• Home
  • /
  • Author: Haqqi

Perjalanan Sail Belitung – Part 3

Pertama kali (dan semoga terakhir kali) mandi khatulistiwa

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Preface | Part 1 | Part 2

Selepas balik ke Jakarta, Mas Agung Widodo sama sekali gak ngomong apa-apa ke saya. Sejak dari Dumai, waktu-waktu saya banyak dihabiskan di kamar panitia Kemenpora itu. Sambil ngehabisin buku bacaan yang saya bawa, menikmati popmie yang ada, mendinginkan kepala sambil cerita-cerita tentang bobroknya kepanitiaan TNI AL yang baru ini.

Selesai jamuan mandi khatulistiwa, pada denger khotbah dari Dewa

Suatu malam dalam perjalanan dari Dumai ke Bangka, Mas Agung (bukan yang widodo) dari Kemenpora nyeletuk ke saya, “Udah siap mandi sauna kan? Pake celana pendek aja tidurnya”. Nah, saya belum paham tuh tentang apa. Tapi saya ikuti aja lah. Biasanya tidur pake celana jeans biasa, malam itu saya pakai celana3/4 batik yang biasa-biasa aja. Dan, tidurlah saya.

Rrrroaaaarrrr!!! Duaaarrrrr!!! Hyyuuuuu!!!

Tiba-tiba, di tengah nyenyaknya tidur, speaker yang biasa buat pengumuman bersuara keras. Saya terbangun juga, tapi semuanya gelap. Gak ada lampu sama sekali!

Perjalanan Sail Belitung – Part 2

Naik kapal KRI Makassar 590

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Preface | Part 1

Setelah dari Pulau Panjang, kita sempat menikmati Kota Batam sebelum balik ke kapal lagi untuk berlayar. Waktu itu saya belum melihat sama sekali kapalnya. Di Batam, kita cuma jalan-jalan ke sebuah mall saja. Memang sepertinya berdasarkan rumor, barang elektronik di Batam harganya miring. Tapi belum tentu semuanya adalah barang resmi. Bisa jadi adalah black market. Dan yang bikin berbeda, colokan listriknya itu kaki tiga, bukan kaki dua seperti biasanya di Jawa.

Sempat main ke Kota Batam

Setelah puas jalan-jalan, kita balik ke bus untuk menuju dermaga. Wah, pertama kalinya saya melihat kapal yang akan saya naiki dari Batam menuju berbagai pulau sebelum kembali ke Jakarta ini. Kapalnya besar banget, khas kapal perang.

Perjalanan Sail Belitung – Part 1

Perjuangan menuju Pulau Panjang

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini: Preface

Hari Kamis pagi, tanggal 30 September 2011 saya bersiap menuju Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta untuk terbang ke Batam. Saya dan Mas Agung yang berencana berangkat naik bus trans Yogyakarta, ganti halauan naik taksi, daripada terlambat. Di bandara, kita ketemuan sama Mas Boimin, sang ketua KPN ini. Yang sedikit kecewa adalah sepertinya pengaturan transportasi kami kurang jelas, sehingga kami cukup terkatung-katung.

Salah satu jembatan dari 6 jembatan

Karena bukan penerbangan langsung, saya otomatis harus transit Jakarta. Sumpah, lama banget transitnya, 4 jam lebih. Ditambah lagi pesawatnya delay 45 menit, tambah bikin bosen aja. Untung sudah beberapa bulan ini terbiasa bawa 1-2 buku di tas kecil untuk bacaan di saat-saat seperti ini. Hitung-hitung nambah wawasan sembari nunggu waktu berjalan. Yah, walau kadang-kadang masih teralihkan dengan internetan di HP sih. Hehehe…

Perjalanan Sail Belitung – Preface

Pelayaran panjang pertama saya

Rentetan post ini adalah tentang cerita saya mengikuti Kapal Pemuda Nusantara dengan rute pelayaran menuju Belitung. Pelayaran dimulai dari Jakarta melewati berbagai tempat, antara lain Natuna, Batam, Dumai, Bangka, dan Belitung. Saya dengan terpaksa meninggalkan sementara tim Mimi Creative saya di Malang, padahal lagi panas-panasnya mau berkembang. Agar tidak mengurangi kenikmatan ini semua, saya juga ingin berbagi melalui tulisan ini. Tapi sebelum itu, saya ingin cerita tentang bagaimana perjalanan sebelum berangkat pelayaran.

Upgrading Character Building

Alhamdulillah, setelah mengikuti program Pelatihan Pembentukan Karakter Pemuda Indonesia (PPKPI) tahun 2010 lalu, di tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti upgrading bagi alumninya dengan prestasi cukup baik. Tanggal 26-28 September 2011, saya dijadwalkan untuk hadir di Hotel Sheraton (bintang 5) di Yogyakarta bersama alumni program character building yang lain. Hotel ini adalah hotel terbaik tempat saya pernah nginep selama ini, yang GRATIS. Hehehe…

VDMS Alumni Regional Meeting di Surabaya

Salah satu sponsor saya hingga menjadi seperti sekarang

Ini sebenarnya bukan lanjutan dari cerita saya tentang dunia perkuliahan, tapi hal yang saya ceritakan di sini berkaitan dengan salah satu hal yang mendukung saya di dunia perkuliahan. Ya, beasiswa!

VDMS adalah sebuah yayasan beasiswa, dan saya adalah salah satu alumni penerimanya. Program yang disediakan pun tidak hanya sekedar biaya pendidikan saja, tapi juga ada pelatihan bagi yang berprestasi. Saya pernah mengikuti salah satu pelatihannya, dengan nama Leadership Conference yang bertempat di Makassar. Sebuah pelatihan yang cukup membekas di ingatan saya, karena sebelumnya saya jarang mengikuti kegiatan semacam itu.

Cerita singkatnya, ada seorang pengusaha bernama Van Deventer yang duitnya dipinjam oleh seseorang untuk menjalankan sebuah perusahaan minyak di Indonesia. Setelah sekian lama, orang tersebut meninggal. Salah satu wasiatnya, biarkan dana tersebut tetap tersimpan sebagai saham, yang mana keuntungannya akan digunakan untuk membantu pendidikan pelajar di Indonesia. Dan kemarin saya baru tahu, kalau ternyata perusahaan tersebut ternyata sekarang bernama Shell.

Akhir Tahun yang Padat

Perjalanan menjadi pengusaha sukses

Siapa bilang jadi pengusaha itu mudah? Siapa bilang jadi pengusaha itu tinggal ongkang-ongkang nunggu duit? Itu bisa terjadi sih, kalau usahanya sudah stabil. Dan alhamdulillah, saya belum mengalaminya. Saya justru sedang dalam masa terberat menjadi pengusaha, yaitu tahap memulainya.

Semenjak lulus dari kampus saya bulan Juli 2011 lalu, dengan terpaksa saya kehilangan seluruh tim inti Mimi Creative yang saya rintis karena suatu alasan pribadi. Akhirnya saya harus berjuang sendiri untuk mencari rekan-rekan seperjuangan yang sama-sama ingin berkembang pesat, menuju kesuksesan bersama sebagai sebuah tim. Saya ingin berlari, melesat, mencapai goal-goal saya.