Hobi (Bisnis) Baru: Kaktus

Sebelumnya gak pernah kebayang, bakal masuk di dunia budaya tanaman hias. Apalagi kaktus. Sudah terlanjur terjun, ya basah sekalian deh. Sebasah apa?

Dulu mikirnya, “Ngapain ngerawat tanaman yang cuma bisa dilihat. Mending tanam sayur sawi atau kale, kalau lapar bisa buat teman mie. Atau tanam cabe, kalau ada tahu bisa bikin sambel.

Sebenarnya, dari sejak lama sudah sering tanam sayuran di rumah sendiri. Tapi ternyata banyak capeknya. Ribet semai, pindahkan ke pot yang lebih besar, siram harus tiap hari, semprot pestisida biar gak dimakan ulat, sebar pupuk rutin biar cepet besar.

Terus sayurnya besar. Panen banyak. Ribet bersihinnya. Habis itu bingung habisinnya. Kan umurnya juga gak panjang.

Pernah seharian dari pagi sampai sore, cuma untuk panen 10 pohon kale, bersihkan hama dan gulma, terus potong hasil panen, blanching, lalu packing kecil-kecil dan masuk freezer biar awet. Besoknya kok sayang mau ngehabisin hasil panen tiap hari. Heuheu..


Hikmahnya: Slow vs Fast

Sebelum cerita gimana kok bisa terjun di hobi “aneh” ini, mau share dulu soal hasil kontemplasinya. Kontemplasi ini dilakukan bukan sebelum terjun. Tapi setelah kadung terjun, baru coba mikir gimana dampak dan positioning hobi ini ke aktivitas utama.

Singkat cerita, ada bagusnya juga terjun di hobi ini.

Tanaman kaktus ini bersifat slow grower. Tumbuhnya luamaaaa. Gak perlu disiram setiap hari. Gak perlu diperhatikan setiap hari. Kebetulan juga yang dipilih adalah kaktus genus Astrophytum. Cocok untuk pemula.

Karakteristik slow grower ini yang jadi penyeimbang dengan aktivitas utama. Kehidupan seorang programmer yang otaknya harus selalu dan always fast growing.

Karena di ranah teknologi, ya harus “fast growing”. Terus ikuti update, belajar hal baru lagi, riset lagi, lupa lagi, begitu seterusnya. Tool 3 tahun lalu bisa jadi sudah tidak relevan di masa sekarang. Sementara tanam kaktus, mau ditinggal gak disiram seminggu juga aman-aman saja. Repotting belum tentu setahun sekali. Jadinya, seimbang deh.

Fun fact: harga biji kaktus astro biasa, yang termurah sekitar 2-3 ribu Rupiah.

Satu spesies aja bentuknya bisa beda-beda. Coraknya beda-beda. Harganya juga beda-beda.

Bisnisnya?

Saya bertekad untuk hobi ini bukan sekedar hobi saja. Harus bisa menghasilkan uang. Kebetulan pula, sejak pandemi ini, harga semua jenis tanaman hias meroket tinggi. Termasuk kaktus. Berarti marketnya ada.

Seedling umur 1 tahunan.

Asterias biasa dengan ukuran 4cm-an saja, bisa dijual dengan harga 200-300rb Rupiah. Belum lagi yang jenisnya variegata atau coraknya unik. Bisa jutaan.

Untuk mencapai ukuran 4cm-an, butuh waktu sekitar 2-3 tahun. Tergantung perawatan dan lingkungan. Jadi agak susah untuk diduplikasi.

Saya? Bukan mau jualan. Insyaallah, niatnya adalah bertani. Semai biji, rawat sampai besar, baru jual. Repeat.

Sekarang progressnya gimana?

Masih belajar. Belum genap setengah tahun riset dan coba-coba tanam. Sudah ada green house dan beberapa indukan. Tapi masih sempat “membusukkan” beberapa astro yang lucu. Biaya belajar.

Harapannya, dalam 3-5 tahun lagi bisa produksi skala besar dan export ke luar negeri. Doakan saja. Amiiin.

Pantau aja progressnya di IG iplant.cactus.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.