Besar di kandang, untuk bekal menantang alam…
Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Part 1 | Part 2 | Part 3
Prolog
Memasuki tahun kedua kuliah, bukanlah hal yang mudah. Saya masih mencari jati diri di lingkungan yang serba beragam itu. Masih dalam efek “pencarian sahabat sejati yang hilang”, saya berganti-ganti teman dekat. Dari yang seetnis, seagama, hingga yang beda etnis maupun beda agama. Bukannya SARA, tapi waktu itu saya memang sedang mencari tempat yang nyaman saya tinggali. Entah kenapa, nggak ada tempat yang benar-benar nyaman. Seperti kehilangan.
Saya nggak ambil pusing, yang penting hidup saya jalan dan jadi yang terbaik. Urusan akademis saya tetap saya jalankan dengan antusias. Urusan organisasi pun nggak ketinggalan. Bisa dibilang, saya over active di masa itu. Bukan demi apa-apa. Saya hanya senang. Itu saja.
Sepertinya sekali lagi saya harus terima kasih kepada Mark Zuckerberg, berkat Facebook yang bisa mempertemukan para teman lama. Entah kenapa, lulusan SD saya waktu itu nggak ada buku kenangan. Jadi bener-bener susah tuh kalau mau mengontak teman-teman jaman seragam merah putih itu. Saya sendiri, alih-alih jadi seorang networker seperti sekarang, dulu saya adalah pemalu yang lebih suka berteman dengan orang itu-itu aja. Dan karena dulu kelas dibuat ranking pararel, saya yang hampir selalu masuk kelas unggulan, ya temannya itu-itu aja.
Dua kegiatan yang cukup besar sudah selesai dijalankan. Keduanya, dengan codename #oblong. Berawal dari tawaran kerjasama dari Tim Sharing Keliling untuk menggelar acara 