Mengapa Entrepreneur, Bukan Freelancer?

Lagi getol-getolnya merintis usaha

Freelancer, sebenarnya juga termasuk sebagai Entrepreneur. Tapi di sini saya coba jelaskan dengan sudut pandang yang berbeda. Entrepreneur yang saya maksud di sini adalah pengusaha. Sebagai orang berbasic IT, maka di sini yang saya bahas adalah tentang Freelancer dan Entrepreneur di bidang IT. Tapi sekali lagi, tulisan di sini adalah murni dari pendapat pribadi saya, bisa salah, bisa benar. Tapi semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan diskusi.

Menjadi Freelancer IT, gak susah. Sekarang ini ada banyak website yang menawarkan jasa penghubung antara orang yang butuh pekerja dan orang yang butuh duit (baca: Freelancer). Contohnya banyak, ada Freelancer.com, 99Designs.com, RentaCoder.com, dan odesk.com. Dengan sedikit keahlian, kerja keras, dan sering-sering online, sudah bisa mendulang dollar dari situ. Sebagai contoh, si David baru saja dapat beberapa ratus dollar, cuma dengan desain background twitter. Menggiurkan? Memang. Saya juga kepingin. Tapi saya nggak memilih jalur itu.

Mengapa?

Launching

Nah, akhirnya jadi juga rumah baru ini

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah YME karena atas segala rahmat limpahannya, akhirnya blog baru ini jadi juga. Tepat post ini saya publish, itu berarti secara resmi rumah saya sudah berpindah ke sini. Rumah saya yang beralamat di http://fauzilhaqqi.net sebelumnya tetap aktif sampai jangka waktu sewa domain habis. Rumah lama nggak akan diupdate atau diubah-ubah lagi.

Kenapa pindah ke rumah baru? Alasan simple. Karena saya mau setia dengan nama panggilan saya. Ahaha. Yup, domain yang lama rasanya kepanjangan. Akhirnya mumpung domain ini masih kosong, ya saya ambil saja. Semoga selamanya saya akan setia dengan nama ini. Tapi blog ini nggak langsung di root domain. Root domain http://haqqi.net cuma buat landing page aja. Isinya semua link yang berhubungan dengan saya.

Pintu

Selangkah..
Dua langkah..
Seratus, seribu, sejuta langkah..
Sudah tak terhitung yang aku jalani..

Tapi, apa yang kutemukan?
Ternyata hanya jalan buntu..
Tak berpintu, tak berarah, dan gelap..

Haruskah aku kembali dan mencari jalan memutar?
Terlalu jauh, terlalu berat, dan terlalu lelah hatiku..
Lelah? Ya, lelah.. dan takut..

Padahal, aku yakin di baliknya ada cahaya terang..
Yang mampu memberi air kehidupan jiwaku..
Aku butuh pintu untuk ke sana..

Kalaupun tak ada, berikan aku daya untuk menembusnya..
Aku memohon kepadMu Tuhan..

HQ-20101125
Satu lagi untuk Ice Queen, sang pintu..

Penyesalan

Penyesalan selalu datang terakhir..
Ketika sebuah barang rusak, kita baru menyadari kegunaannya..
Ketika perang pecah, kita baru menyadari indahnya kedamaian..
Ketika bunga semakin layu, kita baru menyadari indah mekarnya..

Sama..
Ketika seseorang telah pergi, kita baru menyadari bahwa kita membutuhkannya..
Dan dialah segalanya..
Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat..


HQ-20101124
Ya, aku menulisnya bukan “aku”, tapi “kita”.. Bahkan mungkin itu adalah “kamu”..

Bintang

Kuhabiskan malam ini dengan memandang langit..
Gelap, tak ada bintang yang tampak..
Sang awan dengan bangga menutupinya..
Kucoba meniupnya, tapi tak bergeming..

Kumenari untuk bintang-bintang..
Agar mereka mau menampakkan diri..
Satu-persatu bermunculan, mencoba menenangkan hatiku..
Tapi tetap aku murung..

Aku bertanya kepada Tuhan..
Mengapa ada satu bintang yang tak mau menampakkan dirinya..
Seberapa keras usahaku..
Dia tetap diam, berlindung di balik awan..


HQ-201011323
Kutulis untuk bintangku, ice queen yang masih di balik awan..

Kepingan Hati

Praaank!!!
Seribu..
Dua ribu..
Tidak, jutaan..
Kepingan yang harus aku susun ulang..

Satu demi satu..
Dengan tangan kosong..
Tanpa tahu bagaimana bentuknya..

Angin pun tak bersahabat..
Hembusannya menyapu segalanya..
Laut pun demikian..
Gelombangnya menghancurkan menjadi pasir..
Tetesan air mataku pun, tak mampu membasahinya..

Kepingan hati..
Perlukah aku susun kembali?


HQ-20101118
Haqqi yang masih mencoba bangkit kembali

12