Senyuman Sang Malam

Hening malam mencapai puncaknya.
Detak jam pun terdengar kerasnya.
Angin malam mungkin tak terasa.
Tapi dinginnya merasuk raga.

Keajaiban dunia adalah nyata.
Ketika muram berubah senyuman.
Namun suara hati terdengar resah.
Meski raut muka tak mencerminkannya.

Selangkah demi selangkah rasa.
Aku bagikan untuk tawa dunia.
Walau sedikit yang rasakannya.
Cukup sudah jiwa ini tenang.

Tapi, siapakah aku di hadapanNya?

Pelajaran dari 500 Rupiah

Beberapa belas tahun lalu, ada seorang anak, yang mungkin masih kelas 1 SD. Masa di mana uang saku yang diberikan orang tuanya hanya 100 rupiah sehari. Tanpa dia tau berapa uang saku teman-teman lainnya, dia tetap menikmatinya. Bahkan, masih sempat berbagi dengan teman yang malah tidak punya uang saku untuk sekolah. Ya, orang tuanya selalu mengajarkannya untuk berbagi. Kepada yang kurang mampu tentunya, bukan kepada yang sok tidak mampu.

Hari demi hari berjalan, hingga tanpa sadar dia punya uang sejumlah 500 rupiah. Jumlah yang sama dengan tabungan 5 harinya dia, apabila berjuang penuh menahan diri untuk tidak menjajakan uang sakunya. Memang bukan jumlah yang besar, namun sudah cukup untuk meraih kebahagiaan sejenak. Ingin sekali dia menjajakan sesuatu yang tidak biasanya dia bisa beli.

Saya Masih Hijau

Dengar kata “hijau”, jadi ingat warna favorit seseorang yang pernah berarti bagi saya. Tapi bukan itu inti post kali ini. Post ini terinspirasi dari obrolan singkat saya dengan seorang politikus lokal, tentang bagaimana pemikirannya. Dari cerita singkat itu, saya seketika menyadari lagi betapa hijaunya saya.

Ya, saya yang hijau. Saya yang akhir-akhir ini sedikit sombong karena mengingat tagline “si cerdas yang pemalas”, yang dulu pernah saya pakai. Saya yang sejenak merasa sudah tidak perlu lagi serius belajar untuk mengembangkan diri. Sebuah sifat yang seharusnya tidak saya pelihara untuk mencapai tujuan hidup saya. Alhamdulillah saya tercerahkan lagi.

BisaKomputer.com di Final Ideosource Incubation Audition

Pulangnya sih, naik merpati.. πŸ˜€

Masih tentang BisaKomputer.com, sebuah wadah bagi penulis, khususnya saya, untuk menuangkan karya-karyanya seputar komputer yang luar biasa. Beberapa minggu yang lalu, Tim BisaKomputer (BK) mendapat info sebuah event audisi untuk inkubasi startup dari Venture Capital bernama Ideosource. Audisi ini diadakan di 5 kota di Indonesia, salah satunya adalah Malang. Singkat cerita, BK iseng-iseng submit profil startup ini untuk tahap penyisihan, via email.

Ternyata, startup BK lolos menuju tahap lanjutan, yaitu pitching/presentasi di depan tim Ideosource. Lokasi presentasi waktu itu ada di Coffee Van Java, daerah tugu Malang. Awalnya sih, BK dinilai kurang pas untuk mendapatkan inkubasi dari Ideosource, kendati startup BK dinilai sudah sangat bagus di awal. Tapi ternyata, saya dihubungi secara langsung untuk diundang ikutan final di Jakarta. Setelah diskusi dengan tim BK, akhirnya saya dan Ihsan sepakat berangkat, meski dengan biaya sendiri.

Kerja: Perusahaan Raksasa, atau Perusahaan Kecil yang Mengapresiasi Anda?

Sudah lebih dari setahun saya mencoba menjalankan usaha saya. Berawal dari idealisme pribadi untuk pensiun dini, saya start Mimi Creative dengan total sebagai tim ber-4. Sekitar setahun berlalu, saya mendapatkan rezeki untuk mengembangkan sayap di ranah aplikasi mobile, dengan nama Tomatech Mobile. Dari kedua perusahaan tersebut, saya banyak belajar bagaimana memulai sebuah usaha.

Kali ini saya ingin berpikir sedikit mengenai pilihan hidup dalam hal pekerjaan utama. Dulu saya sempat galau juga dalam memilih pekerjaan saya, sebelum akhirnya saya ikut Asosiasi Manajemen Indonesia cabang Malang, dan teracuni untuk langsung terjun di dunia wirausaha dengan modal tanpa pengalaman. Jadi, meskipun saya ingin membahas bagaimana dampak memilih antara perusahaan raksasa atau perusahaan kecil, bisa jadi saya hanya menjelaskannya secara subyektif, karena saya gak tahu rasanya bekerja di perusahaan raksasa.

Youth Talk – Undangan dari AIESEC Malang

AIESEC, sudah lama saya pingin ikutan, sejak dulu waktu masih kuliah. Tapi apa daya, berkat kesibukan, akhirnya saya gak pernah ikutan organisasi tersebut. Padahal, organisasi itu untuk para mahasiswa, dan sekarang saya sudah cukup umur (baca: udzur). Nah, kebetulan sabtu kemarin Blogger Ngalam dapat undangan untuk hadri di acara AIESEC Malang, yang berjudul Youth Talk. Karena saya tertarik, dan biasanya gak ada anak Globber yang available kalo gak hari minggu, ya dengan senang hati saya datang.

Ternyata acara ini dilakukan rutin 3 bulan sekali, dengan topik yang berbeda. Acara kali ini, kebetulan topiknya adalah AIDS/HIV. Sebenarnya, ini topik yang lumayan membosankan bagi saya, soalnya dari jaman SMP dulu sudah sering ikut penyuluhannya. Tapi yang menarik di sini adalah, ternyata nara sumbernya bukan yang benar-benar ahli luar biasa gitu, tapi sesama Youth, yang memiliki kompetensi untuk sharing di acara tersebut.

12345