul atau Ditinggal Saja?</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2013/05/beban-harus-dipikul-atau-ditinggal-saja/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2013/05/beban-harus-dipikul-atau-ditinggal-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 03:36:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[dream]]></category>
		<category><![CDATA[experience]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=833</guid>
		<description><![CDATA[Jam segini, lagi ngobrol-ngobrol santai via Google Hangout, mendadak keinget mimpi semalam. Entah kenapa mimpi ini berkaitan dengan kondisi saya saat ini. Yang saya ingat hanya 2 cuplikan singkat, yang cukup membekas untuk direnungkan. Yang pertama, saya bermimpi tentang seseorang yang sempat 10 bulan bersama itu. Dia sedang dibonceng sahabatnya di suatu jalan sempit, dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Jam segini, lagi ngobrol-ngobrol santai via Google Hangout, mendadak keinget mimpi semalam. Entah kenapa mimpi ini berkaitan dengan kondisi saya saat ini. Yang saya ingat hanya 2 cuplikan singkat, yang cukup membekas untuk direnungkan.</p>
<p>Yang pertama, saya bermimpi tentang seseorang yang sempat 10 bulan bersama itu. Dia sedang dibonceng sahabatnya di suatu jalan sempit, dan saya mengejarnya dengan motor di belakangnya. Entah kenapa, saya memutuskan untuk tak menyapanya saat menyalip. Setelah itu saya menghadapi jalan berkelok, dan ketika saya menoleh ke belakang, dia sudah menghilang.<br />
<span id="more-833"></span>Mimpi yang kedua mungkin adalah tentang beban dan tanggung jawab. Saya bermimpi saya sedang berjalan di suatu tempat, sambil membawa tas punggung yang begitu berat. Awalnya saya begitu semangat untuk menjalaninya. Tapi ternyata tidak ada 20 menit saya berjalan, saya menyerah. Saya merasa gak sanggup memikul beban itu.</p>
<p>Tas tersebut saya taruh di bawah, dan seketika saya merasa sangat ringan. Saya bisa berjalan beratus-ratus meter dengan sangat mudah. Saya bebas kemana-mana. Saya tidak terikat. Semua mendadak cerah.</p>
<p>Tapi entah kenapa, saya merasa gak nyaman. Gak berapa lama, saya memilih untuk kembali ke tempat saya menaruh tas saya. Memikulnya kembali, dan berusaha keras berjalan. Dan, saya pun tidak ingat lagi kelanjutan mimpi itu.</p>
<p>Dari sini saya bingung. Apakah beban itu harus ditinggal, atau dipikul hingga tempat tujuan? Apakah tas itu benar-benar sebuah beban? Tapi kenapa saya merasa gak nyaman meninggalkannya? Jangan-jangan saya justru lebih merasa hidup apabila berhasil memikul tas itu hingga garis finish.</p>
<p>Yang terakhir saya bingungkan, apakah mimpi kedua ada kaitannya dengan mimpi sebelumnya? No one knows.</p>
<p>~sent from Nexus 7</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2013/05/beban-harus-dipikul-atau-ditinggal-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Itu Indah</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2013/05/perbedaan-itu-indah/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2013/05/perbedaan-itu-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 15:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[friends]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Baru beberapa hari di Solo, acara Asean Blogger Festival 2013, saya sudah menemukan hal menarik untuk ditelaah. Ceritanya, saya lagi mencoba mengamati 2 jenis orang yang memiliki background berbeda. Saya mencoba mengamati perbedaan sudut pandang mereka tentang acara ini. Yang satu adalah blogger senior dan sudah sering hadir di acara kopdar-kopdar seperti ini, dengan berbagai [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Baru beberapa hari di Solo, acara Asean Blogger Festival 2013, saya sudah menemukan hal menarik untuk ditelaah. Ceritanya, saya lagi mencoba mengamati 2 jenis orang yang memiliki background berbeda. Saya mencoba mengamati perbedaan sudut pandang mereka tentang acara ini.<br />
<span id="more-832"></span>Yang satu adalah blogger senior dan sudah sering hadir di acara kopdar-kopdar seperti ini, dengan berbagai format. Komentarnya adalah, acara ini terlalu diatur. Harusnya peserta bisa bebas donk mau ngapain, <em>kan</em> namanya juga festival. Yah, bisa ditebak juga apa saja tindakan dia di acara ini. Dia jalan sendiri ke mana, keluar ruangan acara, absen ikut sesi yang dia tidak suka, dan berkumpul dengan teman-teman yang memiliki cara pandang serupa.</p>
<p>Nah, yang satu lagi beda. Dia adalah blogger newbie yang belum pernah ikut sama sekali acara kopdar blogger. Dia lebih sering ikut acara-acara formal yang sudah tertata rapi dan terfasilitasi, dengan panitia yang cekatan. Komentarnya adalah, acara ini tidak profesional sama sekali. Acara berjalan tanpa kejelasan rundown dan konsep, peserta tidak diatur dengan baik, tidak ada aturan-aturan yang wajib ditaati peserta, dan sebagainya. Banyak hal yang membuat dia sangat jengkel di acara ini.</p>
<p>Sementara saya, cukup netral. Saya melihat kedua pendapat teman saya di atas masing-masing ada benarnya, ada kurang cocoknya. Tapi gak ada yang salah. Saya sih, mencoba enjoy the process sambil mengamati berbagai kejadian yang ada di sekitar saya ini. Sekedar senyuman saya tampakkan ketika mendengar celotehan dari kedua teman saya ini.</p>
<p>Kalau sudut pandang saya, acara apapun asal bisa jadi ajang kopdar dan temu kangen bareng temen-temen blogger, ya dijalani aja. Berbagai format acara dan lika-liku di dalamnya, cukup jadi cerita, pengalaman, dan pelajaran saja. Hidup ini indah, kawan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2013/05/perbedaan-itu-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Semerta-Merta Memaafkan, untuk Membimbing</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2013/05/tidak-semerta-merta-memaafkan/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2013/05/tidak-semerta-merta-memaafkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 03:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[life journey]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[Pernah ngalamin nggak, ketika sudah berusaha melakukan segala usaha untuk mencapai sesuatu, kemudian ada yang bikin emosi atau apalah hingga muncul rasa jengkel yang sedemikian dalam? Pernah juga nggak, sudah sedemikian jengkelnya, tapi hanya mendapatkan sekedar kata &#8220;maaf&#8221; dari orang itu? Saya, cukup sering. Dan itu dari banyak orang, gak cuma satu. Apa yang saya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah ngalamin nggak, ketika sudah berusaha melakukan segala usaha untuk mencapai sesuatu, kemudian ada yang bikin emosi atau apalah hingga muncul rasa jengkel yang sedemikian dalam? Pernah juga nggak, sudah sedemikian jengkelnya, tapi hanya mendapatkan sekedar kata &#8220;maaf&#8221; dari orang itu?</p>
<p>Saya, cukup sering. Dan itu dari banyak orang, gak cuma satu.</p>
<p>Apa yang saya lakukan setelahnya? Memaafkannya?</p>
<p><span id="more-831"></span></p>
<p>Kalau itu sekali (pertama kali dia melakukan hal menjengkelkan), iya, saya maafkan. Kalau itu sudah berkali-kali, dan hal yang sama, biasanya tidak semerta-merta saya memaafkan. Tapi saya juga tidak secara spesifik mengatakan bahwa saya tidak memaafkannya begitu saja. Kadang saya hanya nyinyir, atau <em>ngeroweng</em> di twitter saya saja. Berharap orang itu segera sadar diri.</p>
<blockquote><p>Lucu ya.. Kalau semua masalah di dunia ini bisa selesai hanya dengan kata &#8220;maaf&#8221; saja, terus gimana?</p></blockquote>
<p>Ya, saya ingin memberi pelajaran, atau bahasa baiknya &#8220;membimbing&#8221;, bahwa ketika kita berbuat salah atau membuat orang lain jengkel, harusnya kita &#8220;do something&#8221;, instead of &#8220;only saying&#8221;. Sekedar kata &#8220;maaf&#8221; sekarang ini, apalah artinya. Apalagi kata maaf itu disampaikan hanya lewat sms, bbm, atau teks saja.</p>
<p>Biasanya saya langsung berpikir, &#8220;ini orang niat minta maaf gak sih?&#8221;. Nyampaikannya pendek amat kata-katanya, dan cuma &#8220;maaf&#8221; saja. <em>Mbok ya</em>, lakukan sesuatu yang benar-benar menunjukkan rasa bersalahmu gitu loh. Temui orangnya, lakukan sesuatu, jelaskan dengan baik, tunjukkan niatmu. Gak bisa menemui? Paling gak, telepon donk. Percayalah, suara itu lebih berharga daripada sekedar sms.</p>
<p>Yah, begitulah. Cukup sekian nyinyir kali ini. Pada dasarnya saya ini pemaaf kok. Kalau saya gak langsung ngomong &#8220;iya saya maafkan&#8221;, berarti saya ingin mengajari itu tadi, &#8220;do something&#8221;. Cumaaaan, saya memang agak susah sih melupakan kesalahan orang lain ke saya, apalagi yang sudah bikin jengkel teramat sangat. Kasih maaf sih iya, tapi luka biasanya tetap ada. <em>Ceileeeeh</em>&#8230;.. :p</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2013/05/tidak-semerta-merta-memaafkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mentok Notok</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2013/03/mentok-notok/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2013/03/mentok-notok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 12:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Flashback]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Regret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sudah selesai saya ketik sejak 18 Maret 2013 kemarin, di mana saya sudah merasa mentok notok akan sesuatu hal. Tapi yang terpublish kali ini, sudah dalam hasil revisi. Mentok-notok, yang mungkin bisa diartikan &#8220;sudah sampai ujung buntu dan gak bisa ngapa-ngapain&#8221;. Saya pikir, keadaan mentok-notok itu karena 1 hal saja, tetapi ternyata lebih [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini sudah selesai saya ketik sejak 18 Maret 2013 kemarin, di mana saya sudah merasa mentok notok akan sesuatu hal. Tapi yang terpublish kali ini, sudah dalam hasil revisi.</p>
<p><span id="more-828"></span></p>
<p>Mentok-notok, yang mungkin bisa diartikan &#8220;sudah sampai ujung buntu dan gak bisa ngapa-ngapain&#8221;. Saya pikir, keadaan mentok-notok itu karena 1 hal saja, tetapi ternyata lebih dari itu. Sempat saya down dan putus asa, hingga memikirkan alternatif terburuknya. Tapi alhamdulillah, pendekatan ke Tuhan Yang Maha Esa memberikan ketenangan hati.</p>
<p>&#8220;Manusia berencana, Tuhan yang menentukan&#8221; ternyata merupakan peribahasa mutlak! Dan itu, terjadi di kehidupan saya pula. Setelah memantapkan hati untuk rencana kehidupan yang lebih lanjut, dalam waktu singkat semuanya sirna begitu saja. Karena apa? Karena siapa? Mengapa? Entahlah. Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawabnya.</p>
<p>Sedih, marah, kecewa, cemas, gemetar, lelah, semua rasa negatif menjadi satu. Seolah tak kuat menahan ketidakberdayaan ini, gak jarang pula saya meneteskan air mata dan berteriak dalam diam. Masih besar harapan untuk terwujudnya segala rencana yang telah dipikirkan. Tapi, apa daya.</p>
<p>Berbagai kebodohan saya lakukan, tanpa tahu apakah itu benar atau salah. Hingga akhirnya saya paham, bahwa semua yang saya lakukan adalah kesalahan. Saya menyesal, telah melakukan hal yang seharusnya tidak saya lakukan. Maaf, dan semoga termaafkan. Dan semoga, masih ada setitik harapan untuk terwujudnya semua impian itu.</p>
<p>~samo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2013/03/mentok-notok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I to the E &#8211; Tentang Kepribadian</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2013/02/i-to-the-e/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2013/02/i-to-the-e/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2013 07:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Flashback]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Self-Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Saya gak tahu, yang namanya kepribadian itu berasal dari genetik, atau terpengaruh oleh lingkungan dan pengalaman hidup. Seseorang bisa saja memiliki sifat pendiam, suka memendam rahasianya sendiri, dan susah mencari teman. Ada lagi orang yang begitu ketemu orang baru, bisa langsung akrab. Yang mana kah Anda? Gambar di bawah ini adalah hasil tes kepribadian saya, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Saya gak tahu, yang namanya kepribadian itu berasal dari genetik, atau terpengaruh oleh lingkungan dan pengalaman hidup. Seseorang bisa saja memiliki sifat pendiam, suka memendam rahasianya sendiri, dan susah mencari teman. Ada lagi orang yang begitu ketemu orang baru, bisa langsung akrab. Yang mana kah Anda?</p>
<p>Gambar di bawah ini adalah hasil tes kepribadian saya, yang saya ambil secara online (gratisan) kira-kira waktu SMA. Hasilnya, saya INTJ. Ya! Saya, termasuk yang Introvert. Sejak kecil saya tergolong susah mencari teman. Berdiri di depan panggung dan dipandang sekian banyak tatapan mata itu &#8220;nggak aku banget&#8221;. Saya lebih suka di belakang, mengamati keadaan, sambil terdiam.</p>
<p><span id="more-823"></span></p>
<p><a href="http://mypersonality.info/fauzilhaqqi" target="_top"><img class="aligncenter" alt="Click to view my Personality Profile page" src="http://badges.mypersonality.info/badge/0/24/245451.png" border="0" /></a></p>
<p>Cukup lama saya memiliki sifat ini. Bahkan, mungkin masih ada sampai saat ini pula.</p>
<p>Tapi gak terasa, dengan sedikit &#8220;paksaan&#8221;, mau tidak mau pelan-pelan saya berubah. Karena saya punya Goal untuk bisa sukses muda, dan saya menyadari bahwa sifat introvert ini bisa menghambat kesuksesan saya, maka saya belajar untuk mengenal cara berpikir orang extrovert. Tujuannya cuma 1, biar tidak canggung untuk mengenal orang baru dan jadi pintar berkomunikasi.</p>
<p>Apa yang saya lakukan dan apa yang saya alami?</p>
<p>Cukup banyak. Saya akan share, tapi bukan berarti saya menyombongkan diri saya. Karena saya berharap, bahwa beberapa dari pengalaman saya, mungkin bisa menginspirasi Anda.</p>
<p>Salah satu tindakan nekad saya adalah masuk ke <a href="http://blog.haqqi.net/2011/07/ma-chung-story-part-1-dari-siswa-jadi-mahasiswa/" target="_blank">universitas swasta baru di Malang</a>. Tidak mengikuti jejak-jejak teman-teman lainnya yang sangat ingin masuk universitas negeri. Sebenarnya, saya separuh ingin membuang masa lalu saya, menjadi saya yang baru. Mencoba mengenal dunia baru. Dan terjadilah, di masa kuliah ini, saya merasakan banyak sekali perubahan di kepribadian saya. Sudah saya tuliskan ini panjang-panjang berseri di blog saya ini.</p>
<p>Hal lain yang bisa mengubah saya perlahan-lahan adalah komunitas. Dan ini, sebenarnya masih ada hubungannya dengan kuliah sih, karena sejak kuliah, saya jadi berani gabung ke organisasi-organisasi baru, mengenal orang-orang baru. Dari komunitas ini, saya belajar banyak hal, mengenal berbagai macam orang, dan menjadi berani berdiri di depan panggung.</p>
<p>Ya, perlahan-lahan, saya berubah. Dari Introvert, menjadi sedikit Extrovert. Dari seseorang yang selalu memendam masalahnya sendiri, menjadi orang yang berani curhat ke orang lain. Dari seseorang yang tidak suka berada di keramaian atau bahkan menjadi pusat perhatian, menjadi orang yang mampu berdiri di atas panggung dan berkumpul bersama di keramaian.</p>
<p>Kalau sekarang saya disuruh re-take tes kepribadian itu lagi, mungkin hasilnya akan berbeda. Ya, berbeda. People changes.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2013/02/i-to-the-e/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses #OblongUKM BloggerNgalam</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2013 12:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Friend]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[Selesai sudah gelaran #OblongUKM yang diadakan oleh BloggerNgalam, bekerja sama dengan Kampus STIKI dan STIMATA. Acara ini digarap setelah undangan Blogger Bengawan yang menginformasikan bahwa ada kerjasama pelatihan UKM bersama PANDI dan Google Indonesia, yang mana si Fuad dan Maulidi yang berangkat. Kopdar sejenak, maka diputuskanlah acara ini dilaksanakan di Bulan Desember 2012 lalu. Dalam [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Selesai sudah gelaran #OblongUKM yang diadakan oleh <a href="http://bloggerngalam.com" target="_blank">BloggerNgalam</a>, bekerja sama dengan Kampus <a href="http://stiki.ac.id/" target="_blank">STIKI</a> dan <a href="http://pradnya.ac.id/" target="_blank">STIMATA</a>. Acara ini digarap setelah undangan <a href="http://bengawan.org/" target="_blank">Blogger Bengawan</a> yang menginformasikan bahwa ada kerjasama pelatihan UKM bersama PANDI dan Google Indonesia, yang mana si <a href="http://twitter.com/hasanfuad/" target="_blank">Fuad</a> dan <a href="http://twitter.com/maulidi" target="_blank">Maulidi</a> yang berangkat. Kopdar sejenak, maka diputuskanlah acara ini dilaksanakan di Bulan Desember 2012 lalu.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-811" alt="STIMATA 1" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/stimata_1.jpg" width="400" height="225" /></p>
<p>Dalam kopdar, yang menarik di sini adalah ada beberapa aktivis muda yang merupakan anggota baru <a href="http://bloggerngalam.com" target="_blank">BloggerNgalam</a>. Sang ketua pelaksana acara, <a href="http://twitter.com/hasanfuad/" target="_blank">Fuad</a>. Pendamping setianya, <a href="http://twitter.com/masSamid" target="_blank">Dimas</a>. Ditambah lagi anggota baru <a href="http://twitter.com/viesoul" target="_blank">Alvian</a> dan <a href="http://twitter.com/zainul_munir" target="_blank">Munir</a> yang gak kalah actionnya. Kali ini saya sebagai ketua umum, hanya mengambil andil teknis sedikit sekali. Cukup sebagai Steering Committee yang membimbing dan mengawasi mereka.</p>
<p><span id="more-804"></span></p>
<p>Alhamdulillah, ternyata acara berjalan cukup sukses. Direncanakan ada 5 sesi dengan target mencapai 100 peserta, yang artinya tiap sesi minimal harus ada 20 orang. Sedikit <em>keder</em> waktu sesi 1 dan 2 di <a href="http://stiki.ac.id/" target="_blank">STIKI</a>, peserta yang hadir tidak mencapai 20 orang tiap sesi, kurang beberapa orang saja. Tapi luar biasanya, pihak <a href="http://stiki.ac.id/" target="_blank">STIKI</a> sangat mendukung dengan menyediakan lab yang luar biasa, serta mengundang beberapa pejabat dinas Koperasi dan Kominfo Malang, yang mana tentu menambah relasi BloggerNgalam.</p>
<p>Jadinya, rentetan acara ini dibuka oleh para pejabat secara langsung. Saya sendiri gagal ikut memberikan sambutan karena paginya ada acara. Setelah acara sesi 1 dimulai, saya dan para pejabat ngobrol-ngobrol singkat tentang bagaimana kelanjutan kegiatan ini nantinya, dan apa yang bisa dikerjasamakan. Syukur alhamdulillah, kami mendapat sambutan yang baik dari beliau-beliau.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-813" alt="stimata_3" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/stimata_3.jpg" width="400" height="225" /></p>
<p>Lain lagi dengan sesi di <a href="http://pradnya.ac.id/" target="_blank">STIMATA</a>. Karena mendapat dukungan dari berbagai dinas, beliau membantu penyebaran informasi ini. Selain dari brosur yang sudah disebar panitia <del>sampai menjadi semacam sales</del>, ternyata informasi juga sampai ke beberapa paguyuban. Gak nyangka, pelatihan 2 hari untuk sesi 3-5 yang direncanakan dengan target 60 orang, membludak jadi lebih dari 100 orang.</p>
<p>Panitia BloggerNgalam dan <a href="http://pradnya.ac.id/" target="_blank">STIMATA</a> sendiri sampai kewalahan, hingga lab baru tambahan pun dibuka. Untungnya, panitia tetap sigap dan bisa mengatasinya. Di hari itu pun, kami kedatangan tamu kehormatan dari Solo, pakdhe <a href="http://twitter.com/blontankpoer" target="_blank">Blontank</a> yang sudah banyak membantu lancarnya acara ini, terutama dalam hal komunikasi dengan EO pusat.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-805" alt="OblongUKM" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/banner.jpg" width="266" height="400" /></p>
<p>Di seluruh sesi, format runtutan acaranya hampir sama. Pagi selalu dimulai dengan pembukaan, kemudian langsung masuk sesi pelatihan pemanfaatan <a href="http://www.bisnisgoonline.co.id" target="_blank">www.bisnisgoonline.co.id</a>. Yang bikin materi pelatihan dan juga langsung menjadi instruktur utama adalah <a href="http://twitter.com/ariefbayu" target="_blank">Arief Bayu</a>, CTO dari <a href="http://tomatech.mobi/" target="_blank">Tomatech</a>. Setelah itu, ada sesi sharing dari salah satu anggota sepuh BloggerNgalam, yaitu <a href="http://twitter.com/alixwijaya" target="_blank">Alix Wijaya</a> yang telah sukses dengan produknya. Kebetulan di sesi terakhir juga ada tambahan sharing dari <a href="http://twitter.com/willy_merd" target="_blank">Willy</a> dengan cerita inspiringnya. Willy juga ikutan jadi instruktur di lab tambahan waktu sesi ke 3-5 karena saking membludaknya peserta.</p>
<p>Oiya, hebatnya lagi ternyata ada juga peserta yang jauh-jauh datang dari Kota Blitar demi acara ini. Sekedar informasi tambahan, acara ini 100% gratis diadakan oleh BloggerNgalam untuk kepentingan sosial, dan kegiatan serupa dilaksanakan secara serentak di 9 kota di seluruh Indonesia. Ada Makassar, Ambon, Palembang, Ponorogo, Bangkalan, dan sebagainya. Teruskan semangat ngeblog yuk! *ngelirik blog sendiri yang mulai jarang ada postingan*</p>

<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/stimata_2/' title='stimata_2'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/stimata_2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="stimata_2" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/peserta_1/' title='peserta_1'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/peserta_1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="peserta_1" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/stimata_6/' title='stimata_6'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/stimata_6-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="stimata_6" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/pembukaan/' title='pembukaan'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/pembukaan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="pembukaan" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/stimata_8/' title='stimata_8'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/stimata_8-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="stimata_8" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/banner/' title='OblongUKM'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/banner-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="OblongUKM" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/ketua_stiki/' title='ketua_stiki'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/ketua_stiki-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="ketua_stiki" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/stimata_7/' title='stimata_7'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/stimata_7-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="stimata_7" /></a>
<a href='http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/kepala_dinas_koperasi/' title='kepala_dinas_koperasi'><img width="150" height="150" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2013/01/kepala_dinas_koperasi-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="kepala_dinas_koperasi" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2013/01/sukses-oblongukm-bloggerngalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fokus dan Konsistensi Itu, Gak Cukup Sebentar Saja</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2013/01/fokus-dan-konsistensi-itu-gak-cukup-sebentar-saja/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2013/01/fokus-dan-konsistensi-itu-gak-cukup-sebentar-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2013 15:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Flashback]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Self-Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lebih dari setahun, saya setengah nekad menjalani profesi saya ini. Dengan menginisasi sebuah tim kecil, hingga sekarang menjalankan dua buah perusahaan. Dari sejak lulus kuliah tahun 2011 lalu, hingga sekarang, saya tetap konsisten. Berbagai godaan, rintangan, dan halangan, juga telah saya lalui. Ujung-ujungnya, saya selalu mencoba mengambil pelajaran dari sana. Salah satu pelajaran yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lebih dari setahun, saya setengah nekad menjalani profesi saya ini. Dengan menginisasi sebuah tim kecil, hingga sekarang menjalankan dua buah perusahaan. Dari sejak lulus kuliah tahun 2011 lalu, hingga sekarang, saya tetap konsisten. Berbagai godaan, rintangan, dan halangan, juga telah saya lalui. Ujung-ujungnya, saya selalu mencoba mengambil pelajaran dari sana.</p>
<p>Salah satu pelajaran yang saya ambil adalah tentang fokus dan konsistensi. Seperti judulnya, fokus dan konsistensi itu gak cukup hanya sebentar saja. Otomatis, yang namanya konsisten intinya adalah harus tetap menjalani apa pilihan kita selama mungkin. Sedangkan fokus, menjadi pasangan yang pas untuk memaksimalkan konsistensi tersebut.</p>
<p><span id="more-799"></span></p>
<p>Selama setahun ini, yang saya rasakan adalah kurangnya fokus saya. Bukan hanya fokus dalam hal general, tapi juga fokus topic-based, bulanan, mingguan, bahkan harian. Saking banyaknya hal yang harus saya kerjakan, saya tidak bisa fokus dalam satu hal saja. Kalau gak bisa fokus, jadi susah untuk konsisten.</p>
<p>Bingung? Begini maksudnya.</p>
<p>Let say saya sudah masuk dalam sebuah tim, menjalankan sebanyak X pekerjaan dalam kurun waktu Y hari. Belum selesai 1 pekerjaan, sudah ada tawaran pekerjaan lain dalam tim tersebut. Apabila penataan schedule kurang baik, maka bisa jadi hari pertama kerja task A, hari kedua task B, hari ketiga task C, hari keempat balik lagi task B, task A, dan muter gitu aja. Intinya, jadi gak fokus. Dan alhasil, saya gak bisa konsisten kerjakan task tersebut.</p>
<p>Belum lagi, kalau tergiur untuk join di sebuah tim baru, yang sangat mengasyikkan dan menantang. Bukan berarti tim pekerjaan saja, tapi juga komunitas dan kegiatan sosial lain, yang mana di dalam tim baru tersebut pasti juga berlaku sejumlah X pekerjaan dalam kurun waktu Y hari.</p>
<p>Kembali ke tim pertama, muncul ide baru, ide baru, ide baru lagi. Yang mana padahal hukum alam yang berlaku adalah &#8220;jumlah ide bagus selalu lebih banyak daripada kemampuan untuk eksekusinya&#8221;. Di balik ide tersebut tentu ada tanggung jawab dengan partner, klien, atau rekan kerja lain. Yang mana, gak mungkin salah satu mau ngalah dengan alasan &#8220;banyak kerjaan&#8221;.</p>
<p>Setumpuk demi setumpuk pekerjaan yang gak terselesaikan tepat waktu, akhirnya bertambah terus. Yang awalnya hanya sekedar important, kini ikut-ikutan menjadi urgent. Bisa-bisa, malah gak terselesaikan (dengan baik) semuanya.</p>
<p>Dari situ, saya belajar tentang manajemen waktu. Yaitu fokus dan konsisten terhadap 1 atau maksimal 2 kerjaan utama dalam suatu kurun waktu (biasanya beberapa hari/minggu) hingga selesai. Jadi, gak bisa cuma sebentar saja fokus, kemudian teralihkan ke hal lain yang mungkin lebih menarik. Selesaikan dulu yang ada! Daripada polanya terulang, dan gak ada yang selesai sama sekali.</p>
<p>Di sela-sela kerjaan tersebut, apabila bosan atau ada waktu senggang, baru kemudian mengutamakan untuk mencicil hal yang important namun tidak urgent, sebelum hal tersebut jadi ikut-ikutan urgent.</p>
<p>Memang saya harus &#8220;minta maaf&#8221; kepada kerjaan lain yang tidak menjadi prioritas karena bisa jadi terlambat atau tidak sempurna. Lha gimana lagi, udah terlanjur diiyakan. Kalau dibatalkan kan jadi malah kelihatan gak konsisten. Kalau diprioritaskan semua, ya namanya gak punya prioritas. Gak maksimal semua malahan.</p>
<p>Sementara ini, saya juga mencoba belajar menolak. Menolak segala hal yang asyik dan menantang selama ada sejumlah pekerjaan penting yang belum saya selesaikan. Ganbatte!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2013/01/fokus-dan-konsistensi-itu-gak-cukup-sebentar-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senyuman Sang Malam</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2012/12/senyuman-sang-malam/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2012/12/senyuman-sang-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2012 18:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pieces of Cakes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[Hening malam mencapai puncaknya. Detak jam pun terdengar kerasnya. Angin malam mungkin tak terasa. Tapi dinginnya merasuk raga. Keajaiban dunia adalah nyata. Ketika muram berubah senyuman. Namun suara hati terdengar resah. Meski raut muka tak mencerminkannya. Selangkah demi selangkah rasa. Aku bagikan untuk tawa dunia. Walau sedikit yang rasakannya. Cukup sudah jiwa ini tenang. Tapi, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hening malam mencapai puncaknya.<br />
Detak jam pun terdengar kerasnya.<br />
Angin malam mungkin tak terasa.<br />
Tapi dinginnya merasuk raga.</p>
<p>Keajaiban dunia adalah nyata.<br />
Ketika muram berubah senyuman.<br />
Namun suara hati terdengar resah.<br />
Meski raut muka tak mencerminkannya.</p>
<p>Selangkah demi selangkah rasa.<br />
Aku bagikan untuk tawa dunia.<br />
Walau sedikit yang rasakannya.<br />
Cukup sudah jiwa ini tenang.</p>
<p>Tapi, siapakah aku di hadapanNya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2012/12/senyuman-sang-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari 500 Rupiah</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2012/12/pelajaran-dari-500-rupiah/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2012/12/pelajaran-dari-500-rupiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2012 10:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Pieces of Cakes]]></category>
		<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Self-Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=791</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa belas tahun lalu, ada seorang anak, yang mungkin masih kelas 1 SD. Masa di mana uang saku yang diberikan orang tuanya hanya 100 rupiah sehari. Tanpa dia tau berapa uang saku teman-teman lainnya, dia tetap menikmatinya. Bahkan, masih sempat berbagi dengan teman yang malah tidak punya uang saku untuk sekolah. Ya, orang tuanya selalu [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-792" title="500 Rupiah" src="http://blog.haqqi.net/wp-content/uploads/2012/12/20121207-500-rupiah_resize.jpg" alt="" width="400" height="208" /></p>
<p>Beberapa belas tahun lalu, ada seorang anak, yang mungkin masih kelas 1 SD. Masa di mana uang saku yang diberikan orang tuanya hanya 100 rupiah sehari. Tanpa dia tau berapa uang saku teman-teman lainnya, dia tetap menikmatinya. Bahkan, masih sempat berbagi dengan teman yang malah tidak punya uang saku untuk sekolah. Ya, orang tuanya selalu mengajarkannya untuk berbagi. Kepada yang kurang mampu tentunya, bukan kepada yang sok tidak mampu.</p>
<p>Hari demi hari berjalan, hingga tanpa sadar dia punya uang sejumlah 500 rupiah. Jumlah yang sama dengan tabungan 5 harinya dia, apabila berjuang penuh menahan diri untuk tidak menjajakan uang sakunya. Memang bukan jumlah yang besar, namun sudah cukup untuk meraih kebahagiaan sejenak. Ingin sekali dia menjajakan sesuatu yang tidak biasanya dia bisa beli.</p>
<p><span id="more-791"></span></p>
<p>Ya, dia memilih untuk menjajakannya, satu-satunya uang 500 rupiah yang dia punya. Beranjak dari rumah, dia berjalan menuju toko terdekat. Tanpa sadar, sesampainya di toko, ternyata uang yang dibawanya lenyap. Entah jatuh, entah hilang, entah terselip. Yang pasti, tidak bisa ditemukan. Kini, dia tak punya uang sepeserpun.</p>
<p>Dengan raut muka sedih, dia menghampiri ibunya, sambil merengek, &#8220;<em>uangku hilang di jalan. Maaa, gantiin dooonk</em>&#8220;.</p>
<p>Biasanya, seorang ibu yang melihat anaknya sedih, akan dengan setengah senang hati dan iba, mengiyakan permintaan anaknya. Namun tidak demikian yang dilakukan sang ibu anak ini. Beliau menolak untuk memberikan gantinya, seraya berkata, &#8220;<em>nak, menjajakan uangmu, pergi ke toko, adalah pilihanmu. Sekarang uangmu hilang, itu adalah tanggung jawabmu sendiri. Mama tidak akan memberikan gantinya, karena itu keputusanmu sendiri untuk pergi, dan kecerobohanmu hingga uangmu hilang.</em>&#8221;</p>
<p>Tetap dengan raut muka kesedihan, anak itu menerima kata-kata ibunya, tanpa benar-benar mengerti maksudnya.</p>
<p>Beranjak dewasa, sang anak tumbuh menjadi orang yang bertanggungjawab, tidak ceroboh, dan menjaga kata-kata serta perbuatannya. Tanpa disadarinya, sebenarnya peristiwa uang 500 rupiah semasa kecilnya, sangat berdampak kepada pengembangan dirinya. Dengan &#8220;tamparan&#8221; kecil peristiwa tersebut, membuat si anak selalu berusaha untuk tidak ceroboh, berpikir sebelum bertindak, dan bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.</p>
<p>Spend money wisely, juga menjadi pelajaran berarti. Di mana dia tidak lagi menghabiskan uang yang dimilikinya hingga nol rupiah, namun menyisihkan untuk hal lainnya pula. Dia mengerti bahwa cadangan dana itu penting, alih-alih menjagakan orang lain untuk dihutangi.</p>
<p>Apabila dia melakukan kesalahan yang dia lakukan sendiri, maka dia akan berani bertanggungjawab serta menerima risikonya. Apabila dia punya uang, tidak akan digunakan seluruhnya, karena dia sadar bahwa uangnya terbatas. Sungguh luar biasa ajaran yang diberikan sang ibu terhadap sifat dasar anaknya. Coba bayangkan apa yang terjadi bila sang anak selalu dimanjakan dengan menuruti segala permintaannya, terutama yang berkaitan dengan hal yang menjadi tanggungjawabnya? Mungkin, sang anak akan tumbuh berbeda.</p>
<p>Ya, pelajaran dari sang anak tersebut, beranilah bertanggungjawab terhadap keputusanmu dan perbuatanmu sendiri. Jangan sekali-kali menuntut orang lain untuk melakukan ganti rugi, atau memperbaiki hal-hal buruk yang terjadi akibat keputusanmu. Kemampuan menahan emosi adalah salah satu kuncinya. Introspeksi, adalah jalan yang terbaik untuk Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2012/12/pelajaran-dari-500-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Masih Hijau</title>
		<link>http://blog.haqqi.net/2012/11/saya-masih-hijau/</link>
		<comments>http://blog.haqqi.net/2012/11/saya-masih-hijau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2012 08:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haqqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Self-Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.haqqi.net/?p=788</guid>
		<description><![CDATA[Dengar kata &#8220;hijau&#8221;, jadi ingat warna favorit seseorang yang pernah berarti bagi saya. Tapi bukan itu inti post kali ini. Post ini terinspirasi dari obrolan singkat saya dengan seorang politikus lokal, tentang bagaimana pemikirannya. Dari cerita singkat itu, saya seketika menyadari lagi betapa hijaunya saya. Ya, saya yang hijau. Saya yang akhir-akhir ini sedikit sombong [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dengar kata &#8220;hijau&#8221;, jadi ingat warna favorit seseorang yang pernah berarti bagi saya. Tapi bukan itu inti post kali ini. Post ini terinspirasi dari obrolan singkat saya dengan seorang politikus lokal, tentang bagaimana pemikirannya. Dari cerita singkat itu, saya seketika menyadari lagi betapa hijaunya saya.</p>
<p>Ya, saya yang hijau. Saya yang akhir-akhir ini sedikit sombong karena mengingat tagline &#8220;si cerdas yang pemalas&#8221;, yang dulu pernah saya pakai. Saya yang sejenak merasa sudah tidak perlu lagi serius belajar untuk mengembangkan diri. Sebuah sifat yang seharusnya tidak saya pelihara untuk mencapai tujuan hidup saya. Alhamdulillah saya tercerahkan lagi.</p>
<p><span id="more-788"></span></p>
<p>Pencerahan memang bisa datang dari mana saja, tapi tetap mutlak bahwa Allah-lah yang memberikannya. Melalui politikus tersebut, saya sadar kembali bahwa dunia ini masih luas, masih perlu banyak belajar lagi untuk mencapai tujuan besar hidup saya. Saya ingin sukses, tapi ingin tetap menjaga kebijaksanaan dan selalu rendah hati. Sebuah kondisi di mana saya belum pernah mengalaminya.</p>
<p>Siapa yang tahu ketika nanti saya sedikit sukses, saya akan khilaf, melupakan prinsip hidup saya. Tiba-tiba saya menjadi sombong, angkuh, congkak, dan hilanglah kebijaksanaan saya. Bisa jadi saya akan menjadi lebih buruk daripada orang-orang yang saya kutuk saat ini karena kesombongannya akan kesuksesannya. Karena itulah, semoga di masa depan, post ini dapat mengingatkan saya tentang diri saya saat ini.</p>
<p>Saya harus banyak belajar, banyak berbagi, banyak menyemangati orang-orang di sekitar saya. Manajemen waktu saya yang akhir-akhir ini semakin buruk dengan terdaftarnya begitu banyak task yang belum saya selesaikan, benar-benar terlihat menjijikkan. Begitu banyak &#8220;monyet&#8221; yang harus diselesaikan. Pelan-pelan, pasti saya bisa selesaikan. Entahlah, akhir-akhir ini serasa tidak ada waktu lagi untuk bersenang-senang, membaca buku, bermain game, atau berbagi bersama keluarga.</p>
<p>Siap! Kali ini saya harus fokus untuk meraih mimpi saya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.haqqi.net/2012/11/saya-masih-hijau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
