• Home
  • /
  • Category Archives: Pieces of Cakes

Pieces of Cakes

Just my desire of writing

Iseng Recording – Lagu Pulang

studio

Seharian kemarin kerja di kantor sambil dengerin salah satu playlist favorit di 8track, Teman Hujan. Salah satu lagu yang enak didengerin di playlist ini adalah lagunya Float, dengan judul Pulang. Kalau gak percaya, coba deh dengerin sendiri. Semacam akustikan gitu deh.

Entah kenapa, hari ini seperti terlena dengan satu lagu ini. Langsung saya ambil gitar dan genjreng-genjreng cari nadanya. Gak lama, ketemu deh. Eh, ternyata udah mau maghrib, siap-siap untuk undangan makan pizza dari Hotel Harris Malang. Iya sih, masuk ke kantornya juga baru lewat siang hari. :p

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Mau beli notebook baru nih. Enaknya merek apa ya? Ada saran?

Setiap ada teman atau kerabat saya bertanya hal di atas ke saya (yang mungkin mereka anggap lebih mengerti), selalu saya bilang “pakai ASUS aja, enak“. Ya, ENAK. Definisi “enak” ini cukup luas berdasarkan pengalaman saya menggunakan notebook terbaik ASUS.

Waktu santai nongkrong di Cafe, dengan partner Zenbook UX32A

Waktu santai nongkrong di Cafe, dengan partner Zenbook UX32A

Saran saya tersebut bukan cuma omong kosong. Juga bukan cuma saran dari teman saya yang lain. Tapi ini murni dari kisah saya sendiri, sebagai pengguna setia notebook ASUS. Nah, gimana ceritanya?

Tertawakan yang Patut Ditertawakan

Ceritanya barusan gak sengaja baca quote di sebuah akun twit yang isinya kata-kata bijak. Kayak gini nih quote-nya.

You can tell how smart people are by what they laugh at.

Tina Fey

Jadi teringat betapa aneh rasanya waktu saya tertawa terhadap suatu hal yang mana orang-orang di sekitar saya gak tertawa. Bukan salah mereka sih, tapi memang wajar kalau mereka gak tau apa yang saya tertawakan.

Senyuman Sang Malam

Hening malam mencapai puncaknya.
Detak jam pun terdengar kerasnya.
Angin malam mungkin tak terasa.
Tapi dinginnya merasuk raga.

Keajaiban dunia adalah nyata.
Ketika muram berubah senyuman.
Namun suara hati terdengar resah.
Meski raut muka tak mencerminkannya.

Selangkah demi selangkah rasa.
Aku bagikan untuk tawa dunia.
Walau sedikit yang rasakannya.
Cukup sudah jiwa ini tenang.

Tapi, siapakah aku di hadapanNya?

Pelajaran dari 500 Rupiah

Beberapa belas tahun lalu, ada seorang anak, yang mungkin masih kelas 1 SD. Masa di mana uang saku yang diberikan orang tuanya hanya 100 rupiah sehari. Tanpa dia tau berapa uang saku teman-teman lainnya, dia tetap menikmatinya. Bahkan, masih sempat berbagi dengan teman yang malah tidak punya uang saku untuk sekolah. Ya, orang tuanya selalu mengajarkannya untuk berbagi. Kepada yang kurang mampu tentunya, bukan kepada yang sok tidak mampu.

Hari demi hari berjalan, hingga tanpa sadar dia punya uang sejumlah 500 rupiah. Jumlah yang sama dengan tabungan 5 harinya dia, apabila berjuang penuh menahan diri untuk tidak menjajakan uang sakunya. Memang bukan jumlah yang besar, namun sudah cukup untuk meraih kebahagiaan sejenak. Ingin sekali dia menjajakan sesuatu yang tidak biasanya dia bisa beli.

Butuh Dukungan untuk Jadi Inovator atau Penemu?

Dukungan bagi peneliti dan calon penemu itu penting

Bisa bayangkan ngga, kalau sekarang ini gak ada listrik, gak ada lampu, gak ada laptop, dan gak ada Internet? Saya yang harusnya kerjaan sehari-hari ada di depan laptop, mungkin bisa jadi ganti halauan ternak sapi atau malah kelinci. Bayangkan kalau gak ada kendaraan seperti sepeda pancal, sepeda motor, mobil, atau pesawat. Kemana-mana bakal jadi perjalanan panjang.

Ini juga salah satu bentuk inovasi

Ya, tanpa inovasi yang telah diciptakan oleh berbagai penemu dunia, mungkin hidup ini akan tetap membosankan. Kapan bisa nonton TV? Kapan bisa sms-an? Kapan bisa mention-mentionan dan kode-kodean di timeline Twitter? Kapan bisa datang undangan komunitas lain dengan transportasi cepat? Kapan bisa baca blog saya ini? :p