Saya Marah

Meski tetap tersenyum, tapi..

Meski jarang menunjukkannya secara langsung di depan orang yang bikin saya emosi, tapi saya juga bisa marah loh sebenarnya. Saya cuma manusia biasa yang meski marah tetap mencoba untuk bersabar dan mengerti mengapa orang lain itu bertindak suatu hal yang membuat saya marah. Modelling, tetap menjadi salah satu cara saya untuk terus mencoba menjadi bijak.

Di luar itu semua, sekarang saya coba introspeksi diri dan membuat daftar apa saja hal yang biasanya membuat saya marah, setidaknya marah dalam hati.

Tentang Skripsi Itu..

Perjuangan belum berakhir bung..

Menjelang saat-saat terakhir

Barusan pulang konsultasi akhir skripsi saya di MOG, ditemani hujan yang ternyata bisa bikin basah (nyesel gak bawa jas hujan). Meskipun terpaan tweet “DO” dari Maulidi terus menerpa, ternyata masih lebih kuat tekanan tidak langsung dari dosen pembimbing saya yang sangat perhatian. Gimana mau nggak nyicil kerjaan kalau setiap seminggu sekali harus lapor progress, dan kalau nggak nongol di kantornya pasti di-sms, YM, bahkan telepon.

Kalau diruntut dari awal persetujuan proposal atau pengetikan kode program pertama, itu saya lakukan sejak bulan Desember 2010. Lama banget ya? Sangat. Tapi sebenarnya waktu sebanyak itu juga sangat nggak efektif sekali, karena bukan untuk skripsi saja. Saya masih mengambil beberapa mata kuliah yang memang sengaja saya ambil telat. Saya masih harus menulis artikel demi sesuap nasi dan se-truck berlian. Saya juga terlibat di berbagai kegiatan lainnya.

Mencoba Semuanya, Buat Apa?

Saya adalah geek yang bukan sekedar geek..

Berada di depan laptop seharian kadang bisa jadi rutinitas saya. Ngapain? Kalau untuk akhir-akhir ini sih, memang harus garap skripsi, di mana topik skripsi saya adalah membuat program jejaring alumni kampus saya yang notabene baru ada alumni mulai tahun ini. Jadi mau nggak mau ya bisa seharian di depan laptop.

Tapi di luar masalah skripsi, memang hidup saya penuh dengan teknologi. Ya, saya ini geek. Dalam Wikipedia, istilah Geek punya banyak arti dalam rentang “a computer expert or enthusiast” sampai batas “a carnival performer who performs sensationally morbid or disgusting acts”. Di titik mana ke-geek-an saya ini?

Setengah Bermimpi

Masa lalu, bagai kenangan..
Yang dulu nyata, kini bayangan..
Bunga tidur, seakan menang..
Tak berdaya, aku terpejam..

Terasa begitu semu..
Hari-hari yang kulalui..
Kujalani hidupku..
Dalam setengah bermimpi..

Berlari, ku berlari..
Dalam mimpi yang abadi..
Mencari, ku mencari..
Dengan tujuan yang tak pasti..

Lihat putih di sana..
Lihat hitam di sini..
Lihat terang di sana..
Lihat gelap di sini..

Tapi ku punya setitik cahaya..
Dan tak kan pernah padam..
Meski bermandikan jelaga..
Aku akan tetap bertahan..


HQ-20110429
Terjaga di tengah malam

Jejak Online Sang Sahabat

Saya tahu, suatu saat akan menghilang juga..

Baru baca milis BloggerNgalam, langsung saya cek benar apa nggak berita tentang tutupnya Friendster tanggal 31 Mei 2011 ini. Setelah membaca beberapa sumber, saya masih nggak tahu benar tidaknya berita tersebut. Yang pasti, sepertinya seluruh foto, komen, group, dan berbagai fitur Friendster akan dihapus untuk perombakan besar-besaran.

Saya pribadi sih, nggak masalah dengan penghapusan itu. Toh sekarang sudah jarang sekali, atau bahkan nggak pernah, buka akun Friendster itu lagi. Tapi tiba-tiba saya teringat dengan seorang sahabat lama yang nggak sempat menikmati era Facebook.

Saya Bukan Jenius

Sekedar refleksi pribadi lagi..

Seminggu terakhir ini, saya ikuti sebuah aktivitas baru lagi bagi saya. Ya, benar-benar baru dan sama sekali nggak punya dasarnya. Sebuah aktivitas yang di luar keseharian saya sebagai tukang ketik orang IT. Bukan aktivitas main-main yang hanya akan berjalan sementara, tapi memang saya niatkan dengan investasi juga.

Dari aktivitas ini saya mengambil hikmah juga loh. Hikmah paling menancap di benak saya waktu pulang naek sepeda motor sambil mikir, adalah bahwa “saya bukanlah jenius”.