Wah, gak kerasa blog ini benar-benar jadi sarang laba-laba. Sarang laba-laba yang tidak produktif sama sekali. Bahkan, ngobrolin soal 2018 aja waktu udah bulan Februari gini.
So, what?
Wah, gak kerasa blog ini benar-benar jadi sarang laba-laba. Sarang laba-laba yang tidak produktif sama sekali. Bahkan, ngobrolin soal 2018 aja waktu udah bulan Februari gini.
So, what?
Untuk blog yang sudah penuh sarang laba-laba..
Maaf, terakhir nulis di sini sudah tahun lalu..
Maaf, itu pun tulisan berbayar iseng-iseng dari sebuah ahensi..
Maaf, aku hanya malas untuk memulai memberikan inspirasi..
Maaf, aku mendadak jadi merasa inferior di mata orang-orang atas apa yang aku alami..
Dan ribuan alasan lainnya.
Tapi, dashboard kamu tetap kubuka setiap hari lewat shortcut speed dial di browser..
Tapi, aku tetap pantau traffic harian kamu dan aku tersenyum melihat perjuanganmu..
Tapi, engine kamu tetap ku-update setiap ada notifikasi, berikut plugin-pluginnya..
Tapi, komentar spam di kamu tetap aku sapu-sapu bersih..
Itu setidaknya.
Jadi, bolehkan aku merindukanmu lagi?
Jadi, bolehkah aku mengisi halaman menu “Post”-mu lagi?
Jadi, bolehkan aku berpikir liar lagi?
Jadi, bolehkan aku berbagi hal menjemukan lagi?
Bisakah aku menulis lagi?
Namanya sederhana, Kopdar Blogger. Sebuah rancangan dari sesepuh, Pakdhe Blontankpoer, diserukan via Twitter dan berkelanjutan secara resmi di blognya. Gak pakai promo dan gak pakai banner, dalam waktu singkat pendaftaran sudah ditutup. Melalui japri dengan Pakdhe, Blogger Ngalam dapat “jatah” undangan terbatas sebanyak 3 orang untuk menghadiri kopdar ini.

Foto bersama, guyub rukun tanpa blok-blokan
Acara yang dijadwalkan tanggal 26-27 Maret 2016 ini sempat membuat saya bingung. Dalam pikiran saya, karena tanggal 25 Maret itu libur, acara ini diadakan ya tanggal 25 itu. Lha dalah, tanpa re-check, saya pesan travel tanggal 24 malam (kamis). Dan sudah bayar DP. Untungnya masih bisa revisi jadwal keberangkatan. *tepok jidat*
Karena jumlah undangan yang terbatas, maka yang berkesempatan hadir di acara ini hanya saya, Alvian, dan Yaniko. Saya sendiri meski masih repot, entah kenapa sangat puingin ikut acara ini, saking kangennya sama teman-teman lama para blogger (yang mungkin sudah jarang update).
Gaes, pengumuman nih. Setelah beberapa bulan ini bertapa di depan laptop kesayangan, saya bersama tim Pictalogi.com akhirnya telah berbangga merilis versi baru websitenya. Versi yang awalnya rencana dirilis bulan Mei 2015 ini harus mundur hingga 1 Agustus 2015. Bukan kenapa-kenapa, karena memang kita pingin dalam rilis baru ini lebih matang secara tampilan, fitur, serta arsitektur untuk pengembangan ke depan.

Saya sendiri yang coding, bersama 1 orang programmer di kantor Mimi Creative. Bergantian bagi-bagi task untuk finishing semua fitur. Belum semuanya yang sudah kita garap ini dirilis sih, tapi pantau terus informasinya di Blog Pictalogi. Sekarang team lead-nya adalah Ghea, dibantu partnernya, Iklima. Seluruh pemrosesan otomatis namun tetap dengan sentuhan finishing tangan manusia, jadi bikinnya lebih terkesan personal.
Sejak mengelola startup sendiri, mulai dari Mimi Creative hingga Pictalogi sekarang, saya membuka lowongan kerja untuk cukup banyak posisi di kantor Malang. Ada programmer Android, iOS, PHP, dan juga akunting. Seperti biasa, zaman digital seperti ini, cukup kirim via email saja. Dari sekian banyak pelamar, cukup banyak juga yang membuat saya tergelitik dan juga malas membuka emailnya. Kenapa?
Entah karena memang belum terlatih etika menulis email, atau belum pernah melamar kerja via email, atau lebih-lebih bukan orang IT, ada saja hal-hal yang membuat saya (sebagai pemberi kerja) malas membuka email. Meski kadang bukan suatu hal yang mendasar (sebagai karyawan), tapi bisa berdampak cukup fatal.
Bayangkan, susah-susah sekolah/kuliah dengan nilai yang bagus, tapi email lamaran kerja tidak dibaca/dibuka oleh pemberi kerja hanya karena hal-hal (yang mungkin) sepele. Dan itu gak cuma terjadi sekali saja loh.
Gak biasanya saya pagi-pagi sudah keliling. Hari ini khusus untuk ngurus rekening bank, beli AC, dan beli lemari. Dengan lokasi yang berbeda, jadinya bener-bener muterin Malang.
Sampai di perempatan kawi-bareng, saya terhenti oleh lampu lalu lintas yang sedang merah. Di 3 mobil depan, ada 2 orang loper koran dan 1 orang pengemis. Sang pengemis, seperti biasa, menggedor-gedor jendela setiap mobil yang dilewatinya. Yang menarik perhatian saya justru salah satu dari loper koran tersebut.