Ma Chung Story – Part 5 – Beranjak Keluar dari “Tempurung”

Mengenal besarnya dunia luar

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

Pertama kali ke naik pesawat terbang, ke Makassar…

Sebelum acara Dies Natalis kedua, sebuah prosesi di mana saya mendapatkan penghargaan tertinggi tahunan, saya mendapatkan sebuah kesempatan langka. Yayasan pemberi beasiswa saya, Van Deventer, akan mengadakan semacam pelatihan leadership untuk wilayah Indonesia bagian timur. Kampus saya mendapat jatah 2 orang dari 10 penerima beasiswa, melalui seleksi karya tulis. Alhamdulillah, saya lolos dan ternyata jatah untuk kampus saya nambah 1.

Perpisahan hari terakhir LC 5 Puntondo

Saya, Wendy, dan Pungky berangkat ke PPLH Puntondo di Makassar, untuk bertemu dengan teman-teman lainnya yang semuanya luar biasa. Ini pertama kalinya saya naik pesawat komersial, dan pertama kalinya ke luar pulau selain bali dan madura. Pelatihan berlangsung sekitar 10 hari, di sebuah pusat pendidikan lingkungan hidup, di pinggir pantai. Kawasannya cukup tertinggal, namun indah dan membuat nyaman.

Ma Chung Story – Part 4 – Puncak Prestasi di Dalam “Tempurung”

Besar di kandang, untuk bekal menantang alam…

Buat yang belum baca post sebelumnya, bisa diubek-ubek di sini:
Part 1 | Part 2 | Part 3

Prolog

Memasuki tahun kedua kuliah, bukanlah hal yang mudah. Saya masih mencari jati diri di lingkungan yang serba beragam itu. Masih dalam efek “pencarian sahabat sejati yang hilang”, saya berganti-ganti teman dekat. Dari yang seetnis, seagama, hingga yang beda etnis maupun beda agama. Bukannya SARA, tapi waktu itu saya memang sedang mencari tempat yang nyaman saya tinggali. Entah kenapa, nggak ada tempat yang benar-benar nyaman. Seperti kehilangan.

Saya nggak ambil pusing, yang penting hidup saya jalan dan jadi yang terbaik. Urusan akademis saya tetap saya jalankan dengan antusias. Urusan organisasi pun nggak ketinggalan. Bisa dibilang, saya over active di masa itu. Bukan demi apa-apa. Saya hanya senang. Itu saja.

Kedatangan di Jakarta Undangan ICT Watch

Sekedar melakukan reportase singkat

Berawal dari info singkat yang dipost oleh Sandy di milis Bloggerngalam, hasil copas dengan sumber detik.com, ternyata memang Internet Sehat akan mengadakan acara diskusi terkait etika berinternet. Awalnya hanya membaca sekilas berita itu dan lewat begitu saja. Eh tapi ternyata, berkat salah satu dedengkot Bloggerngalam (Sam Ardi), akhirnya komunitas saya ini mendapat undangan. Undangan dibuka untuk satu orang melalui milis.

Saya mengajukan diri dan menyatakan bahwa saya bisa (dari segi waktu). Dan ujung-ujungnya, memang saya yang berangkat karena saya ini pengangguran / pekerja serabutan / manusia bebas waktu. Berdasarkan konfirmasi dari pihak ICT Watch, saya memang sudah dimasukkan ke daftar undangan dan mendapat support untuk masalah transportasi dan akomodasi.

Reportase Halal Bihalal Bersama BloggerNgalam

Sebuah acara pengakraban diri Blogger Ngalam

Sudah tradisi, setiap tahunnya salah satu komunitas saya ini mengadakan halal bihalal. Seingat saya, sejak pendirian Blogger Ngalam sendiri yang secara semi-resmi adalah 29 Desember 2007 lalu, ini ketiga kalinya saya mengikuti halal bihalal. Pertama kali ikutan waktu 2009 lalu, di Rumah Makan Kanton sebelum pindah ke oro-oro dowo. Kedua kali ikutan waktu 2010 di Rumah Makan Kanton yang sudah pindah oro-oro dowo. Yang ketiga ini, nggak pindah juga, tetap di Rumah Makan Kanton yang di oro-oro dowo.

Secara jumlah peserta sih, tahun ini lebih sepi daripada tahun-tahun sebelumnya. Mungkin salah satunya gara-gara pemerintah yang agak galau waktu menentukan tanggal lebaran kemarin itu, jadinya banyak jadwal kegiatan pribadi yang bentrok. Keluarga saya juga jadi salah satu korbannya kok. Beberapa acara jadi bentrok, dan malah ada yang dirombak total dari rencana awal. Yah, seperti peribahasa, rakyat berusaha, pemerintah yang menentukan. Haha…

Reuni Merah Putih – Alumni MIN Malang 1 Lulusan 2001

10 tahun nggak ketemu?

Sepertinya sekali lagi saya harus terima kasih kepada Mark Zuckerberg, berkat Facebook yang bisa mempertemukan para teman lama. Entah kenapa, lulusan SD saya waktu itu nggak ada buku kenangan. Jadi bener-bener susah tuh kalau mau mengontak teman-teman jaman seragam merah putih itu. Saya sendiri, alih-alih jadi seorang networker seperti sekarang, dulu saya adalah pemalu yang lebih suka berteman dengan orang itu-itu aja. Dan karena dulu kelas dibuat ranking pararel, saya yang hampir selalu masuk kelas unggulan, ya temannya itu-itu aja.

Berawal dari celetukan salah seorang teman untuk mengadakan buka bersama melalui wall di group Facebook, saya pun ikut nimbrung mendukung hal tersebut. Ya seperti bisa diperkirakan, acara seperti ini pasti tingkat koordinasinya berada pada level yang sangat rendah. Jarang ada teman yang mau take in charge, mengingat hubungan emosional antar teman SD itu masih belum terlalu kuat.

Terima Kasih #Oblong

Reportase sederhana dari seorang ketua teraklamasi

Dua kegiatan yang cukup besar sudah selesai dijalankan. Keduanya, dengan codename #oblong. Berawal dari tawaran kerjasama dari Tim Sharing Keliling untuk menggelar acara dadakan di Malang, ternyata ini menjadi sebuah langkah awal yang cukup baik. #oblong pertama digelar dengan mengikuti alur yang direncanakan oleh Tim Sharing Keliling dari salingsilang.com.

Eits, #oblong itu apa sih? #oblong = OBrolan BLOgger NGalam. Sebuah nama yang tercetus dari nama-nama serupa seperti #obeng (Obrolan BENGawan), milik komunitas blogger bengawan. Pemakaian nama #oblong itu pula yang mempermudah publisitas dan branding acara, terutama untuk hashtag Twitter.