Mengapa Entrepreneur, Bukan Freelancer?

Lagi getol-getolnya merintis usaha

Freelancer, sebenarnya juga termasuk sebagai Entrepreneur. Tapi di sini saya coba jelaskan dengan sudut pandang yang berbeda. Entrepreneur yang saya maksud di sini adalah pengusaha. Sebagai orang berbasic IT, maka di sini yang saya bahas adalah tentang Freelancer dan Entrepreneur di bidang IT. Tapi sekali lagi, tulisan di sini adalah murni dari pendapat pribadi saya, bisa salah, bisa benar. Tapi semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan diskusi.

Menjadi Freelancer IT, gak susah. Sekarang ini ada banyak website yang menawarkan jasa penghubung antara orang yang butuh pekerja dan orang yang butuh duit (baca: Freelancer). Contohnya banyak, ada Freelancer.com, 99Designs.com, RentaCoder.com, dan odesk.com. Dengan sedikit keahlian, kerja keras, dan sering-sering online, sudah bisa mendulang dollar dari situ. Sebagai contoh, si David baru saja dapat beberapa ratus dollar, cuma dengan desain background twitter. Menggiurkan? Memang. Saya juga kepingin. Tapi saya nggak memilih jalur itu.

Mengapa?

Jadi Freelancer, duit memang dapat cukup besar, untuk ukuran sendiri. Ya, maksudnya sendiri adalah 1 orang. Anggaplah bukan project berharga dollar. Kalau mau freelancer, anggap saja dapat kerjaan bikin website, dapatnya antara 1-2 juta. Lumayan kan kalau buat sendiri aja. Kita juga bisa bikin portfolio pribadi kita, sendiri. Dengan demikian, orang-orang akan banyak mengenal kita dan percaya dengan kita, sehingga akan ada lebih banyak lagi project freelancer datang ke kita. Wah, dapat duit lagi donk, tinggal kerja lagi aja. Toh mau kerja atau nggak, suka-suka kita karena nggak ada bos.

Ketika semakin banyak kerjaan yang datang ke kita, kita kewalahan, otomatis akan melemparnya ke teman kita. Ya kan? Alhamdulillah, itu berarti kita bisa membantu teman kita. Nama kita pun juga bisa lebih terkenal lagi, karena semakin banyak project yang kita handle atas nama kita. Ya, kalo nggak kreatif, semuanya akan berjalan begitu seterusnya. Seterusnya? Ya, sampai kita tua nanti.

Kalo saya sendiri, nggak mau kayak gitu terus. Bukan sombong, kalau saya mau, saya bisa belajar sendiri ilmu-ilmu praktis IT, nyari-nyari project sendiri, terus duit ya buat sendiri juga. Nama? Otomatis terkenal. Tapi bukan itu orientasi saya.

Sekarang ini saya lebih suka bekerja dalam tim. Mengapa? Sebab susah dan senang bisa dibagi-bagi ke teman-teman anggota tim. Dari segi duit, jelas hasilnya bakal dibagi ke sejumlah anggota. Lebih kecil memang. Tapi di sisi lain, tekanan kerja jadi lebih kecil. Expertasi juga bisa difokuskan ke satu hal saja, kemudian digabungkan dalam tim. Kreatifitas juga bisa lebih keluar dengan adanya tukar pendapat, seperti yang saya baca di artikel ini.

Tapi, tim juga bukan sekedar tim freelance atau kasarnya “projekan”. Saya berusaha membangun tim ini menjadi sustainable business. Saya investasi besar-besaran di sini. Bukan dalam hal duit yang terutama (maklum, baru bakal orang kaya), tapi dari segi waktu dan pikiran. Sengaja saya nggak nyari-nyari kerjaan freelance, untuk membangun tim ini. Orientasi saya, adalah investasi untuk masa depan.

Bersama beberapa teman yang mau saya ajak kerja bakti, saya mencoba merintis usaha di bidang IT. Saya beri nama usaha itu dengan nama mimicreative. Arti dari mimi adalah “Made in Malang Indonesia”, karena kami semua berasal dari kota Apel, Malang yang dingin. Belum berjalan terlalu pesat sih, karena kami juga nggak bisa ninggal kuliah kami, terutama berkaitan dengan kewajiban kami sebagai anak orang tua yang membayar biaya kuliah kami yang cukup mahal. FYI, kuliah kami di Ma Chung University satu semesternya bisa sampai 5juta. Alasan klasik lain adalah kami masih mendevelop keahlian kami.

Saya sendiri, yang memposisikan diri jadi koordinator dan manager tim, berusaha keras mempelajari ilmu ini. Saya harus bisa multi tasking, menjadi leader yang memimpin di depan, menjadi teman yang sama-sama belajar develop aplikasi, dan menjadi motivator yang mendorong dari belakang. Saya belajar tentang ilmu-ilmu management, yang notabene bukan basic saya. Saya juga tetap belajar teknis seperti PHP, CSS, Database, dan Ruby, serta setting server dan sebagainya. Saya juga mencari info-info seputar update teknologi, biar tim saya nggak ketinggalan teknologi. Sementara itu, saya tetap harus menjalani rutinitas kuliah yang semakin membosankan, aktif di berbagai komunitas biar nggak ketinggalan berita, dan sebagainya. Repot? Memang. Tapi saya enjoy di sini.

Balik ke masalah Entrepreneur vs Freelancer, dengan bisnis yang saya rintis ini, saya berharap bisa memperlancar “program 5 tahun pensiun” saya. Dari sudut pandang saya, kalau saya menjadi Freelancer, maka untuk bisa mendapatkan uang banyak, maka saya harus bekerja terus-terusan. Saya nggak mau gitu terus. Saya maunya secepatnya pensiun dan menikmati hidup. Karena itu yang mau saya bikin terkenal adalah bisnis saya. Dengan bisnis ini, artinya sistem akan terbentuk. Ketika sistem terbentuk, maka jika sudah solid, saya bisa melepas urusan teknis, sementara saya tetap mendapatkan income. Menarik bukan? Ya, tapi tentu saja dengan usaha yang nggak ringan.

Seandainya pun saya dapat kerjaan Freelance, yang sebenarnya bisa saya kerjakan sendiri, saya tetap melemparnya ke dalam tim. Alasannya? Coba baca ulang post ini dari atas. Hehe.

Sebuah pengorbanan besar untuk masa muda, tapi bukan berarti saya tidak menikmati masa muda saya. Saya masih tetap ngeband, jalan-jalan sama teman, dan sebagainya. Tapi ketika ada waktu senggang yang biasanya orang lain gunakan untuk main game, saya lebih milih baca-baca artikel yang bisa mengembangkan bisnis saya ini. Yang gak percaya, coba aja lihat folder game saya isinya apa. Paling cuma emulator NDS dan beberapa game saja, itu pun sudah jarang saya mainkan.

Nah, secara rinci, apa saja yang saya lakukan?

  1. Mengurangi fokus ke kuliah. Lihat saja nilai saya semester ini, pasti cukup hancur. Haha. Pengorbanan lah.
  2. Memperbanyak membaca artikel-artikel untuk kepentingan bisnis saya, termasuk yang berkaitan dengan kreatifitas dan management.
  3. Bergabung dengan banyak komunitas dan organisasi untuk memperbanyak teman. Sebab salah satu kunci kesuksesan bisnis adalah network. Beberapa komunitas dan organisasi di mana saya aktif namun nggak terlalu aktif juga:
    • Bloggerngalam.com – Komunitas Blogger Kota Malang. Ini sepertinya adalah komunitas umum pertama saya. Anggotanya terdiri atas berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, dosen, pekerja, pengusaha, bahkan sampai heker :p. Cukup banyak dapat pengalaman juga di sini.
    • Kolam – KPLI Kota Malang. Meskipun saya nggak terlalu ngerti Linux, saya join di sini untuk menambah ilmu dan kenalan.
    • Rotaract of Ma Chung University. Ini adalah klub sosial Rotaract yang ada di kampus saya. Dulunya sih aktif, tapi sekarang sudah jarang banget datang meeting karena kesibukan.
    • Koparema – Koprol Arek Malang. Ini komunitas yang baru saya ikuti, iseng-iseng aja buat nambah kenalan dan promosi bisnis.
    • AMA – Asosiasi Management Indonesia. Kenapa namanya nggak AMI aja? Saya juga bingung. Ini adalah asosiasi para manager se-Indonesia. Saya sementara ini join yang cabang Malang. Setiap bulannya akan ada seminar gratis bagi anggota, yang ternyata banyak membuka paradigma saya.
    • Macos – Ma Chung Open Source. Ini adalah komunitas yang saya dirikan sendiri sebagai tempat sharing terbuka bagi mahasiswa di kampus saya. Kata Open Source bukan merujuk kepada kode terbuka dari suatu software, melainkan bahwa filosofinya adalah di sini merupakan tempat berbagi, meng-open source-kan ilmu yang ada di pikiran. Karena salah satu motto saya, “Share more, Learn more”.
    • J-Zone Indonesia. Ini adalah komunitas pecinta budaya Jepang. Saya tergabung sebagai anggota di divisi musik, karena saya punya band yang sukanya main lagu-lagu Jepang. Nggak terlalu berperan di bisnis saya sih, tapi at least bisa menambah teman dan branding mouth to mouth. Lagian, anggotanya ramah-ramah dan peduli terhadap sesama anggotanya, terutama teman-teman saya di band Akatsuki. I love you full… πŸ™‚
    • Berbagai komunitas dan organisasi yang tidak bisa saya sebutkan semuanya.

    Tapi gimana-gimana, isinya ternyata 4L (Loe Lagi Loe Lagi). Haha. Orang yang suka komunitas ya ikutan terus banyak komunitas. Yang di organisasi formal itu pun sama, ketemunya ya sama orang itu-itu aja kebanyakan.

  4. Bergabung dengan forum-forum yang sejalan, serta milis-milis untuk berdiskusi dan mendapatkan banyak ilmu dari suhu yang lebih berpengalaman. Selain itu juga bisa membuat figur kita terkenal, tergantung bagaimana kita bersikap di milis tersebut. Beberapa milis yang saya aktif di dalamnya adalah:
    • IT Project Indonesia, tempatnya diskusi seputar project-project IT. Saya banyak dapat ilmu management software house di sini.
    • CodeIgniter Indonesia, kebetulan saya lagi getol-getolnya belajar framework PHP. Orang milis ini juga ramah-ramah dan suka berbagi. Saya dapat banyak ilmu programming PHP di sini.
    • StartUpLokal, tempatnya para pebisnis yang memulai sebuah usaha baru. Dapat banyak informasi hanya dengan membaca.
    • Bloggerngalam. Ini milis orang-orang gila. Haha, pokoknya banyak ngakaknya deh ikutan milis ini. Buat yang mau ikutan juga, hati-hati dengan ospeknya.
    • Berbagai milis dan forum yang tidak bisa saya sebutkan semuanya.
  5. Menabung untuk modal. Saya tetap melakukan pekerjaan rutin saya sebagai penulis di PC Media dan PC Mild. Tujuannya untuk mencari modal. Salah satu modal investasi yang terlihat remeh, adalah saya beli HP Android. Kesannya seperti banyak uang, tapi sebenarnya ini untuk investasi agar kegiatan mobile saya lebih bermanfaat dan sebagai alat bantu managerial yang cukup powerful. Artikel tentang Android ini akan saya tulis berikutnya.
  6. Membaca banyak buku pengembangan diri. Saya jadi suka membaca buku seperti karangan Krishnamurti, dan sebagainya tentang pengembangan diri. Saya baca terutama saat saya ada waktu kosong di mana saya nggak pegang laptop dan lagi males berproduktif dengan HP Android saya.
  7. Ikutan banyak seminar yang mendukung. Selain dapat sertifikat, dari seminar juga bisa dapat ilmu dan kenalan loh. Dengan itu kan bisa berbagi kartu nama sekaligus branding.
  8. Berdoa. Tidak lupa langkah yang satu ini demi ridho Allah SWT. Karena tanpa ridho-Nya, apa yang saya lakukan semua ini akan jadi sia-sia.

Mungkin masih banyak lagi hal-hal kecil berdampak besar yang saya lakukan untuk mewujudkan ini semua. Intinya adalah, saya investasi untuk hari tua. Saya mencoba memotong jalan dan fokus menjadi pebisnis, bukan pekerja. Tulisan tentang “program 5 tahun pensiun” mungkin akan saya share di post berikutnya.

Tapi, sekali lagi saya nggak suka mewujudkan ini semua sendirian. Saya nggak mau berada di atas cuma sendirian. Karena itu saya lebih suka melakukannya dalam tim. Cukup susah sih menggabungkan berbagai latar belakang dalam sebuah tim, terutama menyatukan visi dan misinya. Tapi jika saya sudah punya skill itu, mau bikin tim di bidang apapun saya pasti bisa. Semoga mimicreative ini bisa menjadi langkah saya menuju kesuksesan. Amiiin.

Think Big if You Want to be Big

8 Comments

Leave a Comment.