• Home
  • /
  • Tag Archives:  Reflection

Melihat ke Atas

Sekedar renungan singkat di siang bolong

Lilin pun akan menyilaukan ketika hati diselimuti kegelapan

Gengsi, sombong, congkak, berbangga diri… Apa sih salahnya dilakukan oleh seorang manusia? Kalau emang punya kemampuan dan kehebatan, ya silahkan. Tapi, apa yakin udah jadi yang paling hebat? Paling pintar? Paling kaya? Paling cerdas?

Akhir-akhir ini saya hampir terjerumus ke ruang hitam itu. Ya gak parah-parah amat sih, paling-paling cuma muncul rasa bangga diri yang sedikit berlebihan. Saya merasa sedikit sombong dengan kemampuan saya, terutama ilmu-ilmu saya. Padahal saya sudah bertekad untuk jadi sebijak mungkin. Salah satu unsur bijak kan tidak sombong. Untunglah, Alhamdulillah barusan diingatkan secara gak langsung sama Allah YME.

Gimana biar gak sombong atau berbangga terlalu lebih? Simpel, lihat aja ke atas, setinggi-tingginya. Maksudnya?

Hal Sederhana untuk Menjadi Pemimpin

Pelajaran sehari

Kepemimpinan adalah sebuah seni

Mau jadi orang sukses, harus bisa ngambil pelajaran dan hikmah dari setiap hal yang pernah dijalaninya. Sesederhana apa pun, nggak semua orang loh bisa dan terbiasa melakukannya. Hm, saya juga mau coba gitu deh. Kebetulan juga lagi pingin senam jari di atas keyboard laptop.

Nggak lama sih, tapi saya sudah memasuki dunia leadership. Mulai dari ikut pelatihan, workshop, organisasi intra dan extra kampus, jadi ketua tim, sampai jadi fasilitator leadership training juga. Alhamdulillah, kemampuan memimpin saya mungkin sudah di atas rata-rata, meski masih perlu banyak belajar dari pemimpin-pemimpin role model saya seperti Steve Jobs dan Bu Rektor saya.

Nikmatilah Hidup

Teman, mengapa harus berkeluh kesah..
Janganlah merasa selalu menderita..
Hidup ini indah, meski hanya sekali..
Nikmatilah, karena ini adalah anugerah..

Lihatlah ke bawah, jauh di sana..
Ada banyak saudara kita yang kurang beruntung..
Ketika kau merasa ibumu menjengkelkan..
Yang di sana, mungkin tidak pernah merasa punya ibu..
Ketika kau merasa kurang uang jajan..
Yang di sana, untuk makan sehari saja susah..
Ketika kau merasa bosan hidup..
Ada jutaan bayi yang tidak sempat menghirup udara bumi..

Salah Satu Cara Menjadi Bijak

Menjadi bijak itu emang gak semua orang bisa ngelakuin

Ya, sama. Saya juga masih belajar jadi bijak. Post ini terinspirasi dari sebuah kasus yang terjadi di kampus saya. Entah kenapa, jadi miris ngelihatnya. Saya sendiri tahu seberapa parahnya konflik ini baru hari ini. Telat banget yah? Maklum, udah angkatan tua, jadi jarang berkeliaran lagi di kampus. Hehe.

Menurut saya,

Salah satu langkah menjadi bijak adalah melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang yang berbeda

Itu yang saya coba lakukan setiap kali saya menilai sesuatu. Alhasil, saya jadi bisa lebih menghargai apa yang orang lain lakukan, dan tentu saja apa yang saya sendiri lakukan. Sebelum saya menilai orang lain, saya selalu memposisikan diri jadi orang yang saya nilai, bagaimana cara dia menilai saya. Saya juga memposisikan diri jadi orang lainnya, mencoba mengerti apa kepentingan dan maksud dari perkataan serta perlakuannya. Memang nggak gampang sih.

Change

Karena setiap manusia bisa berubah

Yang namanya perubahan, harus terjadi. Kalau nggak gitu, kita hanya akan stuck di satu tempat saja, nggak ada perkembangan. Perkembangan? Ya, sebaiknya perubahan itu menuju arah perkembangan. Seperti perkembangan software, dari versi 0.1, alpha, beta, RC, sampai final version.

Kalau di analogikan, manusia sepertinya juga akan sama. Seperti yang dibilang Budi Rahardjo waktu seminar di Semen Gresik, beliau saat ini sudah sampai Budi Rahardjo versi 3.0. Wah, 3.0 itu bukan suatu perkembangan yang mudah menurut saya. Kenapa?

Saya sendiri, saat ini merasa belum benar-benar menjadi versi 1.0. Sebab dipikir-pikir dari sisi kepribadian, saya masih belum stabil. Artinya, masih sering berubah dari satu kepribadian ke kepribadian lain. Atau mungkin, masih mencari jati diri. Kadang jadi pendiam, kadang rame banget. Kadang senang keramaian, kadang menikmati kesendirian.

Sekedar jadi buku harian saja, di post ini saya coba mereka ulang peristiwa-peristiwa yang cukup mempengaruhi saya untuk merubah kepribadian saya.

Ketika Ketenangan Hati Dibutuhkan

Cara saya mencapai ketenangan hati

Fyuh, lagi rehat garap proyek web bersama tim sebentar, disempet-sempetin nulis post ah. Setidaknya ini lebih baik daripada mikir masalah yang gak kelar-kelar itu. Eh, tapi apa mending ngerjain naskah majalah aja ya? Ya sudahlah, sudah terlanjur buka notepad buat nulis post.

Hari ini ada yang bilang di twitter, kok isi tweet saya ngedumel melulu sih. Haha, maaf-maaf. Memang lagi gak enak hati nih. Dengan mepetnya deadline, gundahnya perasaan, panasnya gresik, ditambah lagi bosennya PKL, apa-apa jadi bikin emosi. Untungnya saya kalo emosi cuma di hati dan dunia maya, nggak sampe berimbas ke sekitar. Tapi jadinya emang malah kepikiran sendiri. Dari kecil saya ini emang dasarnya kalo ada pikiran, lama hilangnya. Haha.

Ngomong-ngomong tentang emosi, bisa nyambung juga ke masalah ketenangan hati. Ya, ketenangan hati. Itu yang sedang saya butuhkan sekarang. Blog ini aja artinya adalah ketenangan Haqqi (HQ’s Serenity).

6789