• Home
  • /
  • Author: Haqqi

Fajar

Satu hal yang kusuka dari malam..
Sunyinya tak pernah tergantikan..
Detak jarum jam terdengar teratur..
Beriringan dengan suara jantungku..

Aku tahu ini akan segera berakhir..
Lalu berganti dengan teriknya siang..
Bisingnya lalu lintas jalanan..
Memekakkan telingaku hai kawan..

Tapi sebelum itu terjadi..
Ada keindahan yang luar biasa..
Cahaya merah perlahan muncul..
Dari ufuk timur, dan semakin terang..

Kicauan burung yang terbangun..
Mengubah tenang menjadi damai..
Tetesan embun yang menyegarkan..
Tercium aroma kemurnian alam..

Aku berjalan perlahan..
Menikmati nyanyian sang alam..
Fajar..
Engkaulah pendamai malam dan siang..


HQ-20101206
Ketika menikmati penghujung malam

Harapan dalam Hujan

Rintikan air membasahi rerumputan..
Suara guntur memekakkan telinga..
Di bawah guyuran hujan aku memandang langit..
Penuh harap, penuh mimpi..

Dengan seluruh keyakinan, tanganku menengadah..
Kupanggil nama Allah dalam suara, sang pencipta alam..
Lantunan doa menyertai guratan hatiku..
Penuh khidmat, penuh ikhlas..

Seperti keyakinan bumi akan hangatnya matahari..
Yang akan datang kala mendung menghilang..
Seperti keyakinan laut akan sejuknya air..
Yang akan kembali bertualang dari hulu..

Perih ini, aku yakin akan terobati..
Sedih ini, aku yakin berubah jadi tawa..
Mimpi ini, aku yakin hanya tertunda..
Karena, aku percaya..


HQ-20101203
Hujan pun memberi inspirasi

Perpisahan

Karena setiap hidup, pasti ada mati..
Karena setiap mekar, pasti ada layu..
Karena setiap terang, pasti ada gelap..
Karena setiap pasang, pasti ada surut..
Karena setiap terjaga, pasti ada lelap..
Karena setiap subur, pasti ada gersang..

Ya, sama..
Karena setiap pertemuan, pasti ada perpisahan..
Tapi..
Aku yakin semua akan indah pada waktunya..


HQ-20101202
Mencari waktu yang tepat tuk berpisah

Warna Hidup

Seperti air, semua mengalir..
Bagai hembus angin, memberi sejuknya..
Merdunya nyanyian jangkrik, damaikan hati..
Tarian bintang-bintang, bagaikan mimpi..

Perlahan, semua mengisi hatiku..
Seketika, menenangkan dengan damai..
Petikan gitarku menambah cerianya hari..
Yang berangsur memberi pagi..

Suaraku, tak sebagus penyanyi profesional..
Tapi laguku, mampu meluapkan perasaanku..
Tanganku, tak semahir seniman ulung..
Tapi lukisanku, mampu wujudkan mimpiku..

Satu demi satu kujalani..
Dengan senyum, tawa, sedih, juga tangis..
Itulah warna hidupku..
Yang kini tak lagi hanya hitam dan putih..


HQ-20101201
Hidup, yang tak lagi semembosankan dulu

Persimpangan

Hentakan kaki semakin pelan..
Perlahan-lahan mulai terasa lemas..
Ketika kurasakan ada titik cahaya..
Seketika itu pula awan menutupnya..

Sungguh dilema..
Haruskah aku tetap di sini?
Ataukah lebih baik ke tempat yang lain?
Hanya Tuhan yang tahu jawabannya..

Sudah tidak bisa berbalik lagi..
Persimpangan ini, harus segera aku lalui..
Aku harap di sana ada cahaya yang lebih terang..
Di sana, di jalan yang aku pilih..


HQ-20101201
Ketika tersandung untuk kesekian kalinya..

Program 5 Tahun Pensiun

Sebuah rencana jangka menengah yang semoga lancar

Kata pensiun saat ini masih dianggap memiliki konotasi yang kurang baik. Biasanya pensiun dihubungkan dengan hari tua, umur kepala 5 ke atas, produktifitas menurun, dan tinggal berharap pada tunjangan hari tua yang jumlahnya nggak seberapa. Ya kan? Memang itu sudah jadi mindset kebanyakan orang. Tapi bagi saya beda.

Saya punya program, yang memang sih belum detail, tapi judulnya adalah “Program 5 Tahun Pensiun”. What? 5 tahun lagi pensiun? Gak salah? Umur masih kepala 2 gitu.