Tak hanya dilihat, tak hanya didengar..
Tak hanya dilukis, tak hanya digambar..
Tak hanya disentuh, tapi juga dirasakan..
Seni..
Sungguh sesuatu yang abstrak..
Tapi selalu memiliki arti..
—
HQ-20101115
Ketika menonton pagelaran seni
Tak hanya dilihat, tak hanya didengar..
Tak hanya dilukis, tak hanya digambar..
Tak hanya disentuh, tapi juga dirasakan..
Seni..
Sungguh sesuatu yang abstrak..
Tapi selalu memiliki arti..
—
HQ-20101115
Ketika menonton pagelaran seni
Hitam..
Butiran pasir itu berwarna hitam..
Tak mencolok di dalam gundukan pasir..
Semuanya hitam..
Kuambil sebutir..
Pasir lain tak bersuara..
Tak ada teriakan kehilangan..
Sunyi..
Aku tak mau jadi pasir itu..
Menjadi bagian yang tak dianggap..
Aku harus jadi berlian..
Bukan berlian di antara pasir-pasir..
Tapi berlian istimewa..
Yang mampu membantu pasir lain untuk menjadi berlian..
—
HQ-20101115
Seseorang yang masih belajar untuk menjadi inspirator
Biru..
Bercampur putihnya awan..
Langit yang kupandang pagi ini..
Begitu indah..
Sejuk..
Tercium wangi rumput hijau..
Taman tempatku berdiri kini..
Begitu indah..
Jernih..
Terpercik segarnya air..
Sungai kecil di depanku ini..
Begitu indah..
Jangan kau sakiti mereka..
Jangan kau rusak mereka..
Megahnya alam ini..
Begitu indah..
—
HQ-20101114
Ketika menikmati indahnya alam
Gelap..
Terasa gelap..
Langit yg kulihat malam ini..
Satu-persatu bintang meredup..
Kucoba menatap punggung tanganku..
Smakin tak terlihat..
Menghilang..
Bersama dgn harapanku..
Kuputuskan tuk berbalik..
Mencari jejak langkahku..
Tapi tampak begitu bias..
Tersapu angin yg tak bersahabat..
—
HQ-20101113
Ketika malam semakin terasa sepi
Karena setiap manusia bisa berubah
Yang namanya perubahan, harus terjadi. Kalau nggak gitu, kita hanya akan stuck di satu tempat saja, nggak ada perkembangan. Perkembangan? Ya, sebaiknya perubahan itu menuju arah perkembangan. Seperti perkembangan software, dari versi 0.1, alpha, beta, RC, sampai final version.
Kalau di analogikan, manusia sepertinya juga akan sama. Seperti yang dibilang Budi Rahardjo waktu seminar di Semen Gresik, beliau saat ini sudah sampai Budi Rahardjo versi 3.0. Wah, 3.0 itu bukan suatu perkembangan yang mudah menurut saya. Kenapa?
Saya sendiri, saat ini merasa belum benar-benar menjadi versi 1.0. Sebab dipikir-pikir dari sisi kepribadian, saya masih belum stabil. Artinya, masih sering berubah dari satu kepribadian ke kepribadian lain. Atau mungkin, masih mencari jati diri. Kadang jadi pendiam, kadang rame banget. Kadang senang keramaian, kadang menikmati kesendirian.
Sekedar jadi buku harian saja, di post ini saya coba mereka ulang peristiwa-peristiwa yang cukup mempengaruhi saya untuk merubah kepribadian saya.
Sebuah mimpi untuk kenyataan masa depan
Menikmati alam, menjadi sebuah hal yang cukup menenangkan hati saya. Saya sering melakukan itu sendiri saja. Memandang langit malam penuh bintang pun, sudah memberikan rasa ketenangan tersendiri. Melihat hijaunya sawah di pedesaan pegunungan, memberikan kesejukan buat hati saya. Ya, itu semua ciptaan Allah Yang Maha Esa, yang harus kita syukuri dan nikmati.
Beberapa waktu yang lalu, tercetus keinginan kuat untuk bertualang. Yah, niat ini nggak muncul begitu saja sih, tentunya dengan trigger-trigger tertentu. Salah satu mimpi saya memang adalah keliling dunia. Tapi itu masih lama, setidaknya dalam waktu 3-5 tahun baru bisa terwujud. Tapi hasrat untuk bertualang kan nggak harus hanya keliling dunia yang membutuhkan banyak uang. Dengan sebuah tas punggung saja, saya pikir bisa bertualang juga, setidaknya untuk keliling Indonesia.
Awalnya dulu pingin keliling Indonesia dengan hanya modal sepeda motor saja. Tapi apa daya, karena alasan keamanan dan ketersediaan sepeda motor untuk keluarga, saya harus mengurungkan niat tersebut. Alternatif lain adalah dengan murni backpacker-an dan naik angkutan umum. Wah, tapi dipikir-pikir itu bakal mengeluarkan cost yang besar nih.